My Love For You [Chapter 4]

Posted: November 24, 2013 in Conflict, Family, Friendship, Marriage Life, Mellow, Romance
Tags: , , , , , , , , , ,

Chapter 5

“If god says no, then it’s a big no”

TaeYeon, Leeteuk / Romance, Friendship, Family, Mellow, Marriage Life / PG 15 +

Copyright@hyuna0590

- Note -

Keberadaan Taeyeon di kamar mandi yang cukup lama, membuat sahabat-sahabatnya mengkhawatirkan keadaannya. Bagaimana keadaan Taeyeon yang sebenarnya???

- Happy Reading -

Hari semakin larut, tapi Taeyeon belum juga keluar dari kamar mandi. Entah apa yang tengah ia lakukan di dalam sana, yang pasti ketiga orang yang tengah menantinya dari tadi tengah gelisah. Pikiran negatif pun sempat terlintas di benak mereka. Bagaimana tidak lima menit lebih Taeyeon di kamar mandi dan sampai sekarang masih belum juga kembali.

Ketiga orang itu dengan setia menanti kedatangan kakak tertua mereka. Selama apa pun akan mereka nanti. Meski perut mereka sudah mulai minta diisi, tapi apa boleh buat, mereka tak mungkin makan duluan. Tak enak rasanya membiarkan Taeyeon makan sendiri nantinya. Apalagi ia terkadang akan malas makan apabila tidak ada yang ikut makan bersamanya.

“Taeyeon lama sekali? Apa dia baik-baik saja”

Jessica makin tak tenang. Ia tak henti-hentinya menatapi detak jarum jam yang sudah menunjukkan tujuh menit. Tapi ia harus sabar, mungkin saja ia memang membutuhkan waktu yang lebih lama di kamar mandi dari pada yang lainnya karena tengah berbadan dua.

Bruuukkkk,..sebuah bunyi yang cukup keras menyejutkan ketiga sahabatnya, yang kala itu tengah setia menanti sembari menatapi makanan yang telah tersedia di meja makan. Bunyi itu terdengar dari arah kamar mandi. Langsung saja mereka berlarian menuju kamar mandi tempat Taeyeon berada. Sayang pintu itu terkunci dari dalam. Berkali-kali mereka mencoba membuka pintu itu, tapi kekuatan mereka tak sanggup untuk itu

“Taeyeon-aaaahhhh”, Jessica meneriaki namanya, tapi tak kunjung mendapat respon dari si pemilik nama.

“Bagaimana ini”, Yoona panik

Mereka pun terikat akan kunci cadangan yang selalu menjadi jalan keluar apabila hal seperti itu terjadi. Dengan cekatan Hyoyeon membongkar laci tempat kunci cadangan itu berada. Tapi kunci itu sangat sulit untuk ditemukan. Di dalam laci itu tidak hanya terdapat cadangan kunci kamar mandi, tetapi juga semua kunci cadangan di rumah itu.

“Hyon-ah cepat”, Teriak Jessica

Hyoyeon semakin mempercepat gerak tangan dan juga matanya. Selalu saja sulit untuk menemukan sesuatu yang dicari.

“Pinggir”, Perintah Hyoyeon saat menemukan kunci cadangan.

Yoona dan Jessica menghindar dari depan pintu itu dan mempersilahkan Hyoyeon untuk membuka pintu tersebut. Pintu terbuka dan disanalah mereka temukan sosok Taeyeon yang tergeletak tak berdaya di atas lantai kamar mandi.

“Taeyeon-ah”, Teriak Jessica dan Hyoyeon

Semuanya kalang kabut. Mereka panik. Genangan darah dan juga kondisi Taeyeon yang tak sadarkan diri membuat keadaan menjadi tak terkendali.

Dengan segera Hyoyeon meminta bantuan Yoona untuk menopang tubuh Taeyeon dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.

“Sica-ya, kau tolong hubungi Leeteuk oppa dan juga yang lain”, Pinta Hyoyeon.

Jessica mengikuti mereka dari belakang, sembari menghubungi orang-orang yang disebutkan Hyoyeon barusan. Tangannya yang gemetara membuatnya kesulitan untuk menekan tombol-tombol di ponselnya.

©   ©   ©

Yoona masih menangis dipelukan Hyoyeon dan Jessica. Mereka bertiga sangat cemas menunggu kabar dari sang dokter mengenai keadaan Taeyeon. Tapi sepertinya penantian mereka akan lebih lama karena hingga sekarang belum ada tandan-tanda bahwa dokter itu akan keluar dari ruang ICU.

