[SongFic] Different

Posted: May 25, 2014 in Friendship, Mellow
Tags: , , ,

Taeyeon-2011-Singles-Magazine-P-s-E2-99-A5neism-29695127-1327-1600

Kim TaeYeon / SNSD / PG 15

– Note –

Sebelumnya aku pernah memposting cerita yang sama, tapi diperankan oleh Choi SooYoung. Sekarang aku ingin posting ulang dan yang mainin Kim TaeYeon ^_^. Menurut kalian yang paling cocok siapa???

Cerita ini terinspirasi dari lirik sebuah lagu yang berjudul “Different” yang dipopulerkan oleh TaeYeon dan juga Kim Bum Soo. Lagu ini bagiku sangatlah sedih. Semoga kalian semua dapat mengerti arti lagunya dari FF ini. Meskipun tidak 100% dapat mewakili lagunya, tapi beginilah intinya ^_^.

– Happy Reading –

Apalah artinya cinta ketika aku tak merasakan kebahagian. Egois, mungkin itulah yang bisa kalian nilai dari diriku. Wanita mana sih yang tidak mau diperhatikan, dimanja, dan selalu disayang oleh kekasihnya. Ya, semua itu juga aku inginkan. Tapi kenapa semuanya jadi seperti ini. Dulu dikala tahun-tahun awal kami bersama, ia selalu membuatku bak wanita yang paling beruntung didunia ini. Tapi sekarang, jangankan memanjakanku dengan semua kata-kata cintanya. Bertemu denganku saja sangatlah jarang. Aku tidak tahu alasannya kenapa, aku tidak mau berfikir negatif terhadapnya. Jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan ternama di Korea Selatan membuatku berfikir bahwa kesibukannyalah yang membuat semua ini terjadi.

Hari ini, adalah hari ulang tahunku. Tapi sepertinya ia melupakannya. Sesibuk apa sih sebenarnya ia, sehingga tidak bisa menghubungi atau bahkan mengirimi pesan selamat ulang tahun. Semua itu tidaklah lama.

“TaeYeon-ah chukkae”, Ucap teman dan juga keluargaku.

Pesta ulang tahun tanpa kehadirannya. Sedih sekali. Dulu ia pernah berkata kalau ia akan melamarku tepat di hari ulang tahunku, tapi apa buktinya sekarang, ia malah melupakanku. Sudah hampir seminggu aku tdak tahu dimana dan sedang apa dia sekarang.

Rasa cinta itu sebenarnya masih besar untuknya, tapi setiap aku mengingat ataupun mendengar namanya dari siapapun, dadaku terasa sesak. Sangat sesak, hingga nafasku menjadi tak teratur. Air mata selalu berjatuhan bila mengingat semua tentangnya. Sarangi apa, cinta itu memang menyakitkan. Menyakitkan bila orang yang sangat kamu cintai menjauh dan bahkan tidak berkata sepatah katapun. Sangat meyakitkan.

“Taeng-ah”, SooYoung menyapa dan menghampiriku.

Ia ternyata menyadari bahwa sedari tadi aku termenung menatapi jalanan lampu-lampu kota. Aku menatapnya, ingin menangis, tapiku tahan.

“Kamu yang sabar Taeng!! Mungkin oppa sedang sibuk dan belum bisa menemuimu”, Aku menarik nafas dalam-dalam. Harus berapa kali aku mendengar kata-kata itu. telingaku sudah bosan dan letih mendengar perkataan yang tidak ada buktinya.

“Sudahlah Taeng, aku sudah letih dengan semua ini”, Ku tinggalkan ia.

“Taeng-ah”, Ia menarik tanganku. Ku tepis dan segera beranjak dari hadapannya.

“Oppa, aku ingin bertemu denganmu sekarang”, Ku ketik sebuah pesan singkat untuknya.

Dadaku terasa sesak saat ini. Sudah cukup aku menyimpan semua ini. Aku ingin memberitahunya tentang semua yang aku rasakan. Rasa sakit yang ia berikan kepadaku. Rasa sakit yang harusku rasakan selama lebih dari 2 bulan.

#  #  #

Aku duduk disebuah kursi yang tak jauh dari apartementku, menanti kedatangan pria itu. Pria yang telah membuat hatiku sakit.

“Ada apa?”, Ujarnya ketika duduk tepat disebelahku. Ia mengenggam tanganku lembut.

“Oppa, aku ingin kita putus”, Ku lepas genggamannya.

“Apa maksudmu?”, Ia membalikkan tubuhku menghadapnya.

“Apa kurang jelas oppa? Aku ingin kita akhiri semua ini”, Ku ulangi perkataanku.

“Tapi kenapa? Apa oppa salah?”, Ujarnya.

“Iya oppa, semua ini salahmu”, Ingin sekali ku utarakan kalimat itu.

“Oppa tidak bisa berpisah denganmu begitu saja”, Ia membawaku kedalam pelukannya.

“Oppa lepaskan!!”, Ku tarik tubuhnya menjauhiku.

“Chagiya, jelaskan semuanya?”, Ia melepas pelukannya.

“Oppa ingin tahu kenapa??”, Tanyaku. Ia mengangguk.

“Oppa, ada rasa sakit disini, setelah pertengkaran terakhir kita”, Ku remas dadaku.

“Mianhae”, Ia merengkul kembali tubuhku.

“Sudah cukup oppa. Itu bukan sekali, tapi setiap kita bertengkar oppa selalu mengeluarkan perkataan yang memilukan itu”, Tangisku. Ia terus memelukku, tanpa mengizinkanku untuk melepaskannya.

“Maafkan oppa sayang. Oppa terlalu emosi hingga menyebutmu wanita yang tidak benar. Oppa minta maaf karena telah kasar kepadamu”, Ujarnya.

“Sudahlah oppa, lebih baik kita akhiri semua ini. Aku sudah tidak sanggup menjalani semua ini lagi. Rasa cintaku sudah pudar. Pertama aku mungkin bisa memaafkanmu oppa, tapi sekarang, maaf, aku tidak bisa lagi bersamamu”, Ku lepas pelukannya dengan paksa dan pergi meninggalkannya.

Langkah kakinya di belakangku terus terdengar. Rasa cinta itu mungkin belum hilang 100%, tapi sikap kasar dan juga mulut kasarnya itu tidak bisaku terima lagi.

“Oppa tinggalkan aku, carilah wanita yang bisa menerima sikap dan mulut kasarmu itu”, Ujarku sebelum memasuki mobil. Ia memukul-mukul jendela mobilku, menyuruhku untuk membuka jendela itu dan untuk tetap berada disampingnya.

Ku turunkan jendela mobilku, “Mulai detik ini jangan pernah hubungi ataupun mencariku lagi. Melihat wajahmu membuat hatiku sakit”, Ucapku.

#  #  #

Ku hempaskan tubuhku di atas kasur. Semua air mata yang sempat tertahap, kini akhirnya keluar dan mungkin member-memberku yang berada di dorm dapat mendengarkan raunganku. Sakit, sangat sakit. Aku telah salah memilih. Ia memang terlihat baik dari luar, tapi sikapnya, tidaklah setampan wajahnya.

“TaeYeon-ah”, Jessica mengedor-ngedor pintu kamar.

“Kamu baik-baik sajakan?”, Tanyanya. Aku tak menjawab.

Tangisan membuatku susah berbicara. Saat ini aku tidak peduli dengan lingkunganku. Rasa sakit dan perih itu membuatku tak berdaya. Tuhan, kenapa aku bisa sebodoh ini? Kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang sepertinya? Apakah ini hukumanmu padaku?.

“TaeYeon-ah”, Jessica memelukku setelah berhasil masuk.

Iapun ikut menitikan air mata melihat kondisiku. Ku keluarkan semua air mata yang hendak keluar sore itu. Jessica dan beberapa memberku yang lain berusaha menenangkanku. Ini keputusan yang terbaik, aku harus bisa melewati semua ini. Ini keputusanku, aku tak boleh menangisi sesuatu yang aku inginkan.

“Yaetteura”, Ku peluk mereka semua.

“Ada apa? Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa ia telah menyakitimu lagi?”, Tanya Tiffany.

“Aku telah mengakhiri semuanya”, Ujarku

“Bagus. Dia memang tidak layak untukmu”, Tiffany mengelus lembut rambutku

Beruntung aku memiliki delapan orang sahabat, bahkan aku sudah menganggap mereka sebagai saudaraku sendiri, yang selalu mendukung setiap keputusanku. Mereka selalu ada disaat aku butuhkan.

“Gomawo, aku tidak tahu akan jadi apa aku bila tidak ada kalian”, Ujarku.

“Yaaa… TaeYeon-ah. Kita ini satu, apapun yang terjadi kami pasti mendukungmu. Suka maupun duka”, Ujar Yuri.

Cinta, kata itu bukanlah kata yang selalu memberikan kebahagiaan pada yang merasakannya. Cinta, terkadang dapat menimbulkan rasa sakit yang sangat dalam dan butuh waktu untuk menghilangkannya. Orang bilang cinta itu buta. Mungkin aku salah satu korbannya. Aku sudah dibutakan dengan cintanya. Aku tahu dan paham dengan sifat dan mulut kasarnya, tapi entah kenapa aku memilihnya. Satu tahun cukup bagiku untuk menyadari semua itu. Menyadari perlakuannya yang kasar.

The End

Bagaimana????? Ga jelas ya ceritanya bagaimana ehheh,…

Ini pertama kalinya aku buat SongFic, maklum kalau belum sempurna ^_^

Khamsahamnida

http---signatures.mylivesignature.com-54492-198-DFA94A137106D830CAD4297F5A59CA05

 

Advertisements

coconut

Tittle : That is Love

Main cast : Kim Taeyeon and Leeteuk

Other cast : SNSD dan Super Junior

Gendre : Romance

Rate : PG 17+

POV : TaeYeon, Leeteuk POV + Author POV

– Note –

Hi

Aku kembali lagi nih. Setelah beberapa hari yang lalu aku post tentang wedding Taeteuk, nah sekarang aku lanjutin nih perjalanan honeymoon mereka. FF ini bisa dibilang sequel dari FF-ku sebelumnya “Nona Kim to Nyonya Park”.

Semoga kalian suka ya ^_^

-Happy Reading –

– Taeyeon –

Pengantin baru, ya itulah statusku dan Leeteuk oppa saat ini. Setelah menikah beberapa hari yang lalu, sekarang kami resmi menjadi sepasang suami istri. Pasangan suami istri yang sah secara agama dan juga negara. Aku tidak pernah menyangka kalau hal seperti pernikahan ini akan terjadi padaku. Bahkan bisa dibilang aku member kedua yang melepas masa lajangku setelah Yoona tentunya. Aku bahagia dapat menjadi istri dari seorang Leeteuk, leader dari boy group terkenal, tidak hanya di Korea, tetapi juga diseluruh penjuru. Ia juga menjadi leader kami, leader SMTown. Aku sendiri sebenarnya juga seorang leader, tapi kepemimpinanku tidak seperti dirinya. Ia sangat piawai dalam mengurusi ke-10 orang membernya. Aku terharu sertiap kali ia menunjukkan sisi wibawanya itu. Mungkin itu pulalah yang membuatku jatuh cinta padanya. Jatuh cinta tak lama setelah ia menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang warga Korea Selatan yang taat, Wajib Militer.

“Oppa kita mau kemana?”, Tanyaku memasang sabuk pengaman. Ia membantuku dan mengecup bibirku lembur. Hanya itu yang ia lakukan, tanpa menjawab pertanyaanku satu katapun. Ku hembuskan nafas kesal. Kenapa ia harus merahasiakan semua ini dariku. Aku ini sudah resmi menjadi istrinya. Tidak seharusnya ia merahasiakan sesuatu kepadaku.

“Oppa”, Ku panggil ia sekali lagi. “Kamu lihat saja”, Jawabnya singkat.

Ia terus melajukan mobil sedan hitam miliknya itu. Sesekali ku pandangi sederet papan penunjuk jalan. Sangat penasaran. Satu kata yang mencuri perhatianku di papan itu “Gimpo Int. Airport”. Ku berikan ia tatapan penuh tanda tanya. “Oppa”, Ucapnya menunjuk papan berwarna hijau itu. Ia hanya tersenyum melihat tingkahku yang kebinggungan.

– Leeteuk –

Dari kursi pengemudi, aku bisa melihat wajah istriku yang penasaran dan binggung. Ia dia adalah istriku sekarang. Akhirnya aku berhasil meyakinkannya untuk menikah denganku.

Beberapa kali ia bertanya tentang tujuan kita, tapi aku bungkam. Tidak ingin membongkar surprise yang sebentar lagi akan ia terima. “Oppa”, Ia memanggilku sambil menunjuk sebuah papan berwarna hijau. Sepertinya ia mulai mengetahui arah kami saat ini. Ya, aku memutuskan untuk mengajaknya berbulan madu ke Jeju. Tempat yang sangat ingin ia kunjungi saat berbulan madu.

“Chaaa… Kita sudah sampai”, Ku bukakan sabuk pengamannya dan menyuruhnya turun. Ia berulang-ulang kali memandangku heran. Sepertinya ia belum memecahkan teka-teki yang aku susun. “Ayo”, Ku ulurkan tanganku meraih tangannya. “Oppa kita ke bandara untuk apa?”, Tanyanya heran. Ku bimbing ia menunju tiga orang yang sangat kami cintai, Ommaku dan juga orang tuanya.

“Omma, Appa”, Sapanya dari kejauhan. Ia melepaskan genggamanku dan berlari mengejar kedua orang tuanya. Aku mengikutinya. Ia lagi-lagi menunjukkan ekspresi itu.

“Taeyeon-ah, jungsoo-ah, kalian hati-hati disana”, Ucap ommaku. Ia makin heran mendengar perkataan ommaku. “Sebenarnya ada apa ini?”, Tanyanya. “Ya, jungsoo-ah, kamu tidak memberitahu istrimu?”, Omma menatapku heran. “Aku belum sempat omma”, Aku tertawa melihat ekspresinya yang sangat lucu kalau sedang heran seperti sekarang ini.

Ia mendekatiku, mendorongku hingga akhirnya aku tersandar pada sebuah pagar dan apabila ia tidak menghentikannya, mungkin aku sudah terjatuh ke lantai bawah. “Kamuuu..”, Ia menunjukku tepat dihidung.

Perhatian-perhatian, kepada penumpang jeju air dengan nomor penerbangan JIA 345 jurusan pulau jeju, kami persilahkan untuk segera memasuki ruang tunggu.

– Taeyeon –

Ternyata dia sudah merani melakukan ini semua padaku. Park jung soo, tunggu pembalasanku.

Ku ambil koper berwarna ungu tua dari tangan appaku. “Appa omma, kami berangkat dulu”, Ucapku mengecup pipi kedua orang tuaku. “Kalian hati-hati disana. Pulang jangan lupa bawa oleh-olen ya”, Pesan omma. “Tenang omma, aku akan membelikan omma jajanan khas jeju yang banyak”, Ujarku. “Bukan itu maksud omma. Omma mau kamu memberikan kami hadiah seorang cucu”, Bisik omma. Tapi sepertinya suara omma terlalu keras untuk disebut sebagai sebuah bisikan.

“Tenang saja ommonim, akan aku pastikan itu. Betulkan chagiya”. Ia merangkulku. “Siapa yang kau sebut chagiya?”, Ucapku melepas rangkulannya. “Ya, KIM TAEYEON”, Ku dorong koper berukuran sedang itu dan pergi meninggalkannya.

#  #  #

Selama di pesawat, tidak ku pandang pria itu. Aku masih kesal dengan sikapnya yang merahasiakan honeymoon ini. Sebenarnya aku sangat bahagia dengan hadiah yang ia berikan ini, tapi kenapa harus dirahasiakan. Kenapa ia tidak terus terang saja padaku. Aku juga tidak akan menolak.

“Agassi anda mau minum apa?”, Seorang pramugari menawariku. “Jus jeruk terima kasih”, Balasku singkat. Dengan sekejap ia memberikan jus jeruk permintaanku. “Bagaimana dengan tuan di sebelah anda?”, Tanya sang pramugari menunjuk suamiku yang sedang tertidur pulas. Aku mengelengkan kepalaku. Pramugaripun meninggalkan kursi kami.

Meneguk jus pemberian sang pramugari, ku tatap awan siang yang begitu indah. Awan yang sangat cantik berpadu dengan birunya langit. Di bawahnya aku dapat melihat daratan, atap-atap rumah warna dan juga lahan-lahan pertanian.

Sesekali ku palingkan wajahku melihat paras pria disebelahku ini. Ku belai lembut rambutnya. Ku kejup keningnya. Tak lupa pula ku sentuh alis natanya yang tidak terlalu panjang. Huu…uup, tiba-tiba tanganku digenggam seseorang. Yap, pria itu adalah orangnya. Sepertinya ia terbangun karena ulahku yang jahil. Dengan cepatku ambil kembali tanganku dan berpaling darinya.

– Leeteuk –

Sentuhan lembutnya di kepala dan juga alisku mampu membuatku terjaga dari tidurku. Sentuhan penuh cinta, itulah yang aku rasakan. Perlahan ku buka mata. Ku raih tangannya, tapi genggamanku tidak terlalu kuat hingga membuat ia dengan mudah melepaskannya. “Kamu mulai nakal ya, menggoda tidurku”, Ucapku tersenyum nakal.

Ia berpaling dariku. Entah apa yang ia lihat di bawah saja, tapi yang pasti aku ingin ia menatapku saat ini. Ku pegang kedua bahunya dan ku buat ia menatapku sempurna. “Saranghaeyo”, Ucapku. Ia masih menatapku tajam. Ku dekati wajahnya, seakan-akan ingin menciumnya. Ketika jarak antara wajahku dan wajahnya semakin dekat, ku lihat matanya mulai tertutup. Aku tersenyum. “Yaa..aa kamu kenapa menutup matamu? Kamu pikir aku akan menciummu?”, Ku jauhkan wajahku dari wajahnya.

Ia kembali menatap ke luar. Sepertinya ia tambah kesal atas sikapku. Tapi entah kenapa aku sangat menyukai paras wajahnya ketika lagi kesal. “Minumanku mana?”, Tanyaku melihat ke meja. Ia tidak menjawab. “Baiklah kalau begitu, aku minum saja minumanmu”, Ku ambil jus jeruk dari mejanya. Anehnya tak ada respon dari wanita cantik ini. Apakah kejahilanku sudah terlalu parah. Gawat nih kalau kesalnya tidak hilang-hilang. Bisa-bisa bulan madu kita terancam gagal. Bagaimana aku bisa memberikan oleh-oleh permintaan omma.

“Taeyeon-ah”, Ku sapa ia. Ia menatapku. Ia tersenyum setelah namanya dipanggil. “Oppa ga mianhae. Oppa sudah membuatmu kesal”, Ujarku. Ia kembali memberikanku sebuah senyuman. Hatiku berdetak kencang. Senyumannya indah sekali. Selalulah tersenyum seindah ini isrtriku.

“Oppa”, Akhirnya ia mengeluarkan suaranya. “Aku tidak marah, hanya saja aku kesal kenapa oppa merahasiakan ini semua dariku”, Tanyanya. “Mianhae”, Hanya ucapan maaf yang keluar dari mulutku. “Apakah hanya mianhae yang bisa kau ucapkan?”, Tanyanya. Aku diam, tak menyangka kalau ia akan membuatku tersudut seperti saat ini.

Ku raih tubuhnya dan ku peluk. “Sudahlah, mari kita nikmati bulan madu kita. Lagi pula kita harus memberikan oleh-oleh yang diminta omma”, Bisikku. “Oppa”, Ia menepuk dadaku. Aku bisa melihat wajahnya memerah setelah mendengar bisikanku.

#  #  #

– Taeyeon – 

Senyumku tidak pudar semenjak keluar dari pesawat. Aku sangat bahagia menghabiskan hampir 2 minggu bersama pria yang sangat aku cintai. Ditambah lagi kami akan menghabiskannya di pulau jeju. Pulau yang terkenal dengan keindahan alamnya. Tapi ada satu yang aku sayangkan, kami datang ke jeju ketika akhir musim gugur. Aku jujur saja menyukai suasana seperti ini. Suasana yang sangat romantis.

Ku buka pintu hotel. Pemandangan laut langsung mencuri mataku ketika membuka pintu. Air laut yang berwarna hijau sekaligus biru itu sangat indah. Tanpa membantu oppa membawakan barang-barang, aku langsung berlari menatap indahnya pemandangan. “Ya..aa KIM TAEYEON”, Teriaknya. Aku menghiraukan teriakkan itu. Pemandangan pantai bagiku saat ini lebih penting daripada suamiku sendiri.

“Opp…”Ucapanku terputus ketika tubuhku dipeluknya. Aku terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. “Pemandangannya sangat indahkan?”, Tanyanya sembari meletakkan dagunya di bahuku. “Terlalu indah oppa”, Jawabku. Sesaat kami larut dengan pemandangan yang menakjubkan itu. “Gomawo”, Ucapku singkat. “Kaja kita makan”, Ia menarik tanganku. Ku ikuti arahannya. Perutku dari tadi memang sudah minta diisi.

– Author –

Dinner pertama Taeyeon dan Leeteuk di habiskan disebuah restoran yang berhadapan langsung dengan pantai. Pasangan pengantin baru ini terlihat sangat menikmati dinner mereka. Leeteuk sengaja memilih tempat yang disukai istrinya karena ia merasa bersalah karena telah membuat istrinya itu kesal. “Bagaimana, kamu suka makanannya?”, Tanya Leeteuk. “Enak oppa”, Taeyeon menyantap lahap makanannya. Leeteuk tersenyum. Ia bersyukur istrinya itu menyukai dinner mereka.