Akhirnya satu persatu dari sekumpulan orang yang dihubungi Jessica bermunculan. SooYoung dan Yuri  menjadi orang pertama yang datang ke rumah sakit. Mata mereka terlihat telah memerah. Sepertinya mereka menangis selama diperjalanan.

“Bagaimana keadaan Taeyeon”

Sooyoung menghampiri ketiga orang yang masih saling berpelukan. Ketiga orang itu tak menjawab. Mereka hanya menangis. Sooyoung dapat mengerti. Sesekali ia mencoba mencari tahu keadaan Taeyeon dengan cara mengintipi aktivitas di dalam ruang ICU melalui jendela di pintu ruangan itu. tapi sepertinya ia tak mendapatkan informasi apa pun karena ia kembali dengan raut wajah yang tak senang.

“Leeteuk oppa sudah kalian hubungi??”, Tanya Yuri

“Tadi sudah aku telpon, tapi ponselnya tidak aktif”, Jessica kembali coba menghubungi suami sahabatnya itu.

Hyoyeon yang tadinya terlihat tegar dari pada Yoona dan Jessica, sekarang sudah berlinangan air mata. Ia tidak bisa lagi berfikir jernih, bayangan negatif tentang Taeyeon memenuhi benaknya. Yang ia butuhkan saat ini hanya sebuah berita, sebuah kepastian mengenai kondisi sahabatnya itu.

“Dokter bagaimana keadaan Taeyeon”

SooYoung langsung menghampiri sang dokter, ketika dokter itu keluar dari ruang ICU. Ekspresi dari dokter itu membuatnya semakin cemas.

“Suaminya mana?”

Dokter itu melihat sekeliling. Ia tak melihat satu pun laki-laki disana. Ia tak mungkin menceritakan keadaan Taeyeon secara detail kepada orang lain. Hanya suaminyalah yang berhak mengetahui fakta penting mengenai istrinya. Setelah itu terserah pada laki-laki itu, apakah akan menyimpannya sendiri ataukah akan membaginya dengan orang lain.

“Sedang dalam perjalanan dok, bagaimana keadaan Taeyeon?”

Kedelapan wanita itu mengelilingi sang dokter. Mereka bersama-sama menati keterangan sang dokter mengenai kondisi sahabat sekaligus rekan kerja mereka. Tapi sepertinya dokter itu sedikit berfikir untuk memberitahu keadaan Taeyeon kepada kedelapan wanita itu.

“Kami minta maaf. Benturan yang dialami Taeyeon-ssi sangat kuat dan itu menyebabkan pendarahan yang sangat hebat dan mengakibatkan terjadinya keguguran. Sekali lagi saya minta maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan bayinya”

Akhirnya dokter itu memberitahu mereka mengenai keadaan Taeyeon. Mereka tak percaya hal seperti ini akan terjadi lagi. Ada apa dengan mereka. Kenapa begitu sulit untuk menjaga titipan Tuhan itu.

Jessica terduduk. Ia tak percaya Taeyeon akan kehilangan janin yang sangat ia sayangi itu. Mereka tak tahu harus bersikap seperti apa padanya. Kejadian ini bukanlah yang pertama dan mereka paham betul bagaimana sulitnya menghadapi situasi ini.

“Eonni”

Seohyun menangkap tubuh Jessica yang akan tumbang ketika mendengarkan penjelasan sang dokter mengenai keadaan Taeyeon. Sama halnya dengan yang lain, ia juga tak tahu harus bagaimana menyingkapi keadaan seperti ini.

“Sica-ya”

Yuri juga ikut membantu sang bungsu menopang tubuh Jessica. Bersama-sama mereka membawanya dan mendudukkannya pada sebuah kursi yang tak jauh dari depan pintu ruang ICU, tempat Taeyeon berada.

“Ini tidak mungkin terjadi pada Taeyeon”, Jessica mengeleng-gelengkan kepalanya

“Seharusnya tadi aku menemaninya”

Jessica tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyesal tak bisa menjaga sahabatnya itu, hingga hal seperti ini terjadi.

“Semua ini bukan salahmu Jes”

Hyoyeon menghampirinya. Ia duduk di sebelah Jessica dan ikut menangis. Ia paham betul bagaimana perasaan sahabatnya itu saat ini. Bahkan ia sendiri juga merasakan hal yang sama karena mereka ada disana.