“Habis ini kita mau kemana oppa?”, Tanya Taeyeon, setelah menyelesaikan santapannya. Leeteuk menatap Taeyeon memberikan sebuah kode. “Kemana oppa?”, Tanyanya lagi. Sepertinya Taeyeon tidak mengerti dengan kode yang diberikan suaminya itu. “Bagaimana kalau kita istirahat saja di kamar”, Balas Leeteuk. Taeyeon mengangguk.

– Taeyeon –

“Oppa..aa kau apa-apaan ini”, Ia mengendongku. Aku risih ketika semua orang yang berada di koridor lantai 5 menatap kami. “Oppa turunkan aku”, Pintaku untuk kesekian kalinya. “Sudahlah, kamu diam saja”, Balasnya singkat. Aku terkejut mendengarkan balasannya itu. Ada apa dengannya? Jangan-jangan???? Otakku langsung berputar ke satu hal itu. Apalagi kalau bukan hal yang seharusnya dilakukan ketika tengah berbulan madu dan itu adalah hal yang umum bagi sepasang suami istri.

Tanpa basa-basi, ia mengendongku hingga ku rasakan kasur telah menggantikan gendongannya. “Oppa”, Sapaku. Ia tersenyum menatap wajahku yang mulai cemas. “Tenang saja chagi”, Ujarnya singkat. Ia beranjak dari depanku dan mematikan lampu.

#  #  #

– Author –

Tak terasa sudah seminggu mereka menghabiskan kebersamaan di pulau nan indah itu. Beberapa hari lagi mereka harus kembali ke Seoul dan kembali bekerja. Liburan sudah berakhir. Sebelum packing, Leeteuk mengajak Taeyeon mengunjungi sebuah toko yang menjual berbagai macam souvenir khas jeju. Seperti layaknya wanita pada umumnya, Taeyeon terlihat mundar-mandir kesana kemari, mencari barang-barang yang akan ia berikan pada orang-orang yang ia cintai. “Oppa ini bagus tidak?”, Tanyanya untuk ke sekian kalinya. “Kamu mau beli berapa banyak?”, Tanya Leeteuk yang mulai pusing dengan sikap sang istri. “Aku ingin membelikannya untuk satu SM”, Jawabnya. “Yaa..aa Taeyeon-ah. Apa kamu sudah gila? Itu banyak sekali. Kenapa kamu tidak membeli tokonya saja sekalian”, Leeteuk kesal. “Oppa”, Taeyeon mulai menangkap sinyal kesal dari wajah suaminya. “Ayo cepat pilih”, Perintah Leeteuk. Taeyeon hanya mengambil sebanyak membernya dan juga member suaminya. Ia tidak mau melihat suaminya tambah kesal dengan sifatnya yang mulai gila kalau berhubungan dengan belanja.

“Kajja oppa”, Taeyeon mengajak suaminya itu pergi setelah membayar semua belanjaannya. Di jalan Leeteuk tidak banyak bicara. “Oppa mianhae”, Ujar Taeyeon memecahkan keheningan. “Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan. Lebih baik kita sekarang kembali ke hotel dan merapikan semua barang-barang”, Leeteuk menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan pusat perbelanjaan itu.

– Taeyeon –

Lagi-lagi aku membuatnya kesal, tapi sungguh tidak ada niat sedikitpun untuk membuatnya kesal seperti tadi. Aku sadar aku salah. Ia tidak mengeluarkan banyak perkataan ketika kami sedang packing. Apakah ia sekesal itu denganku. Entahlah, aku sudah kehilangan akal untuk membujuknya. “Oppa apa kau masih marah denganku”, Tanyaku mendekatinya. “Tidak, oppa tidak marah padamu”, Jawabnya tanpa ekspresi. Itu tentu saja membuatku kesal. “Terus kenapa oppa diam seperti ini? Oppa seperti tidak bersemangat berada di dekatku”, Ucapku menundukkan kepalaku.

Ia mendekatiku. “Oppa senang berada di dekatmu. Oppa mau kamu terus berada di dekat oppa”, Ia memelukku. “Oppa saranghae”, Ujarku dalam pelukkannya. Ia memperdalam pelukannya, seakan-akan tidak memberiku peluang untuk beranjak dari tubuhnya.

– Leeteuk –

Ku peluk erat tubuhnya yang hangat. Meskipun musim sudah berganti, namun aku berharap agar cinta kami tak akan berganti. Aku ingin seperti ini selamannya. Bersama wanita yang sangat aku cintai.

Tanpaku sadari sekarang kami sudah berada di tempat tidur. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, yang pasti aku tidak akan melepaskan pelukan ini. Pelukan yang membuatku hangat dan tenang. “Taeyeon-ah saranghae”, Bisikku, sebelumku mulai sentuhan demi sentuhan pada dirinya.

– The End –

Woooww,..

Selesai juga. Semoga kalian suka ya ♥♥

Aku tidak tahu apakah ini honeymoon special apa tidak.

So, bagi yang sudah membaca jangan lupa tinggalin kritik dan sarannya ya

LOL

Khamsahamnida

Dongjae0590

 

Judul : Nona Kim to Nyonya Park

Gendre : Romance, Friendships

Length : One Shot

Rate : PG 17+

Main Cast : Leeteuk [Suju], TaeYeon [SNSD]

Supporting : SNSD

– Note –

Hai hai,..

Kali ini aku buat FF yang simple hehe,..

Karena lagi banyak tugas, tapi pingin buat FF. Jadilah FF One Shot yang simple ini ^_^

Alurnya simple dan nyantai banget. Monggo dibaca ^_^

– Happy Reading –

Di sebuah taman yang tak jauh dari kantorku, ia melutut sembari berkata,”Will you marry me???”. Kata-kata itu. Kata-kata yang sudah lama aku nantikan, akhirnya keluar juga dari mulut indahnya. Aku membeku, meskipun di dalam aku bergetar dan memanas. Terkejut dengan lamarannya yang begitu mendadak.

Aku masih membeku menatapnya. Menatap sosok pria yang sudah mewarnai hidupku lebih dari 2 tahun belakangan ini. Dia mengenggam tanganku, dielusnya jari kurus dan panjang milikku itu. Ia menatapku, menunggu jawaban. Ku lepaskan genggamannya dan ku pegang bahu lebarnya. Sedikit menundukkan badan, ku pinta ia untuk berdiri. Tak berapa lama, sekarang ia sudah berada tepat di depanku. Menatap aku yang sebentar lagi akan menitihkan air mata.

“Uljima”, Ucapnya sembari mengelus pipiku yang mulai dibasahi air mata. Air mata apa ini?. Apakah aku sudah siap lahir dan batin untuk menjadi seorang istri dan kelak juga akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

“Kamu tidak mau menikah denganku?”, Ucapannya membuatku menatap dirinya. Aku harus jawab apa?. Sejenak aku terdiam. Menunduk, memikirkan kata-kata yang tepat.

“Aku sangat ingin menikah denganmu, tapi..”, Ia menghentikan perkataanku. Dengan bibir dinginnya, ia mencium bibirku. Mengisyaratkan kalau semuanya akan baik-baik saja.

Ku lepaskan ciumannya dan ku elus lembut wajah pria yang baru saja melamarku itu. “Oppa, apakah kau berjanji akan membuatku bahagia?”, Ucapku sambil tetap mengelus wajah itu.

“Tentu saja oppa akan terus membuatmu bahagia”, Ucapnya membelai rambut panjangku.

Aku tersenyum dan akhirnya aku jawab pertanyaannya itu. “Baiklah oppa. Aku mau menikah denganmu”.

Raut wajah bahagia terpancar dari wajah tampan priaku. Aku yakin, ini adalah keputusan yang tepat.

“Gomawo chagi-ya”, Bisiknya. Tangan kekar itu merangkulku dan kemudian mengangkatnya hingga kakiku sekarang tidak lagi menapaki tanah. Ia mengangkatku, memberikan ciuman hangat, dan mengajakku berputas dalam pelukannya.

“Oppaa~~aa~aa”, Teriakku memukul-mukul bahunya. Kepalaku mulai pusing akibat perbuatannya itu. Tidak hanya itu, tatapan orang-orang disekeliling kami membuatku malu. Malu karena ia terus berteriak kalau kami akan menikah. “Oppa turunkan aku!!! Orang-orang melihati kita”, Ujarku setelah ia berhenti berputar.

“Biarkan saja, biar mereka tahu kalau kita akan menikah”, Ia tersenyum bahagia.

#  #  #

“Chukaeee~~eee~~eee”, Ucap member-memberku. Syukurlah mereka menerima keputusanku. Keputusan yang awalnya sangat sulit aku putuskan.

Tiffany mendekatiku dan memelukku, disusul oleh Sunny, dan kemudian kami bersembilanpun berpelukkan. Senang rasanya bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang aku cintai. “Terima kasih banyak”, Ujarku. Tak terasa air mata mulai mengenangi mata besarku. Air mata itupun akhirnya jatuh dan membasahi bahu milik Tiffany. Ia langsung melepaskan pelukannya itu. “Kamu menangis”, Ujarnya setelah menyadari tetesan air mataku membasahi bahunya. Aku tersenyum.

“Kamu tidak perlu menangis. Simpanlah air matamu untuk pernikahanmu nanti”, Yoona menyapu air mataku. Aku paham apa yang ia maksud. Aku telah menyaksikan betapa harunya sebuah prosesi pernikahan. Aku yang waktu itu menjadi bride’s maid Yoona tak kuasa menahan air mata ketika melihat salah satu dongsaengku itu diberkati dan mengucapkan janji sehidup semati didepan Tuhan. Itu baru menjadi seorang pengiring pengantin, belum menjadi mengantin.

“Kapan rencananya kamu akan menikah?”, Tanya Sunny memecahkan lamunanku. Ku tatapi wajah memberku satu per satu dan memberikan mereka sebuah senyuman manis. “Kami belum menemukan hari yang tepat”, Ujarku.

Tingg~~gg Tongg~~gg

Bell dorm kami berbunyi. Yoona dengan perut buncitnya berjalan mendekati intercom. “Eonni, ada Leeteuk oppa”, Ujarnya sembari membukakan pintu dorm.

“Chukaee oppa”, Teriak member-memberku.

“Gomawoo yo. Kalian harus bantu kami ok”, Suara itu mulai terdengar mendekatiku. “Kamu sudah siap chagi”, Ujarnya. Aku terkejut dan menatapnya heran, “Kita mau kemana oppa”, Tanyaku.

“Hari inikan kita sudah janji mau ngurus gaun dan taxido”, Ia menatapku tajam. “Aku lupa oppa”, Ujarku dengan sedikit aegyo.

“Yaaa~~aa~~ KIM TAEYEON jangan sampai kau lupa dengan hari pernikahan kita”, Ia menepuk pantatku ketika aku lewat di depannya. “Oppaa~~aa”, Pekikku menerima perlakuannya. Akupun segera bergegas dan meninggalkan dorm.

#  #  #

Setelah menyelesaikan semua jadwal yang tertera di dalam list yang memang sudah jauh-jauh hari aku rancang, kami memutuskan untuk rehat sejenak di sebuah cafe yang tak jauh dari taman kota. Bibir ku tidak henti-hentinya menebarkan senyuman. Aku sangat bahagia.

Ku teguk cappucino yang tadi ku pesan. Rasanya sangat manis, semanis hari ini. Aku bisa merasakan ia menatapku tiada henti, tapi aku malah menatap ke luar cafe.

“Gomawo-yo”, Kehangatan aku rasakan ketika tanganku ia pegang. Ia mengelus-elus tangan munggilku. Sesekali ia angkat dan ia cium. Aku tersenyum merasakan bibir basahnya menyentuh jari-jariku.

Ia kembali mengelus tanganku. Tak cukup sampai disana, tangan putihnya juga merapikan tatanan ponisku. Membuat hatiku bergetar. Ingin rasanya aku berlari memeluknya, tapi ku urungkan.

Malam semakin larut. Tangan ku tak henti-hentinya ia gandeng hingga akhirnya kamipun tiba di depan dorm ku. Ia mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Memasukkanku ke dalam pelukannya. “Saranghae, “Bisiknya ketika tubuhku menyentuh dada bidangnya. Ku alihkan wajahku menatapnya, tersenyum dan ku berikan sebuah kecupan tepat di bibir birunya. ia menatapku heran ketika bibirku mulai beranjak menjauhi bibirnya. Ia memelukku semakin dalam. Sedalam ciuman yang ia berikan kepadaku. Di depan pintu dormku, ia melumat dan menikmati manisnya bibir munggilku. Akupun pasrah menerima ciumannya, tapi sepertinya ia tidak terima akan kepasrahaan. Ia mengigit bibir bawahku dan menepuk pinggangku, menyuruhku untuk membalas ciumannya.

Tidak tahu berapa lama kami saling melumat satu sama lain. Pintu dormku tiba-tiba saja terbuka. Membuat kami melepaskan bibir satu sama lain.

“Kalian sudah pulang”, Sapa SooYoung yang terkejut melihat kami berdua.

Akupun melepaskan pelukkan, tapi tidak berhasil. “Sudah, kamu mau kemana?”, Tanyaku melihat dandanan di wajahnya.

“Hmmm~~~”, Ujarnya dan kemudian pergi berlalu. “Yaaa~~aaa SooYoung-ah”, Teriakku memanggil keras namanya.

“Sudah biarkan saja”, Ujar oppaku. Ku tatap pria yang sangat aku cintai itu. Tak ingin rasanya aku lepas dari pelukkannya. “Oppa pulanglah”, Ucapku sembari memasukkan kode pintu. “Baiklah”, Balasnya singkat.

“Oppa aku mas…”, Mulutku kembali ia kunci hingga aku tak bisa menyelesaikan ucapanku. “Ehhmmm…”, Ku dorong tubuhnya. “Oppa sudah cukup. Pulanglah!!! Member-membermu pasti sudah menanti, Sambungku.

“Baiklah”, Ucapnya.

Iapun akhirnya pergi dan menjauh dariku. Setelah ia memasuki lift dan pintunya tertutup, barulah aku ke dalam dorm.

#  #  #

Tingg~~gg Tongg~~gg

Bell dormku tiba-tiba saja berbunyi. “Siapa ini pagi-pagi sudah bertamu”, Gerutuku dalam hati. Dengan mata yang masih belum terbuka sempurna, aku membuka pintu. “TaeYeon agashi?”, Ucap orang itu. “Nae”, Aku menatap pria yang telah menganggu tidurku itu. “Ini ada kiriman dari G Wedding dress”, Ucap pria itu menunjukkan sederetan gaun yang tergantung rapi.

Ku persilahkan pria itu mengantarkan gaun itu. “Letakkan disana saja”, Ujarku menunjuuk sofa. Setelah selesai pria itupun pamit dan pergi meninggalkan aku dan juga gaun-gaun itu.

“Siapa sih yang ribut-ribut pagi-pagi gini”, Omel Jessica membuka penutup matanya. “Waaaa~~aa, gaunnya sudah sampai”, Sambungnya.

Gaun pengantin dan juga pengiring yang satu bulan lalu aku pesan akhirnya selesai juga. Hari bahagia itu tinggal hitungan hari. Membuatku semakin deg-degan. “Apakah aku tidak salah dalam mengambil keputusan ini?,” Pikirku untuk kesekian kalinya.

“Ini keputusan yang tepat kok”, Sebuah suara mengejutkanku. Yoona yang baru saja tiba di dorm diantar sang suami langsung menarik tanganku dan mendekati member yang lain. Mereka terlihat sibuk mencari gaun milik mereka. Gaun berwarna pink ia pilihkan untuk ke-8 membernya. Warna yang melambangkan group mereka.

“TaeYeon-ah ayo coba gaunmu, nanti kalau ada yang kurang pas bisa diperbaiki sekarang”, Tiffany menyerahkan gaun putih yang bagian atasnya terbuat dari kain brokat. Aku dekati Tiffany. Ku ambil gaun putih itu dan ku coba. Gaun itu pas sekali dengan tubuh munggilku.

“Kau cantik sekali”, suara itu kembali terdengar, setelah beberapa hari tidak aku dengar. Ku tatap pria tampan itu dari depan cermin. Air mata mulai berjatuhan. Aku sangat merindukan pria itu. Pria yang dalam 3 hari lagi akan menjadi milikku selamanya. “Wae ureo”, Ucapnya mendekatiku. Ku paksakan tersenyum.

“Oppa bogossipeo?”, Ia mendekatiku. Aku menunduk, tak berani menatapnya. Ku rasakan tubuh kekar itu memelukku. Memberikan sebuah kehangatan sekaligus ketenangan pada diriku. Aku terus menangis. “Sudahlah kamu tidak usah menangis lagi. Oppa sudah disini sekarang”, Ucapnya. Tangisku makin terisak. Dengan lembut ia mengelus punggungku. Sungguh aku sangat merindukan semua ini. Merindukan pelukan dan belaian mesra darinya.

Perlahan ia mengangkat wajahku, hingga aku menatap kedua bola mata itu. Bola mata yang sangat indah. Masih memegang daguku, ia mengecup bibirku yang mulai basah terkena air mata. Tanpa sadar mataku tertutup menikmati lumatan-lumatan yang ia lakukan. Ia mulai mendorongku dan akhirnya aku terjatuh ke tempat tidur dengan posisi dibawahnya. “Oppa, ini belum saatnya”, Ucapku mendorongnya. Ia kembali mendekat dan mencoba menciumku lagi. “Opaaa~~aaa”, Ujarku menepuk pundaknya.

“TaeYeon-ah”, Sapa seseorang mendekatiku. Reflek, akupun mendorong oppa hingga terjatuh dan tertidur disebelahku. “Kalian ngapain??”, Tanya Sunny yang memergoki kami. Ia mendekati dan membawaku ke kamar Yuri.

“Ada apa?”, Tanya Yuri yang terkejut melihat tanganku ditarik paksa Sunny. “SoonKyu-ah, aku tidak melakukan seperti apa yang kamu bayangkan”, Jelasku. Ku pegang tangannya dan aku ajak dia duduk. “Aku tahu dia akan menjadi suamimu, tapi jangan sampai kamu melakukan yang seharusnya belum kamu lakukan”, Terangnya.

“TaeYeon-ah”, Yuri langsung berdiri dan menatapku. Ku balas tatapan tajam milik Yuri. Aku tahu apa yang tengah dipikirkan oleh kedua memberku ini. “Kalian percaya padaku. Yang kamu lihat tadi bukanlah apa-apa”, Aku kembali menatap Sunny. “Aku percaya. Aku tahu kamu tidak akan melakukan yang tidak semestinya”, Ucapnya membalas tatapanku.

#  #  #

“Kamu kenapa?”, Tatapku melihat Yoona memegang perut buncitnya. “Semoga saja ia tidak mengagalkan pernikahanku, “Gumamku. “Babynya aktif banget akhir-akhir ini eonni”, Terangnya. Ku hampiri ia dan kubungkukkan tubuhku kearah perut buncitnya. “Aegya, kamu baik-baik ya disana. Jangan sakiti ommamu. Nanti pesta imo jadi berantakan. Arraseoooo”, Ucapku sambil mengelus-elus perutnya. Aku dapat mendengar ia menarik nafas dalam-dalam. Ia mungkin ingin memukulku, tapi tidak berani. “Nae imo”, Jawabnya membalas ceramahanku pada babynya.

“Eonni chukaeee~~ee”, Ucapnya. Aku tersenyum menatap wajah tirusnya. Ku elus pipi putihnya sembari berkata, “Gomawo Yoona-ah”. “Pokoknya eonni nanti harus tinggal dekat aku, arraseo?”, Ucapnya. Aku mengangguk, mengiyakan permintaannya.

Mempelai wanita silahkan bersiap-siap. Acara pemberkatan akan segera dimulai. Kepada pengiring wanita dan juga laki-laki silahkan keluar terlebih dahulu.

Pengumuman itu akhirnya mulai terdengar dari ruanganku. Perasaanku mulai tidak karuan. Tanganku dingin. “Gwinchana”, Ucap appa yang menyadari kegugupanku. Ku tatap wajah appa yang sudah mulai keriput. Sambil menunggu perintah, ku sandarkan kepalaku di bahu appa. “Appa khamsahamnida”, Ucapku. “Aku sebentar lagi akan menjadi seorang istri”, Ku rangkul erat lengan appa. “Appa yakin kamu akan menjadi istri yang baik”, Beliau mengelus bahu kiriku. Tanpa aku sadari air matapun jatuh dan membasahi jas hitam yang dikenakan appa.

“Sudah siap”, Seseorang membukakan pintu dan mempersilahkan aku dan appa untuk menyusuri altar. Semua yang datang berdiri menyambut kedatangan ku dan appa. Iringan lagu itu membuat ku ingin menjatuhkan air mata yang dari tadi aku tahan. “Aku harus bisa untuk tidak menangis”, Gumamku.

Jutaan butir mawar putih dan pink berserakan dilantai. Suasana yang sangat romantis dan mengharukan. Ku pandangi pria yang tengah menantiku di ujung altar. Ku berikan senyuman termanisku kenapa pria itu. Pria yang dalam hitungan menit lagi akan menjadi suamiku.

“Gomawo karena telah memilih anakku sebagai pendamping hidupku. Jagalah dia baik-baik. Buatlah ia tersenyum. Jangan sekali-kali kau sakiti dia”, Ceramah appa sebelum menyerahkan tanganku pada oppa. Ku peluk appa erat-erat dan beliaupun memberikanku kecupan manis di dahiku. Air mata yang sedari tadi aku tahan akhirnya jatuh juga.

“Ayo”, Oppa membimbingku menghadap pendeta. Sesekali ku pandang wajahnya yang serius mendengarkan petuah-petuah dari sang pendeta.