“Apa kami boleh menemuinya??”

Tiffany mendekati sang dokter sebelum dokter itu melangkah pergi meninggalkan mereka berdelapan. Ia ingin menemui sahabatnya itu dan ia juga ingin menghiburnya. Entah bagaimana caranya.

“Kalian boleh menemuinya, tapi saran saya jangan terlalu ramai. Keadaannya masih lemah. Ia juga masih syok dengan apa yang terjadi. Jadi tolong berhati-hati apabila kalian akan bertemu dengannya. Oh ya, nanti kalau suaminya sudah datang tolong suruh temui saya”, Ujar dokter sambil pergi meninggalkan mereka

Mendengar permintaan sang dokter, Yoona, Jessica, dan SooYoung memutuskan untuk tidak menjenguk Taeyeon terlebih dahulu. Mereka takut kalau Taeyeon akan tambah sedih. Mereka juga belum siap menemuinya. Mereka takut kondisi Taeyeon akan semakin drop apabila bertemu dengan mereka yang masih menitikan air mata.

Akhirnya hanya Sunny, Hyoyeon, Yuri, Tiffany, dan SeoHyun yang masuk untuk melihat keadaan Taeyeon. Perlahan-lahan mereka membuka pintu dan menyapa Taeyeon. Mereka tak mendapat respon darinya. Taeyeon juga membelakangi mereka sambil terus menangis.

“Taeyeon-ah”, Tiffany berusaha menghampirinya.

“Semua ini salahku”

Ia menyalahkan diri disela tangisnya. Ia  merasa tak bertanggung jawab atas apa yang diberikan Tuhan padanya. Ia gagal. Gagal untuk menjadi seorang ibu yang baik. Ia kehilangan buah hatinya, sebelum sempat melihatnya.

“Taeyeon-ah, ini semua bukan salahmu”, Sunny memeluknya

“Aku memang bukan ibu yang baik”, Taeyeon terus menyalahkan dirinya

“Kau ibu yang baik”

Lagi-lagi Tiffany berusaha menenangkan sahabatnya itu. semua yang tengah dialami taeyeon memang berat dan ia sendiri mungkin juga akan menyalahkan dirinya sendiri apabila hal itu terjadi padanya. Tak ada yang salah bila Taeyeon ini melampiaskan rasa sedihnya dengan menangis.

“Tuhan pasti sedang merencanakan sesuatu yang lebih indah untuk kalian”, Tiffany merangkulnya

Taeyeon masih saja menangis. Ia tak pernah membayangkan akan mengalami hal serupa seperti Yoona. Padahal dokter berkata kalau kandungannya baik-baik saja. Ia benar-benar tak percaya dengan takdir yang tengah ia hadapi.

Di luar, Yoona, Jessica, dan SooYoung masih menitikan air mata. Mereka bahkan tak menghiraukan pandangan orang yang melihat tingkah merekaa yang menangis secara bersama-sama di kursi depan ruang ICU.

“Taeyeon-ah”, Leeteuk yang baru saja datang langsung memanggil-manggil nama istrinya.

“Oppa,..”, SooYoung langsung berdiri dan menyapa Leeteuk

“Bagaimana Taeyeon??? Kenapa bisa begini?? Apa yang terjadi???”, Tanyanya tanpa henti

“Oppa, lebih baik oppa tenang dulu. Di dalam Taeyeon sedang  ditemani yang lain. Lebih baik oppa temui dokter dulu”, Usul SooYoung

Leeteuk langsung berlari menuju ruang dokter dan meninggalkan yang lain ditengah kesedihan yang tengah menyelimuti mereka.

“Kenapa bisa begini???”

KyuHyun yang baru saja datang bersama membernya yang lain langsung memeluk sang kekasih yang masih terisak. Ia paham kalau mereka sudah seperti saudara, maka dari itu apa yang tengah dialami salah satu dari mereka pasti akan menyakiti perasaan yang lainnya. Begitu juga dengan yang dialami Taeeyeon saat ini. Kekasihnya itu pasti ikut bersedih. Apalagi itu adalah keponakan pertama mereka.

“Dia tersandung sesuatu di kamar mandi oppa”

SooYoung mencoba menenangkan dirinya ketika sang kekasih menghampirinya. Ia berusaha mengendalikan pikirannya dengan bersandar di bahu KyuHyun. Hanya itu yang ia butuhkan saat ini. Berada di dekat sang kekasih ketika kesedihan melandanya.