Saya, Park Jung Soo berjanji akan selalu mencintai dan memperlakukan istri saya Kim TaeYeon dengan sebaik mungkin dan tidak akan menyakitinya sampai ajal menjemput, serta akan menjalankan kewajiban saya sebagai seorang suami semaksimal mungkin

Saya, Kim TaeYeon berjanji akan selalu mencintai dan memperlakukan suami saya Park Jung Soo dengan sebaik mungkin dan tidak akan menyakitinya sampai ajal menjemput, serta akan menjalankan kewajiban saya sebagai seorang istri semaksimal mungkin

Janji sehidup semati itupun telah terucap dari kedua bibir kami. Semoga saja janji itu abadi hingga nanti ajal menjemput.

Ia memasangkan cincin berwarna silver di jari manisku dan kemudian giliranku memasangkan cincin yang sama di jari manisnya. “Kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Sekarang berilah hormat pada tamu-tamu yang hadir”, Ujar sang pendeta.

Kamipun menunduk, memberikan rasa hormat dan terima kasih karena telah datang menghadiri pernikahan kami. Ku tatap pria yang sekarang sudah resmi menjadi suamiku itu. Ku pegang tangannya dan mulai berjalan nemelusuri altar yang telah dipenuhi butiran mawar. Dibelakang kami ada delapan pasang pengiring yang terdiri dari member Suju dan juga SNSD kecuali pasangan Yoona dan Yuri karena mereka telah memiliki pasangan pilihan mereka sendiri.

Mendekati pintu, aku membalikkan badan mengisyaratkan kalau aku akan segera melempar bunga yang dari tadi aku pegang. “Hana~~~Dul~~~Set”, Ucapku melemparkan bunga.

“Yaaa~~~~aaaa”, Teriak member-memberku setelah mengetahui Yuri menangkap bunga lemparanku. “Yuri-ah chukaee~~eee”, Teriak kami bersama-sama.

Ku tinggalkan gedung pernikahan itu dan masuk ke dalam mobil yang telah dihiasi rangkaian bunga hijau, pink, dan juga putih. Mobil itu mulai meninggalkan gedung dan juga semua orang yang datang menghadiri pernikahan kami. Ku lambaikan tangan dan ku ucapkan, “Khamsahamnidaaa”.

The End

Gimana ceritanya???? Agak kacau ya heheh,….

Ini pertama kalinya aku buat FF tanpa masalah yang berarti hehe,..

Semoga kalian suka ya ^_^

Oh ya, jangan lupa tinggalin saran atau kritik kalian ya. Biar aku tau gimana FF karya ku ini ^_^

Ok Ok,..

Khamsahamnida

Hyuna0590

Chapter 6

“When you realize that the one you love is always beside you”

TaeYeon, Leeteuk / Romance, Friendship, Family, Mellow, Marriage Life / PG 15+

Copyright@hyuna0590

– Happy Reading –

Wajah yang murung dan pucat sudah tak lagi menghiasi wajah cantik seorang Kim Taeyeon. Kondisinya perlahan-lahan sudah mulai membaik. Ia juga sudah mulai mengikhlaskan apa yang terjadi. Tak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan. Sang suami pun tak segan-segan memberikan nasehat kepada istrinya itu. Ia juga tak mau sembarang berbicara. Sesekali ia masih khawatir kalau saja kondisi istrinya itu kembali drop saat mendengar informasi apa pun yang terkait dengan bayi dan kehamilan. Menurutnya, fase pemulihan bathin sang istri lebih lama dari fase pemulihan Yoona kala itu. Yoona hanya membutuhkan waktu tak lebih dari dua minggu untuk kembali seperti sedia kala, sedangkan istrinya membutuhkan waktu lebih lama. Mungkin karena kesibukan Yoona yang lebih banyak dari pada Taeyeon, sehingga ia dapat dengan cepat melupakan kesedihannya.

Kehidupan sebagai ibu rumah tangga pun kembali di lakoni seorang Taeyeon. Setelah menghabiskan waktu selama satu minggu di rumah sakit, sekarang ia sudah mulai kembali terbiasa dengan kehidupan barunya. Meski tak mendapat izin untuk kembali beraktifitas seaktif dahulu, tapi ia masih menerima lampu hijau dari sang suami tentang pekerjaannya. Dokter sendiri pun menyarankan agar Taeyeon mengurangi dahulu kesibukannya dan fokus sementara pada penyembuhannya.

“Oppa sarapan”

Taeyeon memanggil suaminya agar segera keluar dari tempat persembunyiannya. Hanya dengan satu kali panggilan, suaminya itu sudah keluar dan siap untuk menyantap makan paginya. Tak lupa ia beri kecupan manis di kening sang istri, setibanya ia di meja makan.

Bersama mereka menikmati sarapan yang sudah dibuat oleh sang istri. Makanan sederhana, tapi penuh gizi yang Taeyeon siapkan untuk suaminya tercinta. Ia paham betul dengan kesibukan yang tengah melanda suaminya itu. Ditengah jadwal yang gila tentulah stamina yang fit sangat dibutuhkan dan Taeyeon mengerti apa yang harus ia lakukan agar dapat membantu sang suami menjaga kesehatannya.

“Hari ini kau tak punya jadwal??”

Leeteuk tak lupa memantau aktifitas istrinya itu setiap hari. Ia tak ingin kondisi istrinya itu kembali turun. Ia juga tak mungkin membatasi aktifitas sang istri secara total karena ia tahu dengan menyibukkan dirilah sang istri dapat melupakan apa yang pernah terjadi, tapi tetap dibatasi.

“Ada oppa, nanti jam satu”, Jawabnya singkat

“Sampai jam berapa???”, Tanya Leeteuk lagi

“Sepertinya sampai pagi oppa”

Taeyeon melemahkan suaranya tepat di kata pagi. Ia yakin kalau suaminya itu tidak akan setuju dengan jadwalnya hari ini. Batas jam kerja yang diberikan sang suami hanya sampai pukul sembilan malam dan itu tidak boleh lebih.

“Taeyeon-ah, kau masih belum pulih betul. Kenapa harus sampai pagi??”

Leeteuk menghentikan suapannya seketika. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa lagi pada istrinya itu. Ia sudah memperpanjang batas waktu maksimum bekerja bagi istrinya itu, yaitu dari pukul tujuh malam hingga pukul sembilan.

“Aku baik-baik saja oppa. Di rumah terus bikin aku tambah sakit”

Kali ini Taeyeon benar-benar memohon agar diizinkan untuk bekerja lebih lama. Ia akan mengikuti jadwal dari suaminya itu kala ia tak harus menghabiskan waktu sendirian di rumah. Hanya ketika sang suami tidak bekerja atau bahkan pulang cepat, barulah ia akan mematuhi jadwal itu. tapi tidak untuk sekarang, ketika suaminya juga harus pulang pagi.

“Baiklah. Pokoknya kalau terjadi apa-apa jangan lupa hubungi oppa”

Akhirnya Taeyeon mendapatkan izin dari sang suami. Sebenarnya ia juga tak ingin terlalu sibuk. Ia tak ingin menomor duakan suaminya, tapi di lain sisi ia juga tak ingin terlama lama tinggal di rumah. Berada di rumah terlalu lama akan membuatnya merasa bosan, apalagi ketika ia berada sendiri. Bosan bukanlah kegiatan yang paling ia suka.

Aktivitas sebagai seorang public figure kembali di lakoni seorang Kim Taeyeon. Beberapa minggu beristirahat dan telah aktif kembali dua hari belakangan ini sempat membuat tubuhnya terkejut. Istirahat yang lama sepertinya membuat tubuhnya harus kembali menyesuaikan diri. Kalau tidak dibiasakan dari sekarang, kapan lagi tubuhnya kembali terbiasa dengan aktivitas-aktivitas itu.

Pukul 11 pagi, setelah sang suami berangkat kerja, Taeyeon segera meluncur menemui sahabat-sahabatnya di apartemen mereka. Seperti biasanya, ketika aktivitas tiba, berkumpul di apartemen sudah menjadi kewajiban karena disanalah semua pengarahan diadakan. Sang manager akan memberikan semua informasi mengenai jadwal mereka di apartemen tersebut, maka dari itu mereka harus berkumpul di apartemen terlebih dahulu sebelum aktivitas di mulai.

Mereka hari ini mendapat undangan makan siang bersama kedutaan Amerika Serikat. Di acara makan malam itu juga terdapat beberapa pejabat penting Korea Selatan. Mereka menjadi perwakilan Hallyu untuk menerima penghargaan sebagai artis idola yang berpengaruh di beberapa negara dan salah satunya adalah Amerika Serikat. Sebenarnya tidak hanya mereka yang menerima penghargaan siang itu, tapi berhubung yang lain tengah disibukkan dengan kegiatan luar negeri, maka dari itu hanya mereka bersembilanlah yang bisa menghadiri acara resmi tersebut.

Kegiatan mereka pun berlanjut ke wilayah Sungai Han. Sebuah pemotretan sebagai simbol Seoul membuat mereka harus berada di jantung kota Seoul itu, Sungai Han. Sungai yang memisahkan dua sudut kota, Seoul lama dan Seoul baru. Karena lokasi pemotretan mereka berada di kawasan traditional dari kota itu membuat mereka harus menyeberangi sungai untuk sampai di  daerah yang di tuju.

Cuaca yang sebelumnya cerah, tiba-tiba saja berubah menjadi hujan. Hujan yang sangat deras, hingga membuat pemotretan mereka dihentikan sementara. Karena hal tersebut, mereka jadi memiliki waktu lebih untuk beristirahat. Tidak adanya sesi pemotretan di dalam ruangan juga menambah jam istirahat mereka.

“Yoona kau kenapa??”

Yuri menghampiri roommatenya itu. Ia merasa ada yang aneh dengannya hari ini. Yoona yang biasanya ceria dan penuh tawa, tiba-tiba saja berubah murung. Sebagai seorang kakak dan juga sahabat, ia memiliki kewajiban untuk membuat adiknya itu kembali ceria. Walaupun ia tak mungkin masuk terlalu dalam di kehidupan pribadi Yoona.

“Aku tidak apa-apa eonni. Mungkin karena terlalu sibuk jadinya aku kurang memperhatikan kesehatanku”

Yoona keluar kamar mandi sembari mengelus perutnya yang entah kenapa. Tak terhitung lagi sudah beberapa kali ia keluar masuk kamar mandi. Pemotretan pun beberapa kali harus di undur karena keadaannya.

“Apa kau tadi salah makan?”

Yuri membantu Yoona untuk kembali duduk di dekat sahabat-sahabatnya. Ia juga membantu Yoona mengolesi minyak di perutnya agar rasa sakit yang ia rasa lebih berkurang.

“Yoona-ah, apa kau yakin tidak apa-apa?”, Tanya Jessica

“Aku baik-baik saja eonni. Sepertinya aku makan terlalu banyak tadi”, Ujarnya

Tiffany yang sedari tadi menatap Yoona, sekarang mulai mengeluarkan suara. Sepertinya ia telah selesai menganalisis keadaan sang adik. Ia bahkan dengan semangatnya beranjak dari temapt duduknya semula dan menyingkirkan Yuri yang masih membantu Yoona.

“Yoona kau hamil?”, Ujarnya ketika berhasil duduk disebelah Yoona

“Aku tidak mungkin hamil eonni”

Yoona terlihat sedikit berfikir setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia sendiri tak bisa memastikan akan hal itu. tapi sepertinya ia sangat yakin kalau saat ini tak ada janin yang bersemayam di dalam rahimnya.

“Tidak mungkin, kenapa?”, Tanya Jessica heran

Ia kembali berfikir. Ia tak merasakan tanda-tanda kalau memang ia tengah mengandung. Ia mual karena terlalu banyak makan saat di kedutaan.

“Kau yakin? Apa kau sudah melakukan tes?”, Sekarang giliran Yuri yang berkomentar

“Aku sangat yakin”, Ujarnya

“Aku yakin kau pasti hamil”, Tiffany lagi-lagi mengeluarkan statementnya

Yoona kembali merenung. Untuk saat ini tidak ada kepastian tentang masalah itu. Tapi mungkin tak ada salahnya untuk mengetahui kebenaran akan asumsi kakanya itu.

Beberapa menit sebelum pemotretan kembali di mulai, Taeyeon sang leader datang untuk memanggil kedelapan membernya.

“Yoona, apa kau baik-baik saja”

Taeyeon menghentikan Yoona, ketika melihat ada perubahan dari raut wajah sang adik. Ia tahu kalau dari tadi Yoona berkali-kali menghilang ke kamar mandi, tapi wajahnya tak pucat seperti sekarang. Dan itu membuat Taeyeon khawatir akan kesehatan adiknya itu.

“Aku baik-baik saja eonni. Ini hanya efek make up”, Ucapnya

“Kau sakit?”, Taeyeon memeriksa kening Yoona

“Ini bukan make up Yoona. Kau sakit, keningmu juga panas. Lebih baik kau istirahat saja. Biar eonni yang bilang oppa”, Terang Taeyeon

“Aku tidak apa-apa eonni”, Ujarnya

Taeyeon sangat yakin sekali kalau kondisi Yoona saat itu tidaklah sehat. Kening yang panas dan juga wajah yang pucat sedah cukup sebagai tanda-tanda kalau ia tengah sakit. Tapi begitulah Yoona, ia tak akan meninggalkan pekerjaannya, meski tengah sakit sekalipun.

©   ©   ©

Hari-hari penuh kesibukan sudah cukup membuat mereka kehabisan tenaga. Tiga hari non-stop karena harus mempersiapkan album baru mereka. Di antara kesibukan itu, masing-masing dari mereka juga memiliki kesibukan sendiri. Mulai dari mengurusi keluarga, hingga ada yang disibukkan dengan photoshoot, serta tampil di beberapa stasiun TV. Bagi mereka tentu hal yang seperti itu sudah biasa dan akan terasa tak menyenangkan apabila mereka menerima waktu libur yang terlalu lama karena tubuh mereka sudah terbiasa dengan rasa letih akibat bekerja.

Sekarang, mereka diberikan waktu untuk setidaknya melepas penat sebelum projek terbaru mereka. Sebuah waktu libur yang biasanya hanya di habiskan di rumah dan juga berkumpul bersama keluarga tercinta. Itulah yang biasa mereka lakukan. Tak banyak yang menghabiskannya dengan berkunjung ke pusat hiburan atau sekedar menikmati cuaca segar.

Yuri yang kala itu tengah beristirahat di kamar terkejut dengan berita yang baru saja ia dapatkan. Sebuah telpon yang ia terima dari salah satu sahabatnya. Matanya bahkan langsung terbelalak tak kala mendengar berita itu. Seohyun yang ketika itu tengah beristirahat bersamanya di kamar juga ikut terkejut dengan reaksi kakaknya itu. Bagaimana tidak, ditengah nikmatnya membaca buku terbaru miliknya, sebuah ponsel putih menimpannya. Sebuah teriakan lembut langsung saja ia berikan pada kakaknya itu.

“Eonni, kenapa handphonenya kau lempar padaku”, Ucap Seohyun kesal

Yuri membalikkan badannya dan kembali memejamkan matanya. Ia bahkan tak seheboh tadi lagi. Berita itu seakan-akan hanya berupa wake up call baginya dan setelah itu akan kembali hilang.

“Yoona menghubungiku. Dia menganggu tidurku saja”

Ia kembali terduduk setelah mengingat apa yang baru saja terjadi. Yoona, sang roommate menghubunginya. Ia bahkan melupakan berita mengejutkan yang baru saja ia terima darinya.

“Yoona eonni kenapa?”, Seohyun menyerahkan ponsel milik Yuri.

“Kalau tidak salah tadi dia bilang ham…”

Yuri mencoba mengingat perkataan Yoona. Kantuk yang ia rasakan ketika itu membuatnya tak bisa focus mendengarkan berita yang tadi di sampaikan Yoona.

“Yoona eonni kenapa? Apa dia hamil”, Tebak Seohyun

“Iya itu dia”

Yuri kembali membaringkan tubuhnya ketika Seohyun berhasil menebak maksud perkatannya. Berbeda dengan Yuri yang kembali merebahkan tubuhnya, Seohyun malah langsung berlari mencari kakak-kakaknya yang lain. Ia sangat bersemangat sekali kala itu. Ada sebuah berita bahagia yang ingin ia bagikan pada kakak-kakaknya itu.

Seohyun yang tengah berlari menuju keberadaan kakak-kakaknya di buat terkejut dengan teriakan Yuri yang ternyata tengah mengikutinya dari tadi. Ia tak menghiraukan teriakkan itu dan langsung menghempaskan badannya di kasur milik Sunny. Ya, semua kakaknya tengah berada di kamar Sunny dan Taeyeon.

“SeoHyun-i Kau kenapa?Kenapa lari” Jessica dan yang lain terkejut melihat kedatangan SeoHyun secara tiba-tiba

“Eonni ada berita bagus”, Ucap SeoHyun ngos-ngosan

“Berita apa?”, Sunny mendekatkan wajahnya pada maknaenya itu

“Yoona eonni hamil”, Terangnya setelah berhasil mengumpulkan nafas

“Apa? Kau tahu dari mana?”

Hyoyeon meninggikan alisnya. Bukannya ia tak bahagia tengah berita yang baru saja ia dengar dari bungsunya itu, tapi lebih karena kebenaran dari berita itu yang belum pasti. Ia tak ingin berbahagia terhadap sesuatu yang belum pasti.

“Benar eonni. Tadi Yoona eonni menghubungi Yuri eonni”, SeoHyun meyakinkan eonninya

Semuanya serentak bersorak mendengar berita bahagia yang baru saja mereka terima. Keponakan pertama yang sudah mereka nanti-nanti akhirnya akan segera tiba dan kali ini mereka akan memastikan kalau keponakan itu akan menghirup indahnya udara di dunia ini.

“Yaa~~ SeoHyun-i”

Yuri yang baru saja tiba dikamar Sunny langsung mengenggam tangan Seohyun. Terlebih dahulu ia menarik nafas dalam-dalam, sebelum mengeluarkan perkataan yang sudah ia rangkai kepada sang bungsu.

“Yuri-ah, apa benar Yoona hamil??” Tanya Sooyoung

“Mungkin. Tadi aku terlalu mengantuk untuk mendengarkan beritanya”, Balas Yuri setelah nafasnya terkumpul.

Langsung saja beberapa bantal mendarat tepat di wajah cantiknya. Sahabat-sahabatnya itu kesal karena sikap Yuri yang seperti tak mau peduli dengan apa yang ia terima. Ia bahkan tak bisa menghilangkan rasa kantuknya sedikit saja demi mendengarkan berita bahagia dari Yoona.

“Akhirnya Yoona hamil juga”, Syukur Jessica

“Terus Taeyeon eonni bagaimana??”

Seohyun tiba-tiba saja melontarkan perkataan yang membuat kakak-kakaknya terkejut. Saking bahagianya dengan berita yang baru saja mereka dapatkan tentang Yoona. Sekarang timbul masalah baru, yaitu Taeyeon. Kondisi Taeyeon memang sudah tak separah beberapa minggu belakangan, tapi mereka hanya tidak mau mengambil resiko dengan memberitahukan berita bahagia ini padanya.

“Aku tidak tahu. Aku sebenarnya ingin membagi kebahagiaan Yoona pada Taeyeon, tapi setelah mendengar cerita dari Leeteuk oppa, aku jadi takut kalau dia kembali down

Semuanya bingung, memikirkan cara yang tepat dan terbaik. Mereka ingin bahagia bersama, tapi secara bersamaan mereka juga tak mau ada yang bersedih ditengah kebahagiaan itu.

“Aku juga berpikir seperti itu”, Hyoyeon menyetuju perkataan Sunny

Tinniiinnngggg,…Pintu apartemen mereka terbuka. Menandakan ada orang yang baru saja membuka kunci apartemen itu. Orang itu ternyata Taeyeon. Sosok yang tengah dibicarakan oleh sahabat-sahabatnya. Ia berkunjung ke apartemen sahabatnya karena tak kuat lagi menahan rasa bosan yang terus melanda akibat rumah yang sepi tak ada siapa pun.

“Girls~ss”, Taeyeon memanggil sahabat-sahabatnya karena tak ia temukan mereka dimana pun.

“Sebelum kita putuskan bagaimana baiknya, sekarang lebih baik kita rahasiakan dulu!!!”, Bisik Jessica dan diikuti oleh anggukan dari sahabat-sahabatnya.

Akhirnya Taeyeon menemukan ketujuh sahabatnya itu, tengah berkumpul bersama dalam ruangan yang berukuran tak lebih dari 4 x 4.

“Kalian sedang apa?”, Tanya Taeyeon pada sahabatnya itu ketika memasuki kamar

“Hmmm…tidak, kami hanya sedang bercerita saja”, Sunny gugup

“Kau kenapa???”, Tanyanya pada Sunny

“Hmm..tidak ada”, Jawabnya singkat

“Eiiiii….pasti ada sesuatu”

Taeyeon berusaha membongkar apa yang tengah disembunyikan Sunny. Ia bahkan menyadari ada sesuatu yang lain dari sahabat-sahabatnya saat itu. Tapi ia tak ingin memaksa mereka untuk berkata jujur. Mungkin itu privasi dan ia sadar akan hal itu.

“Yoona mana? Tadi katanya dia mau ke sini?”, Sambungnya

“Yoona lagi ke rumah sakit”, Ucap Hyoyeon spontan.

Sooyoung yang berada di sebelahnya langsung mencubit pinggang Hyoyeon. Sooyoung kesal dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia sudah berkata pada mereka semua agar merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi apa sekarang, Hyoyeon malah membukakan pintu bagi sederetan pertanyaan Taeyeon.

“Dia sakit??”, Tanya Taeyeon

“Tidak, dia baik-baik saja”, Sunny berusaha mengalihkan

“Terus kenapa dia ke rumah sakit??”

Taeyeon semakin penasaran dengan apa yang disembunyikan sahabat-sahabatnya. Satu persatu pertanyaan ia utarakan kepada mereka. Mencari kepastian mengenai Yoona. Ia tak mau ketinggalan informasi tentang adiknya itu, kalau memang kondisinya itu tidak sehat.

Mereka terdiam. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka pun tak memberikan jawaban kepadanya. Mereka benar-benar berhati-hati kali ini. Tak mau salah bicara lagi. Sedikit saja salah, maka hal besar mungkin akan terjadi.

“Kalian kenapa diam saja?”, Ia terus bertanya

“Itu…..itu….”, Ucap Jessica terbanta-banta

“Kalian kenapa? Ayo cerita”, Pintanya

“Sebenarnya…sebenarnya…”, Sooyoung ragu

“Sebenarnya apa???”

Taeyeon mulai meninggikan suaranya. Ia tak sanggup lagi diperlakukan seperti ini. Kesabarannya telah habis. Kalau memang mereka ingin memberitahunya, kenapa harus beebelit-belit dan seakan mereka enggan untuk melakukannya.

“Memangnya Yoona kenapa???”, Taeyeon mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Ia takut terjadi apa-apa dengan Yoona.

“Sebenarnya, Yoona ke rumah sakit untuk memastikan kehamilannya”

Akhirnya apa yang rencananya ingin mereka rahasiakan terbongkar sudah. Memang benar apa kata Tiffany, mereka tak akan pernah berhasil merahasiakan apa pun antara mereka. Dan buktinya, sekarang Taeyeon sudah mengetahui berita bahwa Yoona tengah mengandung.

“Benarkah?”, Ujarnya tenang

“Eonni bener tidak apa-apa??”, SeoHyun mulai cemas

“Memangnya kenapa? Aku tidak apa-apa. Inikan brita bahagia”, Jawab Taeyeon

“Kau yakin???”

Sooyoung mulai merasakan aura tak mengenakkan dari wajah sahabatnya itu. Ia seakan-akan memahami kalau sahabatnya itu bersedih. Bukan karena Yoona yang tengah mengandung, tetapi karena teringat akan janin yang dulu sempat bersemayam di dalam rahimnya.

“Iya aku yakin”

Taeyeon memperbaiki duduknya. Ia mulai kelihatan tak nyaman dengan situasi saat itu. Wajahnya memerah, matanya seakan menunjukkan kalau sebentar lagi ia akan menangis. Entah kapan ia akan menahan rasa perih itu.

“Aku ke kamar mandi sebentar”, Ujarnya setelah hening beberapa saat

Ia pun melangkahkan kakinya setelah berpamitan dengan sahabat-sahabatnya itu. Ia sadar, kalau semakin lama ia berada di antara sahabat-sahabatnya itu, maka mereka akan mengetahui kesedihan yang tiba-tiba saja melandanya.

Sesampainya di kamar mandi Taeyeon langsung menumpahkan apa yang sedari tadi ia tahan. Perasaan sedih dan kehilangan itu kembali muncul dan entah kenapa kali ini terasa lebih sakit baginya. Perasaan yang selama ini telah lama ia coba kubur, tiba-tiba saja kembali mengisi lubuk hatinya.

“Aku pulang dulu”, Ucapnya ketika keluar dari kamar mandi

“Kenapa cepat sekali? Eonnikan baru sampai?”, Balas SeoHyun

“Iya, tadi Leeteuk oppa menghubungiku katanya ia sudah di rumah”, Ujarnya

“Baiklah, hati-hati eonni”, Ucap SeoHyun

Dengan tergesa-gesa, ia tinggalkan sahabat-sahabatnya itu. Ia tahu akan banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di dalam benak mereka. Bagaimana tidak, ia tiba-tiba saja berpamitan ketika mendengar kabar tentang Yoona.

Di depan pintu apartemen bernomor 1004 itu, Taeyeon melihat sosok sang suami, Leeteuk, tengah menantinya. Entah dari mana ia tahu kalau istrinya saat itu tengah membutuhkannya, tapi Taeyeon sangat senang menemukan sosok itu

“Oppa”, Langsung saja ia berjalan menuju sang suami. Air matanya kembali berjatuhan ketika berada di dalam dekapan sang suami.

“Tidak apa-apa”, Leeteuk menenangkan istrinya

SeoHyun dan Hyoyeon yang ketika itu tengah menatap pasangan suami istri itu turut meneteskan air mata. Kejadian seperti inilah yang mereka takutkan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini, kecuali memberikan dukungan dan semangat untuk kakak tertuanya itu.

“Minum dulu”

Leeteuk memberikan segelas air putih kepada sang istri ketika mereka kembali memasuki apartemen itu. Tangisannya masih sulit untuk dihentikan. Isakan demi isakan dapat terdengar dengan oleh semua yang berada di ruang duduk.

“Sudah”, Lagi-lagi Leeteuk berusaha menenangkan istrinya

“Eonni”, Sapa SeoHyun.

Sang kakak yang disapa tak menjawab. Ia masih larut dalam tangis di pelukan sang suami. Cobaan yang ia rasakan sangat berat, sehingga begitu sulit baginya untuk melupakan semua itu.

“Oppa maafkan kami”, Hyoyeon meminta maaf

“Kenapa kau meminta maaf?”, Tanya Leeteuk

“Kalau saja aku tidak salah bicara, mungkin Taeyeon tidak akan seperti ini”, Jelasnya

“Tidak apa-apa?”, Ucapnya

Mendengar ucapan maaf yang keluar dari mulut sahabatnya, membuatnya merasa tak enak dan akhirnya menaikkan kepalanya dari pelukan sang suami.

“Maafkan aku”, Ujarnya

“Aku tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini. Maafkan karena aku telah membuat kalian semua jadi seperti ini”, Sambungnya

“Kami mengerti”, Sooyoung memeluk sahabatnya itu

“Terima kasih karena kalian telah sabar”, Taeyeon menjulurkan tanganya dan memeluk sahabat-sahabatnya.

Melihat senyuman yang sudah kembali menghiasi wajah sang istri, sedikitnya membuat perasaan Leeteuk mulai tenang. Dan ia pun mulai bisa bernafas lega. Entah kapan istrinya itu akan terus tersenyum seperti saat ini, yang pasti ia akan terus berusaha agar senyum itu tak akan pernah pudar.

“Kalau begitu oppa balik dulu?”, Ujar leeteuk, setelah memastikan keadaan istrinya baik-baik saja

“Kenapa cepat sekali oppa?”, Sapa Yuri

“Tidak enak dengan yang lain, tadi oppa panik dan langsung saja kesini”, Leeteuk berdiri

“Oppa mianhae. Aku sudah menganggu pekerjaan oppa”, Taeyeon mengenggam tangan Leeteuk, ketika suaminya itu berdiri

“Hei, kau tak perlu minta maaf. Oppa sangat cemas ketika Sunny menghubunginku”, Leeteuk memeluk istrinya

“Terima kasih”, Air matanya kembali membasahi pipi mulusnya

Dengan lembut Leeteuk menyeka air mata itu. Air mata yang sebelumnya sudah tak terlihat lagi dan sekarang kembali membasahi wajah sang istri. Tentu saja ia tak mau hal itu terjadi. Ia pun memeluk tubuh sang istri dan memberikannya ciuman lembut, sembari berkata, “ Oppa sarangaheyo”.

©   ©   ©

Tiffany baru saja pulang dari Jeju, setelah tiga hari melakukan syuting sebuah iklan duduk di atas kursi yang empuk. Taeyeon yang menyapanya dari belakang pun ikut duduk disampingnya. Tak lupa ia tunjukkan jus hasil karyanya kepada sahabatnya itu. Jus yang berisi campuran madu, telur dan juga gingseng. Ia juga menunjukkan hasil karyanya yang lain, yaitu nasi merah bercampur kacang-kacangan dengan segala warna.

“Kau masak apa???”, Tanya Tiffany penasaran

Taeyeon menyodorkan masakan yang baru saja selesai ia masak kepada sahabatnya itu. Tiffany menatap Taeyeon dengan jijik. Ia sama sekali tak menyukai bau atau pun warna dari jus yang diperlihatkan Taeyeon. Baginya minuman itu adalah racun, yang siap membunuh siapa saja yang meminumnya.

“Kau minum apa? Kenapa baunya tidak enak? Warnanya juga”, Tiffany mendorong jauh-jauh gelas berisi jus dari hadapannya. menolak jus buatan Taeyeon

“Ini jus gingseng. Di dalamnya ada campuran telur dan juga madu”, Terangnya

Tiffany hanya bisa menelan ludahnya. Minuman itu sungguh membuat selera makannya menurun. Tak ada satu alasan pun yang bisa membuatnya meminum jus aneh itu. Alasan kesehatan pun akan ia tolak.

Melihat ekspresi sahabatnya yang tak akan menerima tawaran darinya, Taeyeon pun melahap habis jus gingseng tersebut. Jus yang menurut ibunya baik untuk memulihkan kondisi wanita yang baru saja mengalami keguguran.

Tiiinnniiiinnnnggggg…..Pintu dorm terbuka ketika kedua sahabat itu tengah asik dengan aktivitas mereka masing-masing. Yoona, sang pembawa berita baik pun datang mengunjungi mereka.

“Taeyeon eonni, Fany eonni”, Sapanya

“Kau akhirnya datang juga”

Kedua kakaknya itu menyambut kedatangannya dengan senang hati. Menyambut kedatangan Yoona dan juga calon keponakan mereka.

“Tadi aku kerumahnya Taeyeon eonni, tapi kata Leeteuk oppa eonni disini”

Yoona langsung menduduknya dirinya di antara Taeyeon dan juga Tiffany. Ia juga tak lupa memberikan sebuah kotak yang tadi di titipi oleh Leeteuk.

“Oppa sudah pulang? Kenapa tidak bilang?”

“Aku tidak tahu”, Ujarnya

Yoona merebahkan tubuhnya sejenak. Rasa penat yang sedari tadi ia rasakan harus segera hilang dari tubuhnya. Tapi sepertinya keinginannya untuk beristirahat tak diinginkan oleh sahabatnya. Satu persatu dari mereka terus saja menganggu aktivitasnya siang itu.

“Yoooonnnaaaaa-ya”, Teriak Yuri

Ia sangat antusias ketika menemukan sosok Yoona yang tengah duduk di sofa apartemen mereka. Yoona yang sangat ia rindukan. Yoona yang sangat ia nantikan, apalagi setelah mendengar kabar bahagia tentang kehamilannya.

“Ia eonni”, Ujarnya

Yoona yang merasa senang menerima sebuah pelukan dari kakaknya itu hanya tersenyum manis. Tak ada lagi yang membuatnya bahagia selain melihat kakak-kakaknya bahagia. Meski kesibukan yang mereka jalani tak terkendali, tapi mereka harus selalu ceria dan tersenyum demi dapat memberikan kesan yang baik kepada penggemar-penggemarnya.

“Kau menyebalkan sekali”, Yuri memperdalam pelukannya pada Yoona

Yoona hanya bisa tersenyum mendengar ocehan sang kakak. Ia tak bermaksud untuk menganggu istirahat sang kakak, tapi ia harus memberitahukan berita bahagia itu. Tak mungkin ia menyembunyikan hal sebahagia itu dari kakak-kakaknya.

“Yoona eonni”

Sekarang giliran si bungsu yang menghampirinya. Sepertinya Seohyun tak mau kalah dari Yuri. Ia turut memeluk Yoona, meskipun tubuh Yuri masih menempel dengan Yoona. Tapi ia tak memperdulikan itu.

“Eonni selamat ya”, Sebuah kecupan ia terima dari si bungsu

Ditengah kesibukan yang terjadi antara Yoona dan para kakak-kakaknya, Taeyeon di sisi lain masih di sibukkan oleh kotak yang diberikan sang suami. Kotak besar yang diantarkan Yoona untuknya.

“Ini apa?”

Taeyeon mengangkat gaun pendek berwarna merah marun setinggi mungkin. Ia memperlihatkan gaun merah itu kepada sahabat-sahabatnya. Ia tak tahu maksud dari gaun itu.

“Gaun ini untuk apa??”, Ujarnya

“Aku tak tahu eonni. Tadi Leeteuk oppa hanya memberikan kotak itu kepadaku”, Terang Yoona

Taeyeon terus mengamati gaun merah itu. Ia tak pernah menerima pemberian seperti ini sebelumnya dari sang suami.

“Taeyeon-ah, ada suratnya”, Hyoyeon mengeluarkan selembar kartu dan membacanya

Chagiya, aku tunggu kau di lobi pukul 8 tepat. Dandanlah yang cantik.

Saranghae

Suamimu, Leeteuk

Taeyeon mengambil kartu itu dari tangan Hyoyeon. Ia kembali membaca surat tersebut. Ini pertama kalinya Leeteuk berlaku manis dan romantis padanya. Selama mereka pacaran dan berumah tangga, ini adalah momen yang sangat langka baginya.

“So Sweet”, Suara Sooyoung terdengar dari belakang

“Kau harus siap-siap sekarang”

Jessica langsung menarik tangan Taeyeon dan menyuruhnya untuk segera bersiap-siap. Satu jam yang tersisa sangatlah singkat. Ia harus berdandan secantik mungkin dalam waktu yang tak lama dan itu sangatlah sulit.

“Tapi kita malam ini ada rapat?”, Tanyanya

“Ini lebih penting”, Sunny menarik tangan Taeyeon

Mereka pun sibuk mendandani Taeyeon sesuai dengan permintaan suaminya. Tugas yang mereka terima dari Leeteuk tidaklah mudah. Tentu saja mereka akan di marahi Leeteuk apabila tak berhasil membuat sang istri menjadi cantik.

“Eonni cantik sekali”, Teriak Yoona

“Benarkah”, Taeyeon menatapi cermin, memastikan bahwa ia benar-benar cantik saat ini

Dengan perasaan deg degan, Taeyeon memeluk sahabat-sahabatnya dan kemudian pergi menemui Leeteuk. Di dalam lift Taeyeon terus memperbaiki rambut panjangnya. Entah kenapa ia merasa sangat deg-degan, seakan-akan ini merupakan kencan pertamanya dengan Leeteuk.

Lift terbuka resepsionis pun terbuka. Dengan membawa sebuah tas kecil, Taeyeon keluar dari lift. Ia melihat kiri dan kanan, mencari keberadaan Leeteuk. Ternyata Leeteuk tengah berdiri menyandar di depan pintu mobilnya. Iapun mendekati Taeyeon.

“Ini apa oppa”, Taeyeon menunjukkan penampilannya pada sang suami

“Apakah kau tidak suka?”, Tanya Leeteuk

Taeyeon diam. Ia hanya menatapi paras suaminya malam itu. Paras yang sangat ia rindukan, sangat ia nantikan. Ia berjanji tak akan menodai paras tampannya itu dengan kesedihan. Meski rindangan berat harus ia jalani.

“Baiklah kalau memang kau tidak suka”, Leeteuk membalikkan badan dan mencoba menjauhi istrinya itu

“Oppa”, Taeyeon meraih lengan Leeteuk

Leeteuk tersenyum. Ia tahu kalau istrinya itu tak akan menolak apa pun yang ia perintahkan karena ia tahu istrinya itu akan melakukan apa saja demi membahagiakan dirinya. Termasuk berdandan secantik mungkin seperti saat ini.

©   ©   ©

Di dalam mobil, Taeyeon hanya menatap keluar. Ia tidak berani menatap ke arah suaminya itu. Entah kenapa, tapi ia merasa gugup. Leeteuk menurunkan tangannya dari stir dan memegang tangan sang istri. Dengan spontan Taeyeon menatap suaminya yang saat itu tengah tersenyum manis menatapnya.

“Apa kau baik-baik saja?”, Tanya Leeteuk

“Hmmm…”, Jawab Taeyeon singkat

“Kenapa diam aja???”, Leeteuk menyadari keheningan Taeyeon

“Tidak tahu oppa. Aku deg-degan”, Taeyeon tertawa kecil

“Kau deg-degan karena oppa mengajakmu jalan?”, Leeteuk menggoda

“Tentu saja bukan”, Taeyeon mengelak

“Yakin”, Leeteuk terus menggoda istrinya

Mereka pun hening setelah Leeteuk berhasil menggodanya. Ia sangat benci digoda seperti itu. Tapi suaminya seakan tak paham dengan apa yang telah ia lakukan.

“Kita mau kemana oppa?”, Taeyeon mengalihkan pembicaraan

“Kau pasti suka”, Leeteuk melepaskan tangannya dan kembali fokus mengendarai mobilnya

Sebelum turun mobil, Leeteuk menyuruh Taeyeon untuk menutup matanya terlebih dahulu. Walau pun awalnya ia tidak mau, tapi akhirnya ia menuruti ucapan sang suami. Perlahan-lahan ia bimbing istrinya itu mendekati sebuah meja yang sudah ia siapkan khusus untuk malam itu. Dalam hitungan ketiga, Leeteuk mempersilahkan Taeyeon membuka mata dan betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan Kota Seoul di malam hari yang penuh dihiasi oleh lampu-lampu berbagai warna, ada yang berwarna merah, kuning, hingga hijau.

Leeteukpun menarik sebuah kursi dan mempersilahkan istrinya itu untuk duduk. Dengan perasaan yang tak bisa digambarkan, Taeyeon duduk sambil menatapi meja yang dihiasi oleh bunga mawar putih, bunga kesukaan Taeyeon.

“Oppa”, Ucap Taeyeon

“Kau pasti kaget?”, Leeteuk memegang tangan Taeyeon

“Iya”, Jawab Taeyeon singkat

“Ini belum seberapa”, Leeteuk membuat Taeyeon penasaran

“Oppa kerasukan arwah apa? Kenapa jadi romantis seperti ini?”, Taeyeon heran

Leeteuk mengenggam tangan istrinya dan membawanya ke dalam sebuah restoran yang sangat indah. Restoran yang berhiaskan ratusan butir lampu warna warni membuat suasana malam itu sangat romantis.

“Oppa tahu, ini kali ketiganya oppa bawa aku ke tempat ini, ya kan?”, Taeyeon menatap suaminya

“Oppa tahu tempat ini sangat bersejarah bagi kita, makanya oppa bawa kau ke sini”, Jawab Leeteuk tersenyum

“Disini semua kisah kita dimulai”, Sambung Taeyeon. Leeteuk terus menatap paras istrinya yang terlihat sangat cantik dengan gaun yang ia pilih sendiri.

“Oppa kenapa menataku seperti itu?Apa oppa tak pernah melihat wanita cantik?”, Taeyeon mengimbaskan rambut panjangnya

“Kau sangat memukau malam ini sayang”, Leeteuk tertawa

“Oppa ada-ada saja”, Taeyeon ikut tertawa

Malampun semakin larut, lampu-lampu yang tadinya sedikit sekarang sudah mulai membanyak. Makanan yang sudah dihidangkanpun sekarang sudah tinggal sisa. Pasangan suami istri itu larut dengan alunan musik classic yang begitu romantis. Tak lama setelah itu, kejutan yang tadi dijanjikan Leeteukpun muncul, yaitu sebuah lagu yang ia buat sendiri khusus untuk istri tercinta. Lagu yang ia buat dalam waktu satu jam.

Dengan penghayatan, Leeteuk menyanyikan bait demi bait lagu tersebut. Sesekali ia memainkan mata kepada istrinya itu. Taeyeonpun dibuat berseri-seri dengan tingkah nakal Leeteuk dari atas panggung. Di akhir lagu, Leeteuk turun dari panggung dan menghampiri Taeyeon. Ia pegang tangan istrinya itu sambil mengajaknya berdiri. Tepat setelah ia mengucapkan bait terakhir dari lagu tersebut, yaitu I LOVE YOU, Leeteuk langsung mencium Taeyeon dan memeluknya erat-erat. Taeyeon yang mendengar ucapan tulus dari mulut suaminya tak kuasa menahan air mata.

“Tersenyumlah mulai dari sekarang. Oppa akan selalu berada disampingmu”, Leeteuk melepaskan pelukannya

Taeyeonpun mengangguk. Tamu-tamu yang menyaksikanpun ikut hanyut dalam suasana haru nan bahagia.

 To Be Continue

Khamsahamnida

http---signatures.mylivesignature.com-54492-198-DFA94A137106D830CAD4297F5A59CA05

Chapter 5

“If god says no, then it’s a big no”

TaeYeon, Leeteuk / Romance, Friendship, Family, Mellow, Marriage Life / PG 15 +

Copyright@hyuna0590

– Note –

Keberadaan Taeyeon di kamar mandi yang cukup lama, membuat sahabat-sahabatnya mengkhawatirkan keadaannya. Bagaimana keadaan Taeyeon yang sebenarnya???

– Happy Reading –

Hari semakin larut, tapi Taeyeon belum juga keluar dari kamar mandi. Entah apa yang tengah ia lakukan di dalam sana, yang pasti ketiga orang yang tengah menantinya dari tadi tengah gelisah. Pikiran negatif pun sempat terlintas di benak mereka. Bagaimana tidak lima menit lebih Taeyeon di kamar mandi dan sampai sekarang masih belum juga kembali.

Ketiga orang itu dengan setia menanti kedatangan kakak tertua mereka. Selama apa pun akan mereka nanti. Meski perut mereka sudah mulai minta diisi, tapi apa boleh buat, mereka tak mungkin makan duluan. Tak enak rasanya membiarkan Taeyeon makan sendiri nantinya. Apalagi ia terkadang akan malas makan apabila tidak ada yang ikut makan bersamanya.