KyuHyun mengelus lembut kepala sang kekasih. Tak ingin menambah kesedihan yang tengah ia rasa, maka dari itu sebisa mungkin ia membuat kekasihnya itu nyaman dan tak mengeluarkan apa pun yang dapat menyinggung perasaannya yang tengah sensitif.

Krrriiinnnggg Krriiiinnnggg….Tak jauh dari Kyuhyun dan Sooyoung, Yoona berdiri ketika mendengar ponselnya berbunyi. Sang suami menghubunginya ditengah kesibukannya syuting. Mungkin saat ini istrinya itu membutuhkannya, maka dari itu ia menghubunginya. Meski tak bisa datang menemuinya, tapi setidaknya ia dapat menenangkannya melalui telpon. Apalagi istrinya itu pernah berada di posisi Taeyeon satu tahun yang lalu dan itu pasti membuatnya tambah tak karuan. Bayangan masa lalu yang perih pasti kembali menghiasi benaknya.

“Yoona-ah”, Sapa Seung Gi

“Oppa”, Yoona menangis ketika mendengar suara sang suami.

“Kau tidak apa-apakan??? Atau oppa kesana sekarang”, Ujar Seung Gi

Yoona hanya menangis. Ia tak kuat menahan rasa perih yang tengah ia derita. Rasa perih atas apa yang baru saja menimpa kakaknya, sekaligus rasa perih akibat teringat akan janin yang dulu pernah ia kandung, yang sekarang sudah mendapatkan teman baru.

Mendengar tangisan sang istri, Seung Gi langsung memutuskan untuk menemuinya. Keadaan di rumah sakit mungkin sangat tak terkendali. Ia tak bisa membayangkan kesembilan wanita itu menangis bersama. Tak mungkin istrinya itu dapat tenang ketika yang lainnya tengah menangis.

Lima belas menit menemui Taeyeon, akhirnya Tiffany dan yang lainnya keluar. Mereka tak kuat berlama-lam melihat kondisi Taeyeon di dalam sana. Ia harus banyak istrirahat. Benar kata dokter, kondisinya masih lemah. Sesekali ia masih mengeluh kesakitan ditengah tangis yang tak kunjung reda.

“Oppa”

Tiffany menghampiri kekasihnya yang sedari tadi telah menunggunya di luar bersama yang lain. Sang kekasih menyambutnya dengan senyuman. Wajah kekasihnya itu memang tak sekacau yang lain, tapi ia dapat melihat kalau kekasihnya itu juga tak kalah terpukulnya dengan keadaan Taeyeon.

“Tidak apa-apa sayang”

Air mata Tiffany langsung turun ketika Donghae memeluknya. Sebelumnya ia sudah berusaha menahan air mata itu agar tak turun. Tapi setelah melihat kehadiran sang kekasih, semuanya pudar. Air mata itu akhirnya turun juga.

“Sudah, kalau seperti ini bagaimana kau bisa menyemangari Taeyeon”, Ujarnya

Tiffany mengangguk. Kekasihnya itu benar. Ia harus kuat. Bagaimana mungkin ia bisa menyemangati Taeyeon serta yang lainnya bila ia juga terpuruk. Cukup Taeyeon sajalah yang terpukul.

“Kalau beginikah oppa makin sayang”

Donghae membantu kekasihnya itu untuk membersihkan sisa air mata yang masih betah bersemayam di mata sang kekasih.

Satu persatu dari kedelapan wanita itu mulai tersenyum ketika sosok yang mereka cintai datang memberikan dukungan. Mereka tak pernah mengharapkan akan hal itu. Tapi mereka dengan senang hati berkunjung, sekedar melihat kondisi Taeyeon saat itu.

“Oppa”

Yoona langsung mengejar Seung Gi ketika melihatnya dari kejauhan. Entah kenapa ia merasa sangat rindu dengan pria yang telah baru tadi pagi ia temui. Air matanya tumpah ketika suaminya itu memeluknya. Ia bahkan tak bisa mengangkat kepalanya ketika sang suami memintanya.

“Kwinchana-yo”

Ia menyeka air mata sang istri. Berharap agar air mata itu cepat hilang dan segera digantikan dengan senyuman manis sang istri.

©   ©   ©

Dengan rasa cemas, Leeteuk menemui sang dokter. Sang dokterpun mempersilahkannya duduk. Dengan sangat hati-hati, sang dokter memulai perbincangan.