“Taeyeon lama sekali? Apa dia baik-baik saja”

Jessica makin tak tenang. Ia tak henti-hentinya menatapi detak jarum jam yang sudah menunjukkan tujuh menit. Tapi ia harus sabar, mungkin saja ia memang membutuhkan waktu yang lebih lama di kamar mandi dari pada yang lainnya karena tengah berbadan dua.

Bruuukkkk,..sebuah bunyi yang cukup keras menyejutkan ketiga sahabatnya, yang kala itu tengah setia menanti sembari menatapi makanan yang telah tersedia di meja makan. Bunyi itu terdengar dari arah kamar mandi. Langsung saja mereka berlarian menuju kamar mandi tempat Taeyeon berada. Sayang pintu itu terkunci dari dalam. Berkali-kali mereka mencoba membuka pintu itu, tapi kekuatan mereka tak sanggup untuk itu

“Taeyeon-aaaahhhh”, Jessica meneriaki namanya, tapi tak kunjung mendapat respon dari si pemilik nama.

“Bagaimana ini”, Yoona panik

Mereka pun terikat akan kunci cadangan yang selalu menjadi jalan keluar apabila hal seperti itu terjadi. Dengan cekatan Hyoyeon membongkar laci tempat kunci cadangan itu berada. Tapi kunci itu sangat sulit untuk ditemukan. Di dalam laci itu tidak hanya terdapat cadangan kunci kamar mandi, tetapi juga semua kunci cadangan di rumah itu.

“Hyon-ah cepat”, Teriak Jessica

Hyoyeon semakin mempercepat gerak tangan dan juga matanya. Selalu saja sulit untuk menemukan sesuatu yang dicari.

“Pinggir”, Perintah Hyoyeon saat menemukan kunci cadangan.

Yoona dan Jessica menghindar dari depan pintu itu dan mempersilahkan Hyoyeon untuk membuka pintu tersebut. Pintu terbuka dan disanalah mereka temukan sosok Taeyeon yang tergeletak tak berdaya di atas lantai kamar mandi.

“Taeyeon-ah”, Teriak Jessica dan Hyoyeon

Semuanya kalang kabut. Mereka panik. Genangan darah dan juga kondisi Taeyeon yang tak sadarkan diri membuat keadaan menjadi tak terkendali.

Dengan segera Hyoyeon meminta bantuan Yoona untuk menopang tubuh Taeyeon dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.

“Sica-ya, kau tolong hubungi Leeteuk oppa dan juga yang lain”, Pinta Hyoyeon.

Jessica mengikuti mereka dari belakang, sembari menghubungi orang-orang yang disebutkan Hyoyeon barusan. Tangannya yang gemetara membuatnya kesulitan untuk menekan tombol-tombol di ponselnya.

©   ©   ©

Yoona masih menangis dipelukan Hyoyeon dan Jessica. Mereka bertiga sangat cemas menunggu kabar dari sang dokter mengenai keadaan Taeyeon. Tapi sepertinya penantian mereka akan lebih lama karena hingga sekarang belum ada tandan-tanda bahwa dokter itu akan keluar dari ruang ICU.

Akhirnya satu persatu dari sekumpulan orang yang dihubungi Jessica bermunculan. SooYoung dan Yuri  menjadi orang pertama yang datang ke rumah sakit. Mata mereka terlihat telah memerah. Sepertinya mereka menangis selama diperjalanan.

“Bagaimana keadaan Taeyeon”

Sooyoung menghampiri ketiga orang yang masih saling berpelukan. Ketiga orang itu tak menjawab. Mereka hanya menangis. Sooyoung dapat mengerti. Sesekali ia mencoba mencari tahu keadaan Taeyeon dengan cara mengintipi aktivitas di dalam ruang ICU melalui jendela di pintu ruangan itu. tapi sepertinya ia tak mendapatkan informasi apa pun karena ia kembali dengan raut wajah yang tak senang.

“Leeteuk oppa sudah kalian hubungi??”, Tanya Yuri

“Tadi sudah aku telpon, tapi ponselnya tidak aktif”, Jessica kembali coba menghubungi suami sahabatnya itu.

Hyoyeon yang tadinya terlihat tegar dari pada Yoona dan Jessica, sekarang sudah berlinangan air mata. Ia tidak bisa lagi berfikir jernih, bayangan negatif tentang Taeyeon memenuhi benaknya. Yang ia butuhkan saat ini hanya sebuah berita, sebuah kepastian mengenai kondisi sahabatnya itu.

“Dokter bagaimana keadaan Taeyeon”

SooYoung langsung menghampiri sang dokter, ketika dokter itu keluar dari ruang ICU. Ekspresi dari dokter itu membuatnya semakin cemas.

“Suaminya mana?”

Dokter itu melihat sekeliling. Ia tak melihat satu pun laki-laki disana. Ia tak mungkin menceritakan keadaan Taeyeon secara detail kepada orang lain. Hanya suaminyalah yang berhak mengetahui fakta penting mengenai istrinya. Setelah itu terserah pada laki-laki itu, apakah akan menyimpannya sendiri ataukah akan membaginya dengan orang lain.

“Sedang dalam perjalanan dok, bagaimana keadaan Taeyeon?”

Kedelapan wanita itu mengelilingi sang dokter. Mereka bersama-sama menati keterangan sang dokter mengenai kondisi sahabat sekaligus rekan kerja mereka. Tapi sepertinya dokter itu sedikit berfikir untuk memberitahu keadaan Taeyeon kepada kedelapan wanita itu.

“Kami minta maaf. Benturan yang dialami Taeyeon-ssi sangat kuat dan itu menyebabkan pendarahan yang sangat hebat dan mengakibatkan terjadinya keguguran. Sekali lagi saya minta maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan bayinya”

Akhirnya dokter itu memberitahu mereka mengenai keadaan Taeyeon. Mereka tak percaya hal seperti ini akan terjadi lagi. Ada apa dengan mereka. Kenapa begitu sulit untuk menjaga titipan Tuhan itu.

Jessica terduduk. Ia tak percaya Taeyeon akan kehilangan janin yang sangat ia sayangi itu. Mereka tak tahu harus bersikap seperti apa padanya. Kejadian ini bukanlah yang pertama dan mereka paham betul bagaimana sulitnya menghadapi situasi ini.

“Eonni”

Seohyun menangkap tubuh Jessica yang akan tumbang ketika mendengarkan penjelasan sang dokter mengenai keadaan Taeyeon. Sama halnya dengan yang lain, ia juga tak tahu harus bagaimana menyingkapi keadaan seperti ini.

“Sica-ya”

Yuri juga ikut membantu sang bungsu menopang tubuh Jessica. Bersama-sama mereka membawanya dan mendudukkannya pada sebuah kursi yang tak jauh dari depan pintu ruang ICU, tempat Taeyeon berada.

“Ini tidak mungkin terjadi pada Taeyeon”, Jessica mengeleng-gelengkan kepalanya

“Seharusnya tadi aku menemaninya”

Jessica tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyesal tak bisa menjaga sahabatnya itu, hingga hal seperti ini terjadi.

“Semua ini bukan salahmu Jes”

Hyoyeon menghampirinya. Ia duduk di sebelah Jessica dan ikut menangis. Ia paham betul bagaimana perasaan sahabatnya itu saat ini. Bahkan ia sendiri juga merasakan hal yang sama karena mereka ada disana.

“Apa kami boleh menemuinya??”

Tiffany mendekati sang dokter sebelum dokter itu melangkah pergi meninggalkan mereka berdelapan. Ia ingin menemui sahabatnya itu dan ia juga ingin menghiburnya. Entah bagaimana caranya.

“Kalian boleh menemuinya, tapi saran saya jangan terlalu ramai. Keadaannya masih lemah. Ia juga masih syok dengan apa yang terjadi. Jadi tolong berhati-hati apabila kalian akan bertemu dengannya. Oh ya, nanti kalau suaminya sudah datang tolong suruh temui saya”, Ujar dokter sambil pergi meninggalkan mereka

Mendengar permintaan sang dokter, Yoona, Jessica, dan SooYoung memutuskan untuk tidak menjenguk Taeyeon terlebih dahulu. Mereka takut kalau Taeyeon akan tambah sedih. Mereka juga belum siap menemuinya. Mereka takut kondisi Taeyeon akan semakin drop apabila bertemu dengan mereka yang masih menitikan air mata.

Akhirnya hanya Sunny, Hyoyeon, Yuri, Tiffany, dan SeoHyun yang masuk untuk melihat keadaan Taeyeon. Perlahan-lahan mereka membuka pintu dan menyapa Taeyeon. Mereka tak mendapat respon darinya. Taeyeon juga membelakangi mereka sambil terus menangis.

“Taeyeon-ah”, Tiffany berusaha menghampirinya.

“Semua ini salahku”

Ia menyalahkan diri disela tangisnya. Ia  merasa tak bertanggung jawab atas apa yang diberikan Tuhan padanya. Ia gagal. Gagal untuk menjadi seorang ibu yang baik. Ia kehilangan buah hatinya, sebelum sempat melihatnya.

“Taeyeon-ah, ini semua bukan salahmu”, Sunny memeluknya

“Aku memang bukan ibu yang baik”, Taeyeon terus menyalahkan dirinya

“Kau ibu yang baik”

Lagi-lagi Tiffany berusaha menenangkan sahabatnya itu. semua yang tengah dialami taeyeon memang berat dan ia sendiri mungkin juga akan menyalahkan dirinya sendiri apabila hal itu terjadi padanya. Tak ada yang salah bila Taeyeon ini melampiaskan rasa sedihnya dengan menangis.

“Tuhan pasti sedang merencanakan sesuatu yang lebih indah untuk kalian”, Tiffany merangkulnya

Taeyeon masih saja menangis. Ia tak pernah membayangkan akan mengalami hal serupa seperti Yoona. Padahal dokter berkata kalau kandungannya baik-baik saja. Ia benar-benar tak percaya dengan takdir yang tengah ia hadapi.

Di luar, Yoona, Jessica, dan SooYoung masih menitikan air mata. Mereka bahkan tak menghiraukan pandangan orang yang melihat tingkah merekaa yang menangis secara bersama-sama di kursi depan ruang ICU.

“Taeyeon-ah”, Leeteuk yang baru saja datang langsung memanggil-manggil nama istrinya.

“Oppa,..”, SooYoung langsung berdiri dan menyapa Leeteuk

“Bagaimana Taeyeon??? Kenapa bisa begini?? Apa yang terjadi???”, Tanyanya tanpa henti

“Oppa, lebih baik oppa tenang dulu. Di dalam Taeyeon sedang  ditemani yang lain. Lebih baik oppa temui dokter dulu”, Usul SooYoung

Leeteuk langsung berlari menuju ruang dokter dan meninggalkan yang lain ditengah kesedihan yang tengah menyelimuti mereka.

“Kenapa bisa begini???”

KyuHyun yang baru saja datang bersama membernya yang lain langsung memeluk sang kekasih yang masih terisak. Ia paham kalau mereka sudah seperti saudara, maka dari itu apa yang tengah dialami salah satu dari mereka pasti akan menyakiti perasaan yang lainnya. Begitu juga dengan yang dialami Taeeyeon saat ini. Kekasihnya itu pasti ikut bersedih. Apalagi itu adalah keponakan pertama mereka.

“Dia tersandung sesuatu di kamar mandi oppa”

SooYoung mencoba menenangkan dirinya ketika sang kekasih menghampirinya. Ia berusaha mengendalikan pikirannya dengan bersandar di bahu KyuHyun. Hanya itu yang ia butuhkan saat ini. Berada di dekat sang kekasih ketika kesedihan melandanya.

KyuHyun mengelus lembut kepala sang kekasih. Tak ingin menambah kesedihan yang tengah ia rasa, maka dari itu sebisa mungkin ia membuat kekasihnya itu nyaman dan tak mengeluarkan apa pun yang dapat menyinggung perasaannya yang tengah sensitif.

Krrriiinnnggg Krriiiinnnggg….Tak jauh dari Kyuhyun dan Sooyoung, Yoona berdiri ketika mendengar ponselnya berbunyi. Sang suami menghubunginya ditengah kesibukannya syuting. Mungkin saat ini istrinya itu membutuhkannya, maka dari itu ia menghubunginya. Meski tak bisa datang menemuinya, tapi setidaknya ia dapat menenangkannya melalui telpon. Apalagi istrinya itu pernah berada di posisi Taeyeon satu tahun yang lalu dan itu pasti membuatnya tambah tak karuan. Bayangan masa lalu yang perih pasti kembali menghiasi benaknya.

“Yoona-ah”, Sapa Seung Gi

“Oppa”, Yoona menangis ketika mendengar suara sang suami.

“Kau tidak apa-apakan??? Atau oppa kesana sekarang”, Ujar Seung Gi

Yoona hanya menangis. Ia tak kuat menahan rasa perih yang tengah ia derita. Rasa perih atas apa yang baru saja menimpa kakaknya, sekaligus rasa perih akibat teringat akan janin yang dulu pernah ia kandung, yang sekarang sudah mendapatkan teman baru.

Mendengar tangisan sang istri, Seung Gi langsung memutuskan untuk menemuinya. Keadaan di rumah sakit mungkin sangat tak terkendali. Ia tak bisa membayangkan kesembilan wanita itu menangis bersama. Tak mungkin istrinya itu dapat tenang ketika yang lainnya tengah menangis.

Lima belas menit menemui Taeyeon, akhirnya Tiffany dan yang lainnya keluar. Mereka tak kuat berlama-lam melihat kondisi Taeyeon di dalam sana. Ia harus banyak istrirahat. Benar kata dokter, kondisinya masih lemah. Sesekali ia masih mengeluh kesakitan ditengah tangis yang tak kunjung reda.

“Oppa”

Tiffany menghampiri kekasihnya yang sedari tadi telah menunggunya di luar bersama yang lain. Sang kekasih menyambutnya dengan senyuman. Wajah kekasihnya itu memang tak sekacau yang lain, tapi ia dapat melihat kalau kekasihnya itu juga tak kalah terpukulnya dengan keadaan Taeyeon.

“Tidak apa-apa sayang”

Air mata Tiffany langsung turun ketika Donghae memeluknya. Sebelumnya ia sudah berusaha menahan air mata itu agar tak turun. Tapi setelah melihat kehadiran sang kekasih, semuanya pudar. Air mata itu akhirnya turun juga.

“Sudah, kalau seperti ini bagaimana kau bisa menyemangari Taeyeon”, Ujarnya

Tiffany mengangguk. Kekasihnya itu benar. Ia harus kuat. Bagaimana mungkin ia bisa menyemangati Taeyeon serta yang lainnya bila ia juga terpuruk. Cukup Taeyeon sajalah yang terpukul.

“Kalau beginikah oppa makin sayang”

Donghae membantu kekasihnya itu untuk membersihkan sisa air mata yang masih betah bersemayam di mata sang kekasih.

Satu persatu dari kedelapan wanita itu mulai tersenyum ketika sosok yang mereka cintai datang memberikan dukungan. Mereka tak pernah mengharapkan akan hal itu. Tapi mereka dengan senang hati berkunjung, sekedar melihat kondisi Taeyeon saat itu.

“Oppa”

Yoona langsung mengejar Seung Gi ketika melihatnya dari kejauhan. Entah kenapa ia merasa sangat rindu dengan pria yang telah baru tadi pagi ia temui. Air matanya tumpah ketika suaminya itu memeluknya. Ia bahkan tak bisa mengangkat kepalanya ketika sang suami memintanya.

“Kwinchana-yo”

Ia menyeka air mata sang istri. Berharap agar air mata itu cepat hilang dan segera digantikan dengan senyuman manis sang istri.

©   ©   ©

Dengan rasa cemas, Leeteuk menemui sang dokter. Sang dokterpun mempersilahkannya duduk. Dengan sangat hati-hati, sang dokter memulai perbincangan.

“Sebelumnya saya turut berduka dengan apa yang baru saja dialami istri anda. Saya dan para tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kandungan istri anda, tapi karena benturan yang dialami istri anda sangat keras, maka dari itu sekali lagi kami sangat menyesal untuk memberitahu anda bahwa kemungkinan istri anda untuk hamil lagi itu sangat kecil. Hanya sebuah keajaibanlah yang bisa membuat istri anda dapat hamil kembali”, Terang dokter itu

Setelah mendengarkan penjelasan dari sang dokter, Leeteuk langsung berlari mengejar sang istri. Perkataan dokter itu terus terngiang dibenaknya ketika hendak menghampiri sang istri.  Sesampainya di dalam kamar, Leeteuk langsung memeluk istrinya itu sambil menitikan air mata.

“Maafkan oppa sayang”

Leeteuk membelai lembut kepala sang istri. Ia merasa kasian dengan apa yang baru saja dialaminya. Betapa ia merindukan senyuman manis Taeyeon, yang baru tadi pagi ia terima dan sekarang malah air mata yang menyambut kedatangannya. Tapi ia tak mungkin menyalahkan istrinya atas apa yang terjadi. Semua sudah menjadi takdir illahi dan mereka harus bisa menerima kenyataan itu.

“Semua ini salahku, kalau saja aku tidak sibuk, pasti kau tidak akan celaka”

Leeteuk menyatukan kepalanya dengan kepala sang istri. Ia bisa merasakan isakannya. Meski tak terdengar lagi tangisan darinya. Taeyeon sudah mulai tenang sekarang. Perlahan ia sudah mulai mencoba untuk menerima kenyataan.

“Oppa”, Ia membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. Tak sopan rasanya membelakangi suaminya itu.

“Bagaimana penampilan oppa tadi”

Ia mengalihkan pembicaraan. Sepertinya ia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan di depan sang suami. Ia bahkan tak ingin meneteskan air mata di depan suaminya itu, meski sebenarnya ia ingin. Ia berusaha tegar di depannya. Berusaha menerima takdirnya.

“Ooo,..penampilan tadi baik-baik saja. Oppa dapat peringkat pertama”

Ia paksakan untuk tersenyum. Melihat ekspresi sang istri yang menyambutnya dengan senyuman, membuatnya juga tersenyum. Ia bersyukur karena istrinya itu masih bisa tersenyum dengan sangat manis dikala kesedihan yang mendera.

Taeyeon menyentuh wajah suaminya sembari memandanginya dengan penuh makna. Air mata yang sedari tadi sengaja ia tahan akhirnya tumpah juga. Rasa perih yang cukup dalam membuatnya tak sanggup untuk menahannya.

Leeteuk sempat berniat untuk memberitahukan Taeyeon akan kondisinya yang sebenarnya. Tapi ketika melihat sang istri kembali menangis, ia mengurungkan niatnya itu. mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat. Sekilas ia sempat berfikir kalau keadaan istrinya itu telah pulih karena tebaran senyum yang selalu ia berikan ketika itu. Tapi sekarang lain cerita, ternyata ia menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

“Jangan menangis sayang. Oppa tidak masalah kalau kita tidak memiliki anak asalkan kau baik-baik saja”, Ia mengecup kening sang istri.

“Iya oppa”, Taeyeon kembali mencoba untuk tersenyum.

“Kalau begitukan lebih baik”

Ia memeluk istri itu. Semoga luka yang tengah melanda keluarga kecil mereka segera pergi. Hanya kebahagiaan dan kegembiraanlah yang akan selalu menghiasi kehidupan rumah tangga mereka.

©   ©   ©

Hari-hati setelah keguguran membuat semangat Taeyeon sedikit berkurang. Rasa sedih yang ia derita selama beberapa hari ini masih belum masu beranjak darinya. Tak tahu sudah berapa macam cara dilakukan oleh suaminya dan juga sahabat-sahabat terbaiknya. Tapi kondisi Taeyeon tak kunjung ceria. Terkadang mereka berfikir, mungkin situasinya masih terlalu cepat bagi Taeyeon untuk mampu merelakan kepergian janinnya. Bagaimana tidak, peristiwa itu baru tiga hari berlalu dan tentu saja masih sulit baginya untuk melepaskan semua itu.

Tiga hari berlalu, tiga hari pula Leeteuk di buat kewalahan menghadapi sikap sang istri yang tak mau makan. Kalau pun mau, itu hanya satu suap. Tidak lebih. Entah cara apalagi yang harus ia lakukan, agar istrinya itu bisa sembuh seperti sedia kala. Terkadang ia kesal dengan sikap sang istri yang tak bisa mengikhlaskan apa yang terjadi. Emosi pun sempat ia tunjukkan pada wanita pujaannya itu. Tapi apa yang terjadi, bukannya berubah membaik, tapi Taeyeon malah makin larut dalam kesedihannya.

“Eonni”

Yoona yang ditemani sang suami menjenguk kakak seperjuangannya itu. Taeyeon dan Leeteuk menyambut kedatangan pasangan itu dengan bahagia. Ia kembali berusaha untuk mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Mencoba move on dari takdir yang diberikan sang ilahi.

“Yoona-ah”, Taeyeon tersenyum bahagia menyambut mereka berdua.

“Bagaimana keadaanmu sekarang???”

Pasangan itu membawakan satu pot bunga, yang dipercaya Yoona dapat mempercepat pemulihan Taeyeon. Entah dari mana ia mendapatkan kepercayaan seperti itu, tapi yang jelas ia pernah mengalami hal itu. Seseorang juga pernah memberikannya bunga itu ketika masuk rumah sakit satu tahun yang lalu dan aroma khas nan harum yang dikeluarkan oleh bunga tersebut mampu membuat kondisinya yang ketika itu tengah lemah berangsur-angsur pulih. Mungkin karena aroma sejuk dan tenang yang dihasilkan bunga itu yang membuat pikirannya menjadi lebih tenang.

“Beginilah oppa”, Taeyeon memperlihatkan kondisinya pada tamunya

“Eonni, tadi aku mampir ke toko bunga dan aku belikan bunga ini untukmu. Bunga ini dipercaya dapat mempercepat penyembuhan”, Yoona menunjukkan bunga biru muda yang tadi ia dan suaminya belikan untuk Taeyeon.

“Gomawo Yoona-ah, gomawo oppa”

Ia raih bunga tersebut. Sedikit mencium dan juga membelai lembut daunnya yang tidak terlalu besar, tapi cukup indah apabila dipasangkan dengan kelopak bunga yang tidak terlalu besar pula.

“Wangi sekali”, Ujarnya ketika selesai mencium bunga tersebut

“Bunga itu mengeluarkan aroma yang mampu menyejukkan hati. Semoga keadaan eonni bisa lebih tenang ketika menghirup aroma itu”, Terangnya.

Yoona pun mengambil bunga yang tadi berada di tangan Taeyeon. Ia meletakkannya di atas meja sebelah kasur Taeyeon. Berharap agar aroma sejuk dari bunga tersebut dapat dengan mudah merasuki hidung sang kakak.

“Oppa kenapa lari ke sana??? Bukankah tadi oppa sedang menyuapi eonni”

Yoona menatap Leeteuk yang perlahan-lahan menjauh dari istrinya. Padahal sebelumnya ia tengah menyuapi istrinya dan ketika Yoona dan suaminya datang, ia seakan memberi jarak pada kedua orang itu untuk lebih leluasa melihat dan berkomunikasi dengan istrinya itu.

“Bukankah tadi kau yang menyuruh oppa pindah”, Ujar Leeteuk

“Oppa bercanda”

Yoona mengaruk kepalanya, mencoba mengingat apakah benar ia yang telah menyuruh Leeteuk pindah dari samping istrinya. Ia pun segera mundur dan mempersilahkan Leeteuk untuk kembali berada di sebelah sang istri.

“Aku sudah kenyang oppa”, Taeyeon menolak makan yang diberikan sang suami

“Kenyang dari mana?? Kau baru makan dua suap”, Leeteuk kembali menyodorkan makanan untuk sang istri

Taeyeon mengelengkan kepala. Ia merasa sudah kenyang saat ini. Perutnya seakan tak mau lagi diisi, padahal sebelumnya ia merasa sangat kelaparan karena tak makan selama hampir dua hari berturut-turut. Ia akui nafsu makannya kala itu hilang.

“Eonni harus banyak makan, biar cepat sembuh”, Yoona membujuk Taeyeon.

“Untuk apa aku sembuh”

Tiba-tiba saja Taeyeon mengejutkan semua orang. Sifatnya yang tadi ceria sekarang kembali tak terkendali. Sama persis seperti beberapa hari yang lalu. Tak ada yang akan menyangka kalau keceriaan yang ia tunjukkan hari itu hanya bertahan sebentar, bahkan tak sampai setengah jam.

“Eonni jangani seperti itu! aku juga pernah berada di posisi seperti ini dan aku bahkan pernah akan bunuh diri, tapi kemudian aku teringat akan orang-orang yang selalu setia menyayangiku. Mereka selalu memberiku semangat kalau keguguran bukanlah akhir dari kebahagiaan. Bahkan itu merupakan awal dari terciptanya kebahagiaan yang abadi. Eonni percayalah

Perkataan Yoona mampu membuat air mata Taeyeon keluar. Ia tak pernah membayangkan kalau adiknya itu sempat mengalami stress yang lebih parah darinya. Ia mungkin sedih dengan apa yang terjadi, tapi tak ada satu pun niatannya untuk mengakhiri hidupnya. Semua perkataannya itu hanyalah untuk meluapkan kesedihannya.

Ia pun menatapi sang suami yang telah siap untuk memberinya makanan. Tak ingin terus menyakiti perasaan orang-orang yang ia sayangi, akhirnya Taeyeon pun kembali mau menerima suapan sang suami. Perkataan Yoona sedikit banyaknya mampu membuat matanya terbuka. Setidaknya ia memiliki orang yang mengerti bagaimana perasaannya saat itu.

©   ©   ©

Seminggu di rumah sakit, sekarang waktunya bagi Taeyeon untuk meninggalkan semua kenangan pahit disana. Ya, beberapa jam yang lalu sang dokter memberitahukannya bahwa kondisinya saat ini sudah baik dan ia sudah diperbolehkan untuk pulang. Rasa bahagia pun tak bisa ia utarakan siapa pun. Ia senang sekali bisa bebas dari rumah sakit yang baginya tak mengenakkan. Baunya seakan-akan membuatnya tambah sakit.

“Kau sedang apa??”,

Leeteuk yang baru saja kembali dari aktivitasnya heran melihat sang istri yang sudah tak lagi berbaring di atas ranjangnya. Tapi yang membuatnya terkejut bukan hanya itu, tapi kegiatan sang istri saat itu yang tengah sibuk merapikan barang-barang bawaannya.

“Aku sedang membereskan barang-barangku oppa. Tadi dokter bilang kalau aku sudah boleh pulang”, Taeyeon tersenyum bahagia.

Leeteuk terlihat bahagia mendengarkan apa yang baru saja disampaikan oleh sang istri. Sudah lama sekali rasanya ia tak melihat istrinya itu tersenyum bahagia seperti saat itu. Tawa dan senyumannya seakan tak pernah hilang. Ia sangat bersyukur atas kesehatan yang kembali dirasakan oleh sang istri.

“Taeyeon-ah”, Pintu kamar rawatnya terbuka.

Ditengah rasa bahagia yang melanda kedua pasangan itu. Seseorang datang berkunjung. Tiffany dan Sooyoung datang menemui Taeyeon. Sembari membawa beberapa camilan mereka masuk dan menyapa kedua orang yang tengah sibuk berbenah.

“Kau sudah boleh pulang???”, SooYoung langsung saja bertanya ketika melihat tas besar sudah terpajang dengan indah di dekat ranjang rawatnya.

“Iya, kata dokter aku sudah boleh pulang”, Ujar Taeyeon bahagia

“Kita harus merayakan hal bahagia ini”, Tiffany juga tak kalah bahagianya.

“Untuk beberapa hari ini, Taeyeon tidak boleh kemana-mana”

Leeteuk merusak senyuman manis yang tengah dipamer oleh ketiga wanita cantik itu. Ia belum bisa mengizinkan istrinya itu untuk bergerak terlalu banyak. Ia masih khawatir kalau kondisi kesehatan sang istri kembali menurun. Dokter pun berkata agar tak membiarkan Taeyeon beraktivitas terlalu berat terlebih dahulu. Setidaknya untuk beberapa hari kedepan.

“Oppa”

Taeyeon merajuk. Ia tak terima sang suami melarangnya untuk bersenang-senang dengan sahabat-sahabatnya. Sudah lama sekali ia tak bersenang-senang dengan mereka. Mungkin sejak hamil dahulu ia sudah jarang menghabiskan waktu bersama mereka.

“Kau harus banyak istirahat”, Leeteuk mengecup kening istrinya itu dan meninggalkannya bersama sahabat-sahabatnya.

Taeyeon menatap SooYoung dan Tiffany tak senang. Ia merasa bersalah tak bisa mengabulkan keinginan sahabatnya itu. Meskipun sebenarnya ia sangat ingin melakukan hal itu. Setidaknya sebelum kegiatan mereka benar-benar menyita semua waktu sengang.

“Bagaimana kalau pestanya kita adakan ketika kau sudah benar-benar pulih”, Usul Tiffany

“Benarkah”, Taeyeon kembali tersenyum bahagia

“Pasti. Lagi pula kalau sekarang tak semuanya bisa kumpul”, Ujar SooYoung

“Memangnya siapa yang tak bisa datang?”, Taeyeon coba mengingat jadwal sahabat-sahabatnya

“Yuri sedang di Jepang. Dia sedang bersama kekasihnya. Mereka sedang kerja disana. Selain itu Yoona juga sedang di Taiwan.”, Terang SooYoung

“Yoona ada acara apa di taiwan?”, Tanyanya lagi

“Seung gi oppa bilang mereka mau honeymoon lagi, tapi kata Yoona mereka ada pekerjaan disana. Aku tak tahu harus percaya pada siapa”, Jelas Tiffany bingung.

Mereka bertiga sama-sama memikirkan fakta yang benar mengenai pasangan suami istri yang satu itu. Terkadang penjelasan yang diberikan Yoona tak selalu sama dengan suaminya. Mereka selalu berkata kalau Yoona mendapatkan suami terbaik karena selalu bisa mengimbangi sifat Yoona yang tak bisa ditebak. Tapi seung gi, pria itu dapat mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh istrinya itu. Mungkin itulah yang dinamakan cinta sejati.

“Pasangan itu memang selalu tak jelas”, Ujar Tiffany yang sukses membuat mereka tertawa.

“Biarkan saja. Mereka juga jarang bisa bersama seperti itu”, Sambung Sooyoung

“Iya kalian benar. Eh, bagaimana dengan Yuri? Sepertinya mereka benar-benar serius”, Taeyeon mengungkit kejadian beberapa bulan yang lalu.

“Iya, sepertinya mereka tidak main-main. Mereka juga sudah mengurus berkas-berkas pernikahan”, Terang SooYoung

“Pernikahan???? Siapa yang nikah??? Kau SooYoung???”

Leeteuk yang baru saja kembali setelah mengurus semua administrasi terkejut mendengarkan kata pernikahan yang terlontar dari mulut Sooyoung. Ia sama sekali tak tahu menahu kalau akan ada pernikahan diantara sahabat istrinya itu.

“Aku harap begitu oppa, tapi sampai sekarang ia belum menunjukkan tanda-tanda untuk itu”, Sooyoung menautkan bibirnya

“Oppa belum tahu?”,Tiffany memandang Taeyeon

“Aku sudah pernah cerita. Aku pikir dia mendengarkanku, tapi ternyata aku hanya bicara sendiri”, Terang Taeyeon sambil menatap sang suami

Leeteuk bingung. Ia merasa tak pernah mendengar cerita apa pun dari sang istri mengenai rencana pernikahan itu. Apakah ia terlalu sibuk hingga tak pernah lagi duduk bersama hanya sekedar menikmati secangkir teh, sembari berbincang-bincang.

“Kau pernah cerita”, Leeteuk memutar otaknya.

“Kapan???”

Ia bekerja keras untuk mengingat kejadian itu. Taeyeon menatap Leeteuk yang tengah berusaha mengingat kejadian itu. Ia membiarkan suaminya itu berfikir keras. Mungkin sekali-kali ia harus membantu untuk memulihkan ingatan sang suami.

“Aku benar-benar tak bisa mengingat kapan”

Taeyeon menatap Leeteuk. Ia tak mengucapkan apa pun. Hanya sebuah pandangan sebagai isyarat agar sang suami kembali memainkan memori otaknnya untuk mencaritahu kapan hal itu terjadi.

To Be Continue

Kira-kira bagaimana ya suasana pernikahan Yuri dan Jang Geun Seuk????

Tunggu kelanjutannya ^_^

Oh iya, aku tunggu ya kritik and saran dari pembaca sekalian

Khamsahamnida

http---signatures.mylivesignature.com-54492-198-DFA94A137106D830CAD4297F5A59CA05

Chapter 4

“Today, Tomorrow, and Forever I Love you”

Kim TaeYeon and Leeteuk / Suju and SNSD / Friendship, Romance, Mellow, Marriage Life / PG 15+

Copyright@dongjae0590

– Happy Reading –

Cahaya matahari di pagi itu perlahan-lahan mulai menerangi seisi rumah Leeteuk dan juga Taeyeon. Sepasang anak manusia yang belum lama ini mengikat janji sehidup semati di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Keputusan untuk mengakhiri masa lajang bukanlah perkara mudah bagi kedua insan ini. Karir yang tengah melejit sebagai seorang public figure membuat mereka harus memikirkan segala sesuatunya. Mereka harus lebih bisa membagi waktu antara keluarga dan juga pekerjaan sebagai seorang artis. Sepertinya kedua pasangan ini paham betul dengan tanggung jawab baru yang mereka miliki dan mereka yakin akan dapat menjalaninya dengan imbang, tanpa cacat sedikit pun.  Cahaya matahari di pagi itu perlahan-lahan mulai menerangi seisi rumah Leeteuk dan juga Taeyeon. Sepasang anak manusia yang belum lama ini mengikat janji sehidup semati di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Tumpukan pekerjaan sekarang menanti kedua anak manusia ini. Setelah mengambil cuti selama satu minggu untuk berbulan madu, sekarang tiba waktunya untuk kembali kepada realita. Tidak ada lagi bermalas-malasan di atas kasur. Tidak ada lagi kata tunggu ataupun nanti.

“Ireona!!!”, Untuk kesekian kalinya TaeYeon membangunkan suaminya

“Hmmm…”, Bukannya langsung duduk, tapi Leeteuk malah menarik selimut dan menukar posisi tidurnya

Itulah rutinitas baru TaeYeon, membangunkan suaminya dari alam mimpi dan itu sangatlah sulit. Sudah berbagai macam cara ia lakukan untuk membangunkan pria itu, tapi hasilnya nihil. Mulai dari memukul, mengelitik, hingga memercikkannya dengan air pun sudah pernah ia lakukan. Tapi apa, suaminya itu tetap saja tidak mau bangun.

“Ayo,..katanya pagi ini ada jadwal”, TaeYeon pasrah dan akhirnya kembali berbenah.

“Sekarang jam berapa???”, Ia berusaha membuka mata

“Sudah jam 8 oppa”, Jawab TaeYeon

“Apaaaaaa???”, Dengan segera Leeteuk langsung beranjak dari tempat tidur

“Kenapa???”, Tanya TaeYeon yang bingung menatap sang suami kalang kabut menyiapkan dirinya.

Begitulah kalau ia sudah terlambat. Mundar mandir mengelilingi kamar. Tidak tahu hendak melakukan apa. Taeyeon hanya bisa menonton tingkah laku suaminya itu dari meja riasnya. Ia bahkan sesekali tertawa geli melihat raut wajah lucu yang dipertontonkan suaminya itu.

“Kenapa tidak membangunkanku dari tadi”, Omelnya.

“Aku sudah membangunkanmu dari  pukul 7 tadi oppa”, TaeYeon beranjak dari meja hias

TaeYeon pun keluar dari kamar dan membiarkan sang suami sibuk dengan kerepotannya. Meskipun dalam hati ia tak tega, tapi itu sudah menjadi konsekuensinya. Kenapa tidak segera bangkit ketika dibangunkan.

Sembari menyiapkan sarapan untuk sang suami, TaeYeon tak henti-hentinya tertawa sendiri melihat prilaku sang suami yang seperti orang kebakaran jenggot.

TaeYeon pun membawakan roti dan secangkir kopi ke dalam kamar dan meletakkannya di atas meja samping kasurnya. Sambil menunggu Leeteuk selesai mandi, ia pun merapikan tempat tidur dan menyiapkan baju yang akan dikenakan sang suami.

“Oppa sudah telat”, Ucap Leeteuk ketika keluar dari kamar mandi

“Makanya kalau dibangunin itu jangan hmm..hmmm…saja, tapi bangun”, TaeYeon membantu sang suami memasangkan kancing baju. Leeteuk diam. Ia mengakui kalau dirinya salah karena tidak beranjak dari tempat tidur saat istrinya membangunkan sejak pertama kali.

“Kau tidak ada jadwal hari ini???”, Leeteuk merapikan rambutnya

“Nanti jam 12”, Balasnya

Dengan lembut Leeteuk mencium kening sang istri dan segera bergegas ke luar kamar. Ia bahkan hampir lupa membawa tas saking ribetnya.

“Oppa sarapannya”, Taeyeon menyodorkan roti dan kopi

“Oppa tidak sempat”, Ucapnya. Tapi akhirnya ia mengambil roti dari tangan TaeYeon dan meminum kopi.

Leeteuk menatap wajah polos sang istri sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan wanita itu sendirian. Ia juga tak lupa meninggalkan noda di bibir sang istri. Sebuah ciuman yang ia berikan tepat di bibir sang istri sebelum pergi meninggalkannya.

“Oppa”, TaeYeon membersihkan mulutnya yang terkena bekas kopi yang tadi diminum Leeteuk.  Ia melambaikan tangan dan menutup pintu.

“Pria itu merusak lipstikku saja”, TaeYeon mendekatkan bibirnya pada kaca rias dan memperbaiki lipstiknya

Sembari menunggu jemputan salah seorang membernya, ia menyempatkan diri untuk membersihkan piring dan beberapa alat masak bekas ia tadi pagi. Rutinitas baru setelah resmi dipersunting leader super junior itu. Meskipun pekerjaan bersih-bersih bukanlah baru baginya, tapi tetap saja menjadi hal baru ketika melakukannya di rumah sendiri.

Bell apartement pun berbunyi, orang yang ia nanti telah datang. Yoona yang tinggal dua lantai di atas apartementnya datang menjemput eonninya untuk berangkat bersama.

“Eonni udah siap??”, Yoona memperhatikan kostum yang dikenakan eonninya pagi itu.

“Sudah”, TaeYeon segera mengambil tas miliknya

“Eonni”, Sapa Yoona sambil tertawa

“Ada apa?”.

“Eonni yakin mau pergi seperti itu?”, Yoona menunjuk celemek yang masih mengikat tubuh kakak tertuanya itu.

Saking tergesa-gesanya TaeYeon sampai lupa melepas celemek yang sedari tadi ia gunakan untuk melindungi bajunya dari kotoran dapur.

“Eonni kenapa bawaannya banyak sekali???”, Yoona membantu TaeYeon mengangkat dua buah tas yang sudah ia persiapkan.

“Tasku cuma satu dan yang satunya lagi bukan punyaku. Sepertinya ada yang ketinggalan tas ini setelah pesta tadi malam”, Terang TaeYeon

“Siapa???”, Tanya Yoona

“Tidak tahu. Isinya hanya beberapa kertas. Mungkin anak-anak yang lain tahu tas ini milik siapa”, Ujar TaeYeon

TaeYeon memastikan rumahnya ditinggalkan dalam keadaan aman sebelum benar-benar meninggalkannya. Ia tidak ingin pulang dan mendapatkan rumahnya dalam keadaan yang tidak wajar.

“Ngomong-ngomong, bukannya kau menginap di dorm semalam?? Kenapa bisa ada disini???”, Tanya TaeYeon binggung

“Ooo…tadi malam waktu aku sampai di dorm, tiba-tiba oppa menelpon dan bilang kalau dia dalam perjalanan pulang. Ya sudah aku putar balik saja”, Terangnya

“Bukannya Seung Gi oppa di Busan tiga minggu?? Kenapa baru beberapa hari sudah pulang??? Syutingnya sudah selesai???”, TaeYeon menutup pintu apartementnya

“Aku juga kurang mengerti eonni. Mungkin Seoul lebih baik dari pada Busan. Aku tidak tahu”, Ucap Yoona senang

“Hmmm…sepertinya kita akan kehilanganmu”, Ucap TaeYeon

Yoona tertawa dan sesekali mencubit pinggang eonninya itu. Ia sangat senang setelah mendengar kabar dari sang suami mengenai perpindahan lokasi syuting. Dan ia juga tak memungkiri kalau waktunya untuk member-membernya akan berkurang.

“Terus sekarang suamimu di rumah???”, Tanya Taeyeon

“Dia sudah pergi ketika aku masih tidur eonni. Menyebalkan”, Yoona yang tadinya tersenyum ceria, tiba-tiba menjadi cemberut.

Ditengah raut wajah yang murung, Yoona memasang sabuk pengamannya. Ia dan juga TaeYeon sudah siap untuk segera meluncur ke dorm mereka. Meskipun jarak dorm dan apartement mereka berdekatan, tapi tetap saja mereka harus mengendarai mobil agar tidak terjadi keributan di jalan akibat kehadiran mereka.

©   ©   ©

Seperti hari-hari sibuk lainnya, dorm mereka akan terlihat seperti pasar traditional. Ribut, heboh, dan semuanya serba berserakan. TaeYeon dan Yoona yang baru saja datang tak merasa heran sekalipun dengan apa yang tengah mereka saksikan. Hal itu sudah umum bagi mereka berdua. Sekarang semenjak tinggal terpisah, mereka jadi tahu seribet dan seberantakkan apa dorm yang mereka akibatkan.

Oo..TaeYeon-a, Yoona-ah wasseo??”, Sapa HyoYeon yang baru saja melintas di depan mereka dengan secangkir teh.

TaeYeon meletakkan tasnya di atas kursi dan segera beranjak menuju dapur, sedangkan Yoona memilih untuk duduk di sofa menyaksikan member yang tengah bersiap-siap.

“Tidak ada makanan?”, Tanya TaeYeon kepada SeoHyun yang tengah menerima telpon dari seseorang.

“Di dalam sana ada kok”, SeoHyun menunjuk ke arah yang tak pasti

“Percuma saja, bertanya pada orang yang sedang sayang-sayangan”, SeoHyun langsung mendapatkan sorotan sadis dari sang maknae.

“Sudah berapa lama?”, Tanya TaeYeon sambil melahap sereal milik SooYoung

“Udah hampir satu jam. Maklum yang CLBK”, Jawab SooYoung

Begitulah sifat mereka setiap harinya, saling menjahili sesama, tetapi dibalik itu ada rasa kasih sayang mereka miliki untuk sesama.

“TaeYeon-ah, bagaimana malam pertama dirumah baru???”, Tanya Tiffany penasaran

Mendengar pertanyaan itu Sunny, SooYoung, SeoHyun, Jessica, dan Yuri yang saat itu sedang berada dekat dengan TaeYeon mendekatkan tubuh mereka untuk mendengarkan ceritanya. Tapi TaeYeon tidak mau menceritakannya, ia hanya senyum-senyum manis menanggapi pertanyaan sahabat-sahabatnya itu. Ia tahu kalau pertanyaan itu bukanlah pertanyaan sembarangan dan ia tahu betul apa yang diinginkan member-membernya itu.