“Sebelumnya saya turut berduka dengan apa yang baru saja dialami istri anda. Saya dan para tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kandungan istri anda, tapi karena benturan yang dialami istri anda sangat keras, maka dari itu sekali lagi kami sangat menyesal untuk memberitahu anda bahwa kemungkinan istri anda untuk hamil lagi itu sangat kecil. Hanya sebuah keajaibanlah yang bisa membuat istri anda dapat hamil kembali”, Terang dokter itu

Setelah mendengarkan penjelasan dari sang dokter, Leeteuk langsung berlari mengejar sang istri. Perkataan dokter itu terus terngiang dibenaknya ketika hendak menghampiri sang istri.  Sesampainya di dalam kamar, Leeteuk langsung memeluk istrinya itu sambil menitikan air mata.

“Maafkan oppa sayang”

Leeteuk membelai lembut kepala sang istri. Ia merasa kasian dengan apa yang baru saja dialaminya. Betapa ia merindukan senyuman manis Taeyeon, yang baru tadi pagi ia terima dan sekarang malah air mata yang menyambut kedatangannya. Tapi ia tak mungkin menyalahkan istrinya atas apa yang terjadi. Semua sudah menjadi takdir illahi dan mereka harus bisa menerima kenyataan itu.

“Semua ini salahku, kalau saja aku tidak sibuk, pasti kau tidak akan celaka”

Leeteuk menyatukan kepalanya dengan kepala sang istri. Ia bisa merasakan isakannya. Meski tak terdengar lagi tangisan darinya. Taeyeon sudah mulai tenang sekarang. Perlahan ia sudah mulai mencoba untuk menerima kenyataan.

“Oppa”, Ia membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. Tak sopan rasanya membelakangi suaminya itu.

“Bagaimana penampilan oppa tadi”

Ia mengalihkan pembicaraan. Sepertinya ia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan di depan sang suami. Ia bahkan tak ingin meneteskan air mata di depan suaminya itu, meski sebenarnya ia ingin. Ia berusaha tegar di depannya. Berusaha menerima takdirnya.

“Ooo,..penampilan tadi baik-baik saja. Oppa dapat peringkat pertama”

Ia paksakan untuk tersenyum. Melihat ekspresi sang istri yang menyambutnya dengan senyuman, membuatnya juga tersenyum. Ia bersyukur karena istrinya itu masih bisa tersenyum dengan sangat manis dikala kesedihan yang mendera.

Taeyeon menyentuh wajah suaminya sembari memandanginya dengan penuh makna. Air mata yang sedari tadi sengaja ia tahan akhirnya tumpah juga. Rasa perih yang cukup dalam membuatnya tak sanggup untuk menahannya.

Leeteuk sempat berniat untuk memberitahukan Taeyeon akan kondisinya yang sebenarnya. Tapi ketika melihat sang istri kembali menangis, ia mengurungkan niatnya itu. mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat. Sekilas ia sempat berfikir kalau keadaan istrinya itu telah pulih karena tebaran senyum yang selalu ia berikan ketika itu. Tapi sekarang lain cerita, ternyata ia menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

“Jangan menangis sayang. Oppa tidak masalah kalau kita tidak memiliki anak asalkan kau baik-baik saja”, Ia mengecup kening sang istri.

“Iya oppa”, Taeyeon kembali mencoba untuk tersenyum.

“Kalau begitukan lebih baik”

Ia memeluk istri itu. Semoga luka yang tengah melanda keluarga kecil mereka segera pergi. Hanya kebahagiaan dan kegembiraanlah yang akan selalu menghiasi kehidupan rumah tangga mereka.

©   ©   ©

Hari-hati setelah keguguran membuat semangat Taeyeon sedikit berkurang. Rasa sedih yang ia derita selama beberapa hari ini masih belum masu beranjak darinya. Tak tahu sudah berapa macam cara dilakukan oleh suaminya dan juga sahabat-sahabat terbaiknya. Tapi kondisi Taeyeon tak kunjung ceria. Terkadang mereka berfikir, mungkin situasinya masih terlalu cepat bagi Taeyeon untuk mampu merelakan kepergian janinnya. Bagaimana tidak, peristiwa itu baru tiga hari berlalu dan tentu saja masih sulit baginya untuk melepaskan semua itu.