“Ya,..TaeYeon-ah, kenapa kau jadi seperti Yoona tidak mau cerita?”, HyoYeon memaksa

“Sekarang aku baru tahu kenapa Yoona tak mau bercerita pada kalian”, Sambil tertawa TaeYeon pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya menuju kamar

Yoona yang baru saja selesai menerima telpon dibuat terkejut dengan ekspresi sahabat-sahabatnya yang seolah-olah akan menjadikannya sarapan pagi. Tanpa berkata apa-apa perlahan-lahan Yoona menjauh dan memasuki kamar tempat TaeYeon berada.

“Eonni, kenapa mereka menatapku seperti itu?”, Tanya Yoona penasaran. TaeYeon hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dongsaengnya itu.

Mereka pun kembali berbenah, setelah intermezo sejenak. Yoona dan TaeYeon yang sudah selesai pun ikut membantu member-membernya berbenah. Ini merupakan jadwal pertama TaeYeon setelah ia menikah dan kembali dari honeymoon.

“Ini tas siapa???”, HyoYeon mengangkat tas yang tadi di bawa oleh TaeYeon

“Tas itu tadi aku yang bawa. Sepertinya ada yang meninggalkan tas itu di rumah”, TaeYeon mendekati HyoYeon

HyoYeon kemudian membuka tas tersebut. Ia terkejut dan langsung menatap TaeYeon sambil mengangkat sebuah kertas. TaeYeon balas menatap HyoYeon dengan tatapan bingung.

“Yuri-ah”, Sapa TaeYeon menghampiri. Yuri membalikkan badannya menatap TaeYeon dan HyoYeon yang terlihat seolah-olah akan memangsanya.

HyoYeon pun menyerahkan beberapa berkas yang tadi ia temukan bersama TaeYeon di dalam tas milik TaeYeon.

“Ini apa???”, Tanya TaeYeon

“Kenapa tidak cerita???”, Ujar HyoYeon

“Sebenarnya aku mau cerita, tapi oppa tidak mengizinkanku”, Terang Yuri.

Berita bahagia yang disembunyikan Yuri sekarang telah terbongkar. Seperti yang selalu disorakkan Tiffany, bahwa tidak ada rahasia diantara mereka dan sekarang semuanya terbukti. Mereka tidak akan bias merahasiakan segala sesuatunya begitu lama karena semuanya akan terbongkar tanpa sepengetahuan mereka sendiri.

©   ©   ©

Setelah penat seharian bekerja, akhirnya Leeteuk bisa juga menikmati indahnya bersantai. Sembari menanti sang istri pulang bekerja, ia memutuskan untuk rehat sejenak di beranda apartemen mereka. Ditemani secangkir teh hangat ia menikmati indahnya malam dengan taburan bintang yang begitu indah. Tidak ada awan gelap ataupun kabut yang menyembunyikannya dari seluruh penduduk Kota Seoul malam itu.

Tiiinnniinnnggg,…..Pintu apartment terbuka, tanpa melihat siapa yang datang, ia sudah bisa menebak kalau itu adalah istrinya, TaeYeon. TaeYeon yang baru saja memasuki ruang tamu langsung mencari sang suami, yang ia yakini sudah berada di rumah dari tadi.

Ketika hendak memasuki kamar, ia melihat pintu beranda terbuka. Dengan segera ia pun mendekati pintu itu dan benar, pria yang dari tadi ia cari tengah duduk santai menikmati indahnya ciptaan Tuhan dengan ditemani oleh secangkir teh buatannya sendiri. Perlahan-lahan ia dekati suaminya itu dan menutup kedua mata sang suami dengan kedua tangannya.

Yeobbeo“, Sapa Leeteuk sambil memegangi tangan istrinya.

TaeYeon tersenyum ketika Leeteuk berhasil menyingkirkan tangannya dari kedua mata suaminya itu. Leeteuk menarik tangan istrinya dan menyuruhnya untuk duduk di pangkuan.

“Kenapa baru pulang???”, Tanya Leeteuk dengan nada yang sangat manis

“Kerjaanku baru selesai pukul 9 oppa, makanya baru sampai di rumah jam segini”, TaeYeon mengambil cangkir teh dari tangan suaminya dan meminumnya. .

“Oppa kenapa malam-malam duduk disini, nanti masuk angin”, Ujar TaeYeon mencemaskan kesehatan sang suami. Leeteuk tersenyum sambil berkata,” Kau sudah makan belum?”,

“Belum”, Jawab TaeYeon singkat.

“Baiklah, kau mandi dulu, biar oppa siapkan makanan”, TaeYeon mulai meninggikan alis kirinya. Ini pertama kalinya ia mendengar bahwa suaminya itu akan memasak untuknya.

“Oppa mau masak??? yang bener saja??”, TaeYeon tidak percaya

Leeteuk mengantarkan istrinya hingga depan pintu kamar mandi. Seperti seorang pelayan Leeteuk membukakan pintu kamar mandi dan mempersilahkan sang istri untuk masuk. TaeYeon hanya bisa tersenyum manis melihat tingkah suaminya yang sedikit berbeda dari hari biasanya.

Sembari menunggu TaeYeon selesai mandi, Leeteuk menyiapkan makanan kesukaan TaeYeon, yaitu sup kimchi untuk menu makan malam mereka berdua. Walau pun ia tidak terlalu bisa memasak, tetapi ia sudah belajar khusus pada sang ibu mertua untuk memasak semua makanan yang digemari Taeyeon, termasuk sup kimchi.

Bak seorang chef profesional, ia memotong semua bahan-bahan yang ia butuhkan dengan sangat rapi. Ia masukkan semua bahan dan bumbu-bumbu yang telah dipersiapkan ke dala panci. Sesekali ia cicipi masakan yang tengah dimasak itu. Saat dirasa sudah pas, barulah ia mematikan api dan menyajikannya di meja makan.

“TaeYeon pasti suka masakanku”, Leeteuk meletakkan sup buatannya di atas meja

Selesai mandi, TaeYeon langsung menuju meja makan dan betapa terkejutnya ia saat melihat sup kimchi yang berasap terhidang di atas meja.

“Oppa yang membuat semua ini??”, TaeYeon tidak percaya

“Untuk istriku tercinta, apa pun akan oppa lakukan”, Ucap Leeteuk sembari membukakan kursi untuk TaeYeon.

TaeYeon pun duduk di kursi yang sudah dipersiapkan sang suami. Ia langsung mencicipi masakan Leeteuk dengan sangat hati-hati. Selama ia pacaran dan kemudian menikah, ini adalah pertama kalinya Leeteuk memasak untuknya.

“Eottaeyo??”, Leeteuk mendekatkan kepalanya pada TaeYeon yang tengah mencicipi masakannya

TaeYeon terus mengunyah,  menguyah, dan akhirnya mengeluarkan sebuah kata-kata,” Hmmm…massita”, Ucapnya.

“Tukan, oppa sudah bilang kalau ini pasti enak”, Leeteuk memuji jirih payahnya sendiri.

“Arraseo,..sepertinya aku bisa pensiun cepat di dapur”, Canda TaeYeon

Leeteuk menghiraukan candaan istrinya dan meletakkan beberapa potongan daging ke atas mangkok sang istri, ” Kau harus makan yang banyak, agar tidak sakit. Jadwalmu sudah mulai padat akhir-akhir ini”, Ucap Leeteuk

“Iya oppa. Sebulan tidak beraktivitas seperti ini membuat badanku jadi pegal-pegal”, Ujarnya

“Kalau oppa sempat, akan oppa buatkan makan malam untukmu setiap hari”, Ujar Leeteuk

“Jinjja oppa”, TaeYeon menaikkan wajahnya

“Gomawo-yo oppa”, TaeYeon meneruskan makannya

TaeYeon terus melahap semua makanan yang dihidangkan suaminya, entah memang lapar ataukah memang karena masakan yang dibuat Leeteuk yang begitu enak.

Sehabis makan, Leeteuk dan TaeYeon duduk di ruang keluarga. Mereka saling berbagi mengenai aktivitas pertama yang baru saja mereka jalani setelah berbulan madu.

“Bagaimana tadi???”, Tanya Leeteuk

“Biasa saja oppa, tapi itu dia karena terlalu lama istirahat jadinya cepat capek”, Jawab TaeYeon

“Sebentar lagi juga terbiasa”, Leeteuk memijit istrinya

“Sudah oppa, sini biar aku pijit”, TaeYeon membalikkan badan dan memijit suaminya

“Oppa tau tidak, tadi aku dan HyoYeon menemukan berkas pernikahan”, Ujarnya pada Leeteuk

“Sepertinya mereka sudah merencanakan sebuah pernikahan”, Sambungnya

Tak lama setelah itu, TaeYeon pun menyadari sesuatu,”Oppa,…Oppa,…Oppa,..”, TaeYeon mengoyang-goyangkan tubuh suaminya. Tapi sepertinya Leeteuk sangat lelah untuk mengeluarkan sepatah kata. Akhirnya Leeteuk menurunkan badannya dan tidur di pangkuan TaeYeon.

“Oppa kalau mau tidur di dalam saja”, Ujar TaeYeon

“Oppa”, TaeYeon mengoyang-goyangkan kakinya

Tapi tetap saja Leeteuk tidak beranjak dari pangkuan TaeYeon. Dengan terpaksa ia harus menerima Leeteuk tidur dipangkuannya. Sesekali ia belai rambut Leeteuk yang saat itu di beri warna merah.

“Gomawo-yo”, Ujarnya

“Aku janji akan menjadi istri yang setia dan baik kepadamu oppa”, Sambungnya

Sambil menatap langit yang mulai mendung, TaeYeon mengelus-elus kepala suaminya itu dan akhirnya ia pun tertidur dengan posisi memegangi kepala Leeteuk.

©   ©   ©

Hidup sebagai sepasang suami istri sangat dinikmati oleh TaeYeon dan Leeteuk. Mengukir kisah cinta yang telah lama mereka mulai. Menyimpannya dalam memori masing-masing dan berharap agar kebahagiaan yang saat ini mereka rasakan tak pernah hilang. Kebahagiaan ditengah hadirnya calon anggota baru di dalam kehidupan mereka. Sesosok janin yang baru empat bulan ini bersemayam di dalam rahimnya.

TaeYeon pun dengan resmi mengurangi pekerjaannya demi sang jabang bayi. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan calon anaknya itu. Ia rela berhenti sejenak dari panggung hiburan demi dia.

”Oppa,..aku mau makan kimchi buatan omma”.

Ini bukan kali pertamanya sang istri merajuk meminta sesuatu. Sebelumnya ia pernah meminta bibimbab khas Jeonju dan pernah pula ia meminta fish cake dari Busan. Leeteuk sungguh di buat kewalahan dengan sifat ngidam sang istri. Ia tak pernah membayangkan akan seperti itu proses ngidam. Setaunya wanita ngidam biasanya hanya meminta makanan tertentu dan tidak terlalu jauh, tidak seperti permintaan istrinya yang membuatnya harus terbang keliling negeri.

Dan kali ini sang istri meminta kimchi. Kimchi yang dibuat langsung oleh mertuanya. Begitu banyak penjual kimchi di Seoul, tetapi kenapa harus kimchi buatan mertuanya, yang notabene tinggal ratusan kilometer dari kediamannya sekarang.

“Aduh,,..Oppa, hari ini harus perform, tidak bisa keluar kota”.

Leeteuk tidak bisa memenuhi permintaan istrinya kali ini. Ia tidak mau mengecewakan member-membernya untuk kesekian kalinya. Sudah cukup rasanya ia mengikuti proses ngidam sang istri, yang menurutnya keterlaluan. Kali ini ia memilih pekerjaannya dan bukan istrinya. Ia paham betul konsekuensi dari pilihannya itu dan ia terima. Ia bahkan sudah beberapa kali mendapatkan peringatan karena sering hilang ataupun tidak datang ketika waktu kerja datang.

“Bagaimana kalau minta tolong member-membermu saja??”.

Leeteuk benar-benar tidak bisa memenuhi permintaan istrinya itu kali ini. Ia benar-benar minta maaf. Ia sudah berjanji pada member-membernya bahwa hari ini akan ikut tampil di acara music special, yang selalu diadakan stasiun TV dalam memperingati datangnya musim panas.

“Aku maunya oppa yang menjemput”.

Leeteuk di buat pusing oleh situasi ini. Sejujurnya ia ingin sekali mengabulkan permintaan sang istri, tapi di satu sisi ia juga tak ingin mengecewakan member-membernya untuk kesekian kali. Terkadang ada penyesalan kenapa ia membuat istrinya itu hamil di saat yang tidak tepat, tapi di sisi lain ia bahagia karena akan menjadi seorang ayah. Ia benar-benar bingung. Bingung dengan pilihannya sendiri.

“Maafkan oppa sayang, nanti kalau sempat oppa jemput kimchinya”.

Dengan terpaksa Leeteuk harus meninggalkan istrinya itu seorang diri. Ia harus menepati janjinya kali ini. Ia tak ingin mengecewakan mereka lagi. Sebelum pergi, ia sempatkan untuk mencium kening sang istri.

TaeYeon masih saja cemberut, meskipun suaminya itu telah lama meninggalkannya di rumah. Ia tak percaya kalau suaminya itu lebih memilih pekerjaannya dari pada menuruti permintaannya. Pekerjaan memang lebih penting, tapi apakah anaknya tidak lebih penting dari pada itu. Sungguh ia tak percaya.

“Oppa kau jahat”.

Sesekali ia membanting piring yang tengah dia cuci, tapi beruntung piring itu bukanlah piring kaca yang akan pecah apabila di banting. Ia bahkan tak memperhatikan lagi keselamatannya saking kesalnya.

“Jadi dia sudah tidak mau lagi menuruti permintaanku. Ok kalau begitu”.

TaeYeon tak bisa lagi menahan perasaannya. Ia sangat menginginkan kimchi itu, tapi sang suami tak mau menjemputkannya. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukannya sendiri. Ia memutuskan untuk menjemput sendiri kimchi yang sangat ia inginkan itu. Sekarang prioritas utamanya adalah calon bayinya. Ia akan melakukan apa saja untuk sang jabang bayi. Termasuk menjemput kimchi buatan sang ibu.

©   ©   ©

“TaeYeon eonni pasti suka kalau aku buatkan ini”.

Yoona berjalan menuju apartement TaeYeon sembari membawa sebuah kotak. Ia sengaja membuatkan salad kesukaan eonninya itu. Walaupun simple, tapi itu adalah favorit eonninya dan ia yakin kalau sang eonni akan menyukainya.

Sembari menuruni anak tangga, Yoona memeluk kotak berukuran kecil menuju apartemen TaeYeon. Ia memilih untuk menggunakan tangga darurat dari pada lift selain olah raga, ia merasa naik tangga lebih cepat dari pada harus menunggu lift yang entah kapan datangnya.

Ketika Yoona tiba di lantai 7, lantai tempat tinggal TaeYeon, ia melihat seorang wanita keluar dari apartement itu dan pergi dengan sangat tergesa-gesa.

“Eonni”.

Yoona memanggil wanita yang belum lama ini ia lihat keluar dari kediaman TaeYeon. Ia yakin sekali kalau wanita itu adalah leadernya, TaeYeon. Tapi TaeYeon terus melaju dan meninggalkannya. Ketika hendak mengejar, pintu lift langsung tertutup. Ia terus menekan tombol turun. Kali ini ia memutuskan untuk menunggu lift karena tidak mungkin ia dapat mengejar TaeYeon kalau naik tangga, yang ada TaeYeon sudah menghilang saat ia tiba di lantai dasar. Pintu lift akhirnya terbuka, langsung saja ia masuk dan sesegera mungkin menyusul TaeYeon.

Setibanya di lobi, Yoona langsung mencari keberadaan eonninya itu, mulai dari ruang tunggu, hingga parkiran. Tepat ketika Yoona hendak menginjakkan kakinya di parkiran, mobil sedan hitam milik TaeYeon lewat tepat di depannya. Ia panggil, tapi tidak berhasil. Langsung saja ia mendekati mobilnya dan segera menyusul TaeYeon. Beruntung sekali ia membawa kunci mobil karena setelah memberikan salad, ia berniat untuk mengunjungi mertuanya.

Mesin mobil pun ia nyalakan dan segera menekan gas. Dengan perasaan sedikit penasaran dan juga cemas, Yoona mencari keberadaan mobil TaeYeon yang mulai hilang dari pandangannya.

“Eonni mau kemana buru-buru seperti itu???”.

Yoona memperhatikan setiap mobil sedan hitam yang berpapasan dengannya. Ia takut terjadi apa-apa dengan eonninya itu. Apalagi sekarang sang eonni tengah hamil. Apapun bisa terjadi padanya.

Mobil milik Yoona mulai memasuki batas kota, ia pun akhirnya melihat sedan hitam yang selama ini ia cari tengah mengisi bensin. Tanpa fikir panjang, ia langsung melajukan mobilnya ke arah mobil TaeYeon, tapi sial sesampainnya ia di tempat pengisian bensin, mobil hitam itu langsung melaju meninggalkan mobil Yoona yang sedari tadi mengikutinya. Ia pun terus mengikuti mobil tersebut sambil mencoba menghubungi TaeYeon.

Panggilan pertama tidak di jawab, ke dua, ke tiga, hingga yang ke sepuluh kali tetap saja tidak di angkat. Entah kenapa perasaan cemas langsung menyelimuti dirinya.

“Eonni kenapa tidak di angkat”.

Yoona mencoba lagi, hingga ia berhasil menghubungi eonninya itu. Tapi ternyata, tidak satu pun telponnya di angkat.

Ia bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan eonninya. Malam harinya ketika ia berkunjung, TaeYeon terlihat biasa-biasa saja. Tapi sekarang, eonninya itu terlihat sangat terburu-buru bak mendapat kabar yang tidak enak.

“Bagaimana ini, Leeteuk oppa,..Leeteuk oppa,..”.

Akhirnya Yoona memutuskan untuk menghubungi suaminya. Setidaknya Leeteuk tahu apa yang terjadi dengan TaeYeon dan sedikit banyaknya dapat membuatnya sedikit tenang. Ia mencari nama Leeteuk di daftar contact ponselnya dan langsung saja menghubunginya.

“Oppa,..apa TaeYeon eonni baik-baik saja???”.

Yoona langsung saja berbicara to the point  padanya. Ia tak mau berbasa basi ditengah situasi seperti ini. Ia ingin kepastian mengenai keadaan eonninya saat ini juga.

Leeteuk sendiri juga dibuat terkejut dengan pertanyaan Yoona. Setaunya TaeYeon baik-baik saja dan tidak ada apa-apa dengan wanita yang sangat ia cintai itu. Yang sedikit berbeda hanyalah perutnya yang mulai membesar, selebihnya tidak ada apa-apa.

“Dia baik-baik saja, memang ada apa???? Kau bersamanya sekarang???”.

“TaeYeon eonni sepertinya sedang tergesa-gesa dan telponku juga diangkat”.

Yoona menjelaskan semua kekhawatirannya kepada Leeteuk. Ia tak memiliki pilihan lain, selain menghubungi suami eonninya itu.

“Sekarang kau dimana???”

Leeteuk mulai tidak tenang setelah mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan dari Yoona. Sepertinya ia mengerti mengapa TaeYeon bersikap seperti itu dan ia menyesal telah melakukan itu semua.

“Aku sekarang sedang mengikuti eonni”, Ucapnya

“Ok,..oppa sekarang benar-benar tidak bisa menyusul. Oppa minta tolong, sangat minta tolong padamu. Tolong jaga eonnimu itu. Oppa hari ini sudah buat dia kesal”.

Penyesalan memang selalu datang kemudian dan selalu saja tidak dimengerti oleh siapa pun yang merasakannya. Setidaknya itulah yang dirasakan Leeteuk saat ini. Ia menyesal telah membuat sang istri kesal dan tidak menuruti keinginannya.

“Dia kesal kenapa???”, Yoona memutar stir mengikuti arah mobil TaeYeon pergi

“Tadi pagi dia meminta oppa menjemputkan kimchi ke rumah ommanya dan kau tahu kalau itu tidak mungkin. Rumah ommanya jauh di Jeonju”, Terang Leeteuk

Yoona pun akhirnya menyetujui permintaan Leeteuk. Ia akan berusaha menjaga TaeYeon bagaimana pun caranya.

TaeYeon terus melajukan mobilnya meninggalkan jalanan utama Seoul dan mulai memasuki kawasan pinggiran Seoul. Ia masih tak habis pikir dengan suaminya.

“Apa dia pikir aku tidak bisa jemput sendiri”.

Ia menambah kecepakan mobilnya ketika memasuki area tol antar kota. Mungkin yang ia lakukan saat ini terbilang gila karena menyetir sendirian ke tempat yang tidak dekat, ditambah lagi dalam kondisi yang tengah hamil.

“Jangan panggil aku TaeYeon kalau tidak bisa melakukan semuanya sendiri”.

Titiiitttt,…Klakson mobil terus terdengar dari samping mobilnya. Yoona yang terus menekan tombol itu menatap sang eonni sambil memanggil-manggil namanya. Beruntung TaeYeon menyadari keberadaan Yoona dan langsung menghentikan mobilnya.

“Eonni sudah gila”.

Yoona langsung memarahi eonninya itu ketika keluar dari mobil. Ia tak habis pikir bahwa eonninya senekat itu.

“Yoona-ah”.

“Eonni jangan nekat seperti ini”.

“Maksudmu apa???”.

TaeYeon seolah-olah tak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan Yoona. Ia berterima kasih karena dongsaengnya itu sangat perhatian padanya, tapi kali ini. Ia tak butuh perhatian itu.

“Aku tahu eonni kesal dengan Leeteuk oppa, tapi jangan seperti ini juga. Eonni bisa bilang aku”.