Tiga hari berlalu, tiga hari pula Leeteuk di buat kewalahan menghadapi sikap sang istri yang tak mau makan. Kalau pun mau, itu hanya satu suap. Tidak lebih. Entah cara apalagi yang harus ia lakukan, agar istrinya itu bisa sembuh seperti sedia kala. Terkadang ia kesal dengan sikap sang istri yang tak bisa mengikhlaskan apa yang terjadi. Emosi pun sempat ia tunjukkan pada wanita pujaannya itu. Tapi apa yang terjadi, bukannya berubah membaik, tapi Taeyeon malah makin larut dalam kesedihannya.

“Eonni”

Yoona yang ditemani sang suami menjenguk kakak seperjuangannya itu. Taeyeon dan Leeteuk menyambut kedatangan pasangan itu dengan bahagia. Ia kembali berusaha untuk mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Mencoba move on dari takdir yang diberikan sang ilahi.

“Yoona-ah”, Taeyeon tersenyum bahagia menyambut mereka berdua.

“Bagaimana keadaanmu sekarang???”

Pasangan itu membawakan satu pot bunga, yang dipercaya Yoona dapat mempercepat pemulihan Taeyeon. Entah dari mana ia mendapatkan kepercayaan seperti itu, tapi yang jelas ia pernah mengalami hal itu. Seseorang juga pernah memberikannya bunga itu ketika masuk rumah sakit satu tahun yang lalu dan aroma khas nan harum yang dikeluarkan oleh bunga tersebut mampu membuat kondisinya yang ketika itu tengah lemah berangsur-angsur pulih. Mungkin karena aroma sejuk dan tenang yang dihasilkan bunga itu yang membuat pikirannya menjadi lebih tenang.

“Beginilah oppa”, Taeyeon memperlihatkan kondisinya pada tamunya

“Eonni, tadi aku mampir ke toko bunga dan aku belikan bunga ini untukmu. Bunga ini dipercaya dapat mempercepat penyembuhan”, Yoona menunjukkan bunga biru muda yang tadi ia dan suaminya belikan untuk Taeyeon.

“Gomawo Yoona-ah, gomawo oppa”

Ia raih bunga tersebut. Sedikit mencium dan juga membelai lembut daunnya yang tidak terlalu besar, tapi cukup indah apabila dipasangkan dengan kelopak bunga yang tidak terlalu besar pula.

“Wangi sekali”, Ujarnya ketika selesai mencium bunga tersebut

“Bunga itu mengeluarkan aroma yang mampu menyejukkan hati. Semoga keadaan eonni bisa lebih tenang ketika menghirup aroma itu”, Terangnya.

Yoona pun mengambil bunga yang tadi berada di tangan Taeyeon. Ia meletakkannya di atas meja sebelah kasur Taeyeon. Berharap agar aroma sejuk dari bunga tersebut dapat dengan mudah merasuki hidung sang kakak.

“Oppa kenapa lari ke sana??? Bukankah tadi oppa sedang menyuapi eonni”

Yoona menatap Leeteuk yang perlahan-lahan menjauh dari istrinya. Padahal sebelumnya ia tengah menyuapi istrinya dan ketika Yoona dan suaminya datang, ia seakan memberi jarak pada kedua orang itu untuk lebih leluasa melihat dan berkomunikasi dengan istrinya itu.

“Bukankah tadi kau yang menyuruh oppa pindah”, Ujar Leeteuk

“Oppa bercanda”

Yoona mengaruk kepalanya, mencoba mengingat apakah benar ia yang telah menyuruh Leeteuk pindah dari samping istrinya. Ia pun segera mundur dan mempersilahkan Leeteuk untuk kembali berada di sebelah sang istri.

“Aku sudah kenyang oppa”, Taeyeon menolak makan yang diberikan sang suami

“Kenyang dari mana?? Kau baru makan dua suap”, Leeteuk kembali menyodorkan makanan untuk sang istri

Taeyeon mengelengkan kepala. Ia merasa sudah kenyang saat ini. Perutnya seakan tak mau lagi diisi, padahal sebelumnya ia merasa sangat kelaparan karena tak makan selama hampir dua hari berturut-turut. Ia akui nafsu makannya kala itu hilang.

“Eonni harus banyak makan, biar cepat sembuh”, Yoona membujuk Taeyeon.

“Untuk apa aku sembuh”

Tiba-tiba saja Taeyeon mengejutkan semua orang. Sifatnya yang tadi ceria sekarang kembali tak terkendali. Sama persis seperti beberapa hari yang lalu. Tak ada yang akan menyangka kalau keceriaan yang ia tunjukkan hari itu hanya bertahan sebentar, bahkan tak sampai setengah jam.

“Eonni jangani seperti itu! aku juga pernah berada di posisi seperti ini dan aku bahkan pernah akan bunuh diri, tapi kemudian aku teringat akan orang-orang yang selalu setia menyayangiku. Mereka selalu memberiku semangat kalau keguguran bukanlah akhir dari kebahagiaan. Bahkan itu merupakan awal dari terciptanya kebahagiaan yang abadi. Eonni percayalah

Perkataan Yoona mampu membuat air mata Taeyeon keluar. Ia tak pernah membayangkan kalau adiknya itu sempat mengalami stress yang lebih parah darinya. Ia mungkin sedih dengan apa yang terjadi, tapi tak ada satu pun niatannya untuk mengakhiri hidupnya. Semua perkataannya itu hanyalah untuk meluapkan kesedihannya.

Ia pun menatapi sang suami yang telah siap untuk memberinya makanan. Tak ingin terus menyakiti perasaan orang-orang yang ia sayangi, akhirnya Taeyeon pun kembali mau menerima suapan sang suami. Perkataan Yoona sedikit banyaknya mampu membuat matanya terbuka. Setidaknya ia memiliki orang yang mengerti bagaimana perasaannya saat itu.

©   ©   ©

Seminggu di rumah sakit, sekarang waktunya bagi Taeyeon untuk meninggalkan semua kenangan pahit disana. Ya, beberapa jam yang lalu sang dokter memberitahukannya bahwa kondisinya saat ini sudah baik dan ia sudah diperbolehkan untuk pulang. Rasa bahagia pun tak bisa ia utarakan siapa pun. Ia senang sekali bisa bebas dari rumah sakit yang baginya tak mengenakkan. Baunya seakan-akan membuatnya tambah sakit.

“Kau sedang apa??”,

Leeteuk yang baru saja kembali dari aktivitasnya heran melihat sang istri yang sudah tak lagi berbaring di atas ranjangnya. Tapi yang membuatnya terkejut bukan hanya itu, tapi kegiatan sang istri saat itu yang tengah sibuk merapikan barang-barang bawaannya.

“Aku sedang membereskan barang-barangku oppa. Tadi dokter bilang kalau aku sudah boleh pulang”, Taeyeon tersenyum bahagia.

Leeteuk terlihat bahagia mendengarkan apa yang baru saja disampaikan oleh sang istri. Sudah lama sekali rasanya ia tak melihat istrinya itu tersenyum bahagia seperti saat itu. Tawa dan senyumannya seakan tak pernah hilang. Ia sangat bersyukur atas kesehatan yang kembali dirasakan oleh sang istri.

“Taeyeon-ah”, Pintu kamar rawatnya terbuka.

Ditengah rasa bahagia yang melanda kedua pasangan itu. Seseorang datang berkunjung. Tiffany dan Sooyoung datang menemui Taeyeon. Sembari membawa beberapa camilan mereka masuk dan menyapa kedua orang yang tengah sibuk berbenah.

“Kau sudah boleh pulang???”, SooYoung langsung saja bertanya ketika melihat tas besar sudah terpajang dengan indah di dekat ranjang rawatnya.

“Iya, kata dokter aku sudah boleh pulang”, Ujar Taeyeon bahagia

“Kita harus merayakan hal bahagia ini”, Tiffany juga tak kalah bahagianya.

“Untuk beberapa hari ini, Taeyeon tidak boleh kemana-mana”

Leeteuk merusak senyuman manis yang tengah dipamer oleh ketiga wanita cantik itu. Ia belum bisa mengizinkan istrinya itu untuk bergerak terlalu banyak. Ia masih khawatir kalau kondisi kesehatan sang istri kembali menurun. Dokter pun berkata agar tak membiarkan Taeyeon beraktivitas terlalu berat terlebih dahulu. Setidaknya untuk beberapa hari kedepan.

“Oppa”

Taeyeon merajuk. Ia tak terima sang suami melarangnya untuk bersenang-senang dengan sahabat-sahabatnya. Sudah lama sekali ia tak bersenang-senang dengan mereka. Mungkin sejak hamil dahulu ia sudah jarang menghabiskan waktu bersama mereka.