Akhirnya Yoona berhasil mencegah TaeYeon untuk menjemput kimchi buatan sang ibu ke Jeonju. Di dalam mobil, TaeYeon menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan sang suami tadi pagi. Meskipun tidak mengetahui bagaimana perasaan TaeYeon secara keseluruhan, tetapi ia mengerti sedikit demi sedikit perubahan sikap eonninya itu.

©   ©   ©

Beberapa hari setelah tragedi kimchi berlalu, sekarang keadaan TaeYeon sudah mulai membaik. Proses ngidamnya perlahan-lahan mulai berkurang. Meskipun sesekali ia masih meminta, tapi tidak terlalu merepotkan.

Tiiinniiinnnggg,..Pintu dorm terbuka. HyoYeon, Jessica, dan Yoona yang ketika itu tengah berada di dorm terkejut dengan bunyi pintu yang telah dibuka. Setahu mereka lima member yang lain tidak akan bisa pulang setidaknya tiga jam lagi. Jessica dan Yoona pun langsung berlarian mendekati pintu.

“Eonni,..”, Yoona terkejut ketika melihat sosok kakak tertuanya itu muncul dibalik pintu dengan beberapa box dan juga tas yang ia bawa.

“Kau sendirian saja??”.

Jessica melihat ke arah luar, memastikan apakah benar leadernya itu datang seorang diri ataukah ada yang mengantarkannya.

“Yaaaa…itu apa??”, Hyoyeon tak kalah terkejutnya setelah melihat dua box dan satu tas yang tengah di bawa Jessica dan juga Yoona.

“Ini punya TaeYeon eonni”.

Semuanya serempak menatap ke arah TaeYeon, yang baru saja mendudukkan dirinya di atas sofa putih. Dia bahkan tidak memperhatikan ekspresi ketiga sahabatnya yang saat itu tengah menatapnya heran, apalagi dengan kardus-kardus yang ia bawa.

“Kau bawa sendiri???”. Hyoyeon meraih salah satu kardus yang di bawa TaeYeon dan membukanya perlahan.

“Aku tahu kalian bertiga tidak ada jadwal hari ini, jadi rencananya aku mau mengajak kalian membuat sesuatu untuk si baby”.

Dengan semangat yang mengebu-ngebu, TaeYeon meraih kardus yang berada tepat di depan Hyoyeon. Ia mengeluarkan satu persatu isi kardus itu dan menyusunnya dengan rapi di atas meja. Ia juga menunjukkan contoh akhir dari barang-barang tersebut kepada sahabat-sahabatnya itu.

“Kenapa tidak menghubungi kami saja untuk dijemput? Atau kami bisa datang ke rumahmu”.

Jessica tak henti-hentinya menceramahi TaeYeon sejak ia menginjakkan kakinya di dorm mereka. Ia sangat khawatir kalau sempat terjadi apa-apa dengannya. Ia tidak mau apa yang pernah dialami Yoona terjadi pula padanya.

“Kwinchanayo,..”.

TaeYeon hanya bisa tersenyum. Ia berterima kasih sekali dengan  perhatian yang ia peroleh dari semua pihak. Tapi ia yakin, semuanya akan baik-baik saja. Apalagi dokter tidak pernah memberitahukannya tentang kemungkinan-kemungkinan yang buruk tentang janinnya.

“Untung saja kau sampai dengan selamat, kalau tidak bagaimana??”, Lagi-lagi Jessica memarahi TaeYeon

Ia berusaha mengalihkan perbincangan dengan memberikan beberapa bahan untuk diolah menjadi berbagai macam barang-barang lucu untuk sang jabang bayi kelak.

“Kau disini dari tadi??”. TaeYeon menyapa Yoona yang tengah serius menjahit.

“Hmm,..tadi aku di antar oppa”

Yoona menjawab pertanyaan eonninya itu tanpa menatapnya. Dengan serius ia memperhatikan setiap jahitan yang ia hasilkan. Ia tak mau hasil karyanya buruk, ditambah lagi karyanya itu akan dikenakan oleh anak eonninya kelak. Jadi, ia harus tetap fokus.

“Suamimu tidak ada jadwal hari ini???”, TaeYeon kembali bertanya

“Jadwalnya cukup padat”, Terang Yoona

TaeYeon hanya mengangguk, mengiyakan penjelasan dongsaengnya itu. Ia paham betul bagaimana sibuknya seorang public figure.

Sembari berbincang-bincang dan sesekali bercanda, akhirnya apa yang membuat mereka sibuk dari tadi telah siap dipamerkan. Kegiatan seperti ini bukan kali pertama mereka lakukan. Terkadang apabila tengah bosan, mereka sering melakukan kegiatan-kegiatan kreatif seperti sekarang ini dan ujung-ujungnya hasil tersebut akan mereka sumbangkan ke panti asuhan atau hanya untuk disimpan, sebagai kenang-kenangan.

“Mau kemana??”, Jessica langsung menghentikan langkah TaeYeon, yang ketika itu hendak meninggalkan perkumpulan kecil itu.

“Aku mau ke kamar mandi”, Ucapnya singkat.

Dengan perlahan ia melangkah menuju kamar mandi. Mengelus perut buncitnya yang sesekali menunjukkan keaktifan sang jabang bayi.

Yoona di lain sisi terus saja menatapi bantal kecil yang baru saja ia selesaikan. Perasaan rindu yang bercampur sedih menyelimuti hatinya saat ini. Perasaan rindu akan hadirnya anggota baru dalam kehidupannya dan juga sang suami. Terkadang rasa penyesalan datang tak kala ia teringat akan kecerobohannya waktu itu. Kecerobohan yang mengakibatkan janin yang ia kandung harus pergi dengan begitu cepat.

“Ini di beri pita orange pasti cantik”, Ujar Yoona lesu

“Kau kenapa?”, Tanya HyoYeon

“Entahlah eonni”, Jawabnya singkat

Air mata Yoona perlahan turun membasahi wajah mulusnya. Ia tak kuasa menahan rasa sedihnya tak kala mengingat kejadian itu. Sekarang setelah satu tahun berlalu, ia bahkan belum bisa melupakan tragedi di sore itu.

“Sudahlah Yoong,  jangan terlalu kau dipikirkan”, Ucap Jessica, seolah-olah tahu apa yang tengah dipikirkan Yoona

Kedua membernya itu paham betul apa yang tengah dirasakan dongsaengnya saat itu. Tapi tak ada yang bisa mereka lakukan, selain memberikan dukungan dan doa agar semua sahabat-sahabatnya mendapatkan kebahagiaan yang abadi.

“TaeYeon kenapa lama sekali?”.

Sudah lebih dari lima menit ia menghilang dari perkumpulan itu dan sampai saat ini ia belum juga kembali. Mereka mulai khawatir kalau terjadi apa-apa dengannya.

“TaeYeon-ah”, Jessica memanggilnya

“Nae”.

Mereka mulai lega. TaeYeon menjawab panggilan mereka, yang menandakan bahwa wanita hamil itu dalam keadaan baik-baik saja. Tapi tak lama setelah itu Brrruuuukkkkk, sebuah bunyi yang keras mengejutkan semua orang.

To be Continue

Kira-kira bunyi apakah itu????

apakah semuanya akan baik-baik saja????

tunggu ya kelanjutannya ^_^

Khamsahamnida

http---signatures.mylivesignature.com-54492-198-DFA94A137106D830CAD4297F5A59CA05

 

Chapter 2

TaeYeon, Leeteuk – Suju, SNSD – Family, Romance, Friendship, Mello, Marriage Life

Copyright@hyuna0590

– Happy Reading –

“A journey of a thousand miles begins with a single step”

-confucius-

Kehidupan baru sebagai sepasang suami istri sudah dimulai. Sebenarnya kisah itu telah dimulai semenjak akhir tahun kemaren, tetapi berhubung mereka baru menempati apartemen baru, maka mulai detik ini kehidupan berumah tangga mereka resmi dimulai. Senang, sedih, pahit, dan manisnya sebuah pernikahan akan mereka lalui. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa tidak selamanya pernikahan itu berbuah manis. Banyak lika liku yang harus mereka lalui untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.

Di apartemen baru, Leeteuk, TaeYeon, dan juga Yoona terlihat tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut tamu-tamu yang telah mereka undang. Mereka berbagi tugas agar semuanya dapat selesai tepat waktu. TaeYeon mengambil kendali dalam urusan dapur, serta Leeteuk dan Yoona mengambil alih sebagai dekorator. Mereka berdua menata barang-barang, serta masakan yang telah siap di atas meja.

”Yoona-ya”.

Leeteuk memanggil dewi penolong mereka. Mau tidak mau Yoona harus membantu kedua pasangan itu. Meskipun ia telah berusaha mengelak, tapi apa daya. Kepiawaian TaeYeon dalam mengendalikan pikiran Yoona sangatlah di atas rata-rata. Bahkan Seung Gipun belum bisa melakukannya semahir TaeYeon. Sepertinya pria tampan itu harus lebih banyak belajar dari sosok TaeYeon mengenai Yoona.

Wae oppa??”.

Yoona yang tengah sibuk membantu TaeYeon di dapur menghampirinya. Ia terpaksa berhenti menata makan-makanan yang selesai di masak oleh TaeYeon.

“Bisa bantu oppa sebentar”.

Leeteuk meminta Yoona untuk menghampirinya. Meskipun ia tidak tahu tugas apa itu, tetapi ia harus membantunya karena tugasnya di apartemen baru ini adalah untuk membantu, bukan sebagai penonton.

“Ada apa???”.

Leeteuk yang terlihat kesulitan untuk memindahkan sofa langsung menyuruh Yoona untuk membantunya memindahkan kursi itu kedalam kamar.

Nae,.. ”.

Yoona menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirny membantu Leeteuk memindahkan sofa putih yang sebelumnya berada di ruang utama ke dalam kamar. Dengan tenaga super yang ia miliki, Yoona membantu. Tidak hanya itu, Yoona juga dimintai tolong untuk menyingkirkan beberapa meja yang menghiasi ruang utama

“Eonni, jadi aku di ajak kesini untuk mengangkat semua ini”.

Yoona kembali ke meja makan setelah menghabiskan tenaganya mengangkat beberapa barang, yang bisa dibilang tidaklah kecil dan sedikit.

“Aniya Yoona-ah”.

TaeYeon jadi merasa bersalah melihat wajah Yoona yang mulai memerah karena kelelahan. Hembusan nafasnyapun tidak teratur. Sepertinya ia bekerja terlalu keras membantu Leeteuk.

“Terus kenapa aku jadi mengangkat semua ini??”.

Tak tahu entah berapa kali ia menuangkan air putih, hingga persediaan air putih di dalam botol habis olehnya.

“Kalau itu kau salahkan saja oppa, jangan memarahiku. Eonni tidak tau apa-apa”.

TaeYeon mengangkat tangan, ia tidak terima disalahkan atas apa yang sebenarnya bukan perbuatannya.

“Eonni mau masak apa saja???”

Yoona mengalihkan pembicaraan. Ia tahu kalau pembicaraan itu tidak dihentikan segera, maka akan panjang jadinya.

“Eonni sedang membuat nasi goreng kimchi, sandwich, kimbab, dan sup kimchi”.

TaeYeon menunjuk satu per satu masakan yang sudah selesai ia masak. Malam ini ia berencana untuk memanjakan perut anak-anak SM Ent. Sudah lama sekali mereka tidak kumpul bersama dan momen malam ini akan menjadi momen perkumpulan mereka yang selanjutnya.

“Banyak sekali eonni”.

Yoona menatap tumbukan bahan-bahan masakan yang berserakan di daput. Kalau TaeYeon sudah pasti akan membuat makanan yang enak dengan semua bahan-bahan ini, tapi tidak dengannya. Sampai saat ini ia masih terus belajar untuk menghidangkan aneka macam masakan untuk suaminya.

“Kamu tahu sendiri perut manusia-manusia itu”.

TaeYeon menyodorkan tangannya meminta bantuan Yoona untuk mengambil irisan bawang bombai yang telah diiris oleh Yoona tadi.

“Memangnya siapa saja eonni”.

Yoona memberikan apa yang diminta eonninya itu. Ia cukup bangga dengan dirinya sendiri. Meskipun tidak bisa masak, tapi setidaknya ia tahu bagaimana cara mengiris semua bahan-bahan itu dengan indah.

“Yang pastinya anak-anak SM”.

TaeYeon melempar-lempar telur dadar ke atas langit. TaeYeon memang sangat piawai dalam memasak, buktinya saja caranya membalikkan makanan sudah seperti chef-chef yang bekerja di hotel bintang lima.

“Mereka semua datang”.

Yoona merasa ragu akan kepastian itu. Ia tidak yakin semua orang akan datang. Shinee misalnya, mereka tengah melakukan konser saat ini.

“Eonni juga tidak tahu”.

TaeYeon sepertinya sepemikiran dengan Yoona. Yang penting mereka sudah mengundang keluarga-keluarga SM. Datang tidak datang tentu bukan urusan mereka.

Satu persatu hidangan yang akan mereka suguhkan kepada para tamu mulai tersusun rapi di depan meja. Kardus-kardus yang sebelumnya tergeletak begitu saja di ruang utama sekarang sudah tidak terlihat lagi. Ruang utama apartemen pengantin baru itu sudah rapi, tidak akan ada yang tahu kalau sebelumnya banyak barang yang berserakan di ruangan itu.

“Seung Gi kemana? Tidak dirumah??”, Leeteuk menghampiri kedua wanita yang tengah sibuk menata-nata hidangan di meja makan.

“Oppa jangan sebut nama dia”.

Yoona kembali cemberut. Ia masih kesal dengan suaminya itu. Hingga saat ini sosok yang ia sebut sebagai suaminya itu belum juga menepati janjinya untuk menghubunginya.

“Kenapa? Apa kalian sedang marahan?”.

Leeteuk menatap dongsaengnya itu. Ini pertama kalinya ia mendengarkan dongsaengnya itu kesal dengan suaminya. Tidak seperti istrinya yang sudah bosan mendengarkan keluh kesah Yoona mengenai suaminya.

“Biasa oppa, lahi-lagi oppa membuatku kesal”, Saking kesalnya Yoona sampai meremas-remas makanan yang tengah ia pegang.

“Hei..”.

TaeYeon memukul tangan Yoona ketika ia menyadari bahwa makanan yang telah ia masak dari tadi dihancurkan oleh Yoona. Masih untung ia hanya menghancurkan satu kimbab. Kalau saja ia tidak melihat reaksi Yoona, mungkin semua kimbab yang telah susah payah ia masak sudah jadi remah semua.

“Eonni apo”.

Yoona mengelus tangannya yang dipukul sang eonni. Ia tidak sadar bahwa kekesalannya itu berujung pada pukulan sang eonni.

“Suaminya sedang syuting di Busan, jadi beberapa minggu ini ia akan tinggal sendirian. Dan tadi siang suaminya itu janji mau menghubunginya, tapi sampai sekarang belum juga menghubunginya”.

TaeYeon menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan Yoona. Ia tahu kalau dongsaengnya itu tidak akan mau mengeluarkan suaranya karena perasaan kesal yang tengah ia rasa.

“Kasihan sekali dongsaeng oppa ditinggal berminggu-minggu”.

Leeteuk mengelus kepala Yoona yang tengah cemberut. Sesekali ia menggoda wanita yang baru berusia 27 tahun itu. Leeteuk dan TaeYeon, kedua pasangan itu sangat gemar menggodanya.

“Biarlah oppa, dari pada kita tidak makan”.

Yoona akhirnya bersuara. Kali ini ia membela kesibukan sang suami. TaeYeon dan Leeteuk saling berhadapan. Mereka heran dengan sikap Yoona yang awalnya kesal dengan suaminya, tapi sekarang malah membelanya. Sesuatu sekali wanita ini.

“Jadi beberapa minggu ini apartemenmu kosong??”, Tanya Leeteuk

“Mau tidak mau oppa”.

Yoona kembali membantu TaeYeon menyiapkan makanan setelah beberapa saat larut dalam  kekesalannya terhadap sang suami.

“Kenapa tidak menginap disini saja”.

TaeYeon langsung menatap sang suami. Ia terkejut mendengarkan perkataan suaminya itu yang hendak mengajak Yoona untuk tinggal bersama mereka. Bagaimana tidak, inikan malam pertama mereka di apartemen. Mana mungkin TaeYeon mau ada yang menganggu keromantisan mereka malam ini.

“Sepertinya ada yang tidak setuju oppa”.

Yoona menatap TaeYeon yang sekarang menunjukkan raut wajah tidak terima. Ia tahu kalau niat suaminya itu baik, tapi jangan momennya tidak tepat.

“Bukannya tidak setuju. Masa iya mau tinggal dirumah pengantin baru”.

TaeYeon menghentikan pekerjaannya di dapur dan menghampiri kedua orang yang tengah bercengkrama di meja makan.Leeteuk tau apa yang dimaksud sang istri dan dia juga senang karena respon yang ditunjukkannya.

©   ©   ©

Tepat pukul tujuh malam pestapun dimulai. Satu persatu tamu yang diundang mulai menunjukkan kehadiran mereka. Sang tuan rumah menyambut kedatangan tamu-tamunya dengan suka cita. Inilah pesta pertama yang mereka adakan untuk anggota satu agensi mereka.

“Wah wangi sekali”.

Shindong dan beberapa member Super Junior memasuki apartemen baru leader mereka. Dengan gaya lucu dan konyol yang mereka miliki, mereka mengamati apartemen baru tersebut.

Oppa Annyeong

TaeYeon menyapa satu persatu member-member suaminya itu. Pertemuan ini bukanlah pertemuan pertama mereka, tapi ini merupakan pertemuan pertama baginya di rumah baru mereka. Sambil membungkukkan badan tak lebih dari empat puluh lima derajat, ia menyambut kehadiran pria-pria tampan itu. Bisa dibilang versi laki-laki dari group mereka. Setidaknya itulah yang sempat dilontarkan oleh pihak agensi ketika membentuk groupnya.

Member Super Junior yang dimendapat sambutan hangat dari sang tuan rumah langsung membalas sambutan mereka. Mereka berterima kasih karena telah diundang dalam acara itu. Acara yang pastinya akan menghadirkan kelucuan, serta kehebohan yang pastinya. Setidaknya itulah yang biasanya terjadi apabila partai-partai SM Ent. berkumpul.

“Sulli-ya annyeong”.

Yoona melambaikan tangan ketika menyadari kehadiran Sulli tepat dibelakang rombongan Super Junior. Sulli memberikan salam kepada TaeYeon dan juga Leeteuk, sang raja dan ratu malam ini.

“Kau kesini dengan siapa???”.

TaeYeon dan Leeteuk terlihat heran setelah mengetahui Sulli datang sendirian. Padahal sebelumnya ia berkata kalau akan datang bersama membernya, meskipun tidak lengkap.

“Aku tadi pergi dengan Soo Jung”.

Sulli melihat ke arah belakang. Seharusnya ada orang yang berdiri dibelakangnya. Tapi tiba-tiba saja sosok itu tidak ada. Tentu saja Sulli heran dengan lenyapnya sang sahabat. Ia yakin sekali kalau di lift ia bersama dengan nona Jung.

“Kamu mencari siapa???”.

Sosok yang di cari Sulli mengeluarkan suaranya. Krystal, yang datang bersama Sulli langsung masuk ke dalam apartemen bersamaan dengan rombongan Super Junior. Maka dari itu, Sulli tidak menyadari hilangnya Krystal dari sisinya.

“Ya Soo Jung-a aku mencarimu tahu. Kenapa sudah sampai di dalam saja??? Bukannya tadi di belakangku”.

Sulli menghampiri Krystal yang baru saja keluar dari dapur dengan dua buah sandwich di tangannya. Sepertinya ia kelaparan hingga pertama kali yang ia tuju adalah dapur.

Makanan sudah terhidang dengan rapi di atas meja. Dua jam menyiapkan semua makanan itu membuat TaeYeon sedikit bangga karena bentuk dan juga aromanya sangat mengugah selera. Sekarang tibalah waktunya untuk mencicipi masakan itu satu persatu. Berharap semua yang hadir menyukai masakannya.

“Woooowwww…makanannya banyak sekali. Kau yang membuatnya sendiri??”.

Siwon terkejut melihat deretan makanan yang terpajang di depan matanya. Tak menyangka kalau seorang Kim TaeYeon dapat membuat makanan sebanyak itu.

“Nae”, Jawabnya malu.

“Hyung kau beruntung punya istri seperti TaeYeon”.

Shindong memuji kepiawaian TaeYeon. Ia bahkan tidak berhenti mencicipi makanan-makanan itu satu persatu.

“Siapa dulu, Leeteuk”, Ia memuji dirinya sendiri

“Aku juga mau punya istri seperti TaeYeon, sudah cantik, pintar masak lagi”, Komentar EunHyuk

Leeteuk menatap curiga gerak gerik member-membernya. Mereka mulai terlihat bertingkah aneh dan mencurigakan. Leeteukpun langsung memeluk istrinya dan merapatkan tubuh istrinya itu dengan tubuhnya. Ia tidak mau member-membernya yang gila itu merebut istrinya, meskipun ia tahu kalau membernya tak mungkin setega itu padanya. Setidaknya ia harus tetap waspada.

“Ya ya ya…”.

Leeteuk memukuli tangan Heechul yang hendak memberikan sepotong kimchi pada TaeYeon. Heechul menundukkan kepala sebagai bentuk maaf.

“Waaa sup kimchi buatan TaeYeon memang enak”.

Siwon mengacungkan kedua jempolnya memuci masakan yang dibuat oleh TaeYeon.

“Aku juga membantu eonni untuk membuat sup itu oppa”.

Yoona yang sedari tadi diam tiba-tiba saja mengeluarkan suaranya