“Kau harus banyak istirahat”, Leeteuk mengecup kening istrinya itu dan meninggalkannya bersama sahabat-sahabatnya.

Taeyeon menatap SooYoung dan Tiffany tak senang. Ia merasa bersalah tak bisa mengabulkan keinginan sahabatnya itu. Meskipun sebenarnya ia sangat ingin melakukan hal itu. Setidaknya sebelum kegiatan mereka benar-benar menyita semua waktu sengang.

“Bagaimana kalau pestanya kita adakan ketika kau sudah benar-benar pulih”, Usul Tiffany

“Benarkah”, Taeyeon kembali tersenyum bahagia

“Pasti. Lagi pula kalau sekarang tak semuanya bisa kumpul”, Ujar SooYoung

“Memangnya siapa yang tak bisa datang?”, Taeyeon coba mengingat jadwal sahabat-sahabatnya

“Yuri sedang di Jepang. Dia sedang bersama kekasihnya. Mereka sedang kerja disana. Selain itu Yoona juga sedang di Taiwan.”, Terang SooYoung

“Yoona ada acara apa di taiwan?”, Tanyanya lagi

“Seung gi oppa bilang mereka mau honeymoon lagi, tapi kata Yoona mereka ada pekerjaan disana. Aku tak tahu harus percaya pada siapa”, Jelas Tiffany bingung.

Mereka bertiga sama-sama memikirkan fakta yang benar mengenai pasangan suami istri yang satu itu. Terkadang penjelasan yang diberikan Yoona tak selalu sama dengan suaminya. Mereka selalu berkata kalau Yoona mendapatkan suami terbaik karena selalu bisa mengimbangi sifat Yoona yang tak bisa ditebak. Tapi seung gi, pria itu dapat mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh istrinya itu. Mungkin itulah yang dinamakan cinta sejati.

“Pasangan itu memang selalu tak jelas”, Ujar Tiffany yang sukses membuat mereka tertawa.

“Biarkan saja. Mereka juga jarang bisa bersama seperti itu”, Sambung Sooyoung

“Iya kalian benar. Eh, bagaimana dengan Yuri? Sepertinya mereka benar-benar serius”, Taeyeon mengungkit kejadian beberapa bulan yang lalu.

“Iya, sepertinya mereka tidak main-main. Mereka juga sudah mengurus berkas-berkas pernikahan”, Terang SooYoung

“Pernikahan???? Siapa yang nikah??? Kau SooYoung???”

Leeteuk yang baru saja kembali setelah mengurus semua administrasi terkejut mendengarkan kata pernikahan yang terlontar dari mulut Sooyoung. Ia sama sekali tak tahu menahu kalau akan ada pernikahan diantara sahabat istrinya itu.

“Aku harap begitu oppa, tapi sampai sekarang ia belum menunjukkan tanda-tanda untuk itu”, Sooyoung menautkan bibirnya

“Oppa belum tahu?”,Tiffany memandang Taeyeon

“Aku sudah pernah cerita. Aku pikir dia mendengarkanku, tapi ternyata aku hanya bicara sendiri”, Terang Taeyeon sambil menatap sang suami

Leeteuk bingung. Ia merasa tak pernah mendengar cerita apa pun dari sang istri mengenai rencana pernikahan itu. Apakah ia terlalu sibuk hingga tak pernah lagi duduk bersama hanya sekedar menikmati secangkir teh, sembari berbincang-bincang.

“Kau pernah cerita”, Leeteuk memutar otaknya.

“Kapan???”

Ia bekerja keras untuk mengingat kejadian itu. Taeyeon menatap Leeteuk yang tengah berusaha mengingat kejadian itu. Ia membiarkan suaminya itu berfikir keras. Mungkin sekali-kali ia harus membantu untuk memulihkan ingatan sang suami.

“Aku benar-benar tak bisa mengingat kapan”

Taeyeon menatap Leeteuk. Ia tak mengucapkan apa pun. Hanya sebuah pandangan sebagai isyarat agar sang suami kembali memainkan memori otaknnya untuk mencaritahu kapan hal itu terjadi.

To Be Continue

Kira-kira bagaimana ya suasana pernikahan Yuri dan Jang Geun Seuk????

Tunggu kelanjutannya ^_^

Oh iya, aku tunggu ya kritik and saran dari pembaca sekalian

Khamsahamnida

http---signatures.mylivesignature.com-54492-198-DFA94A137106D830CAD4297F5A59CA05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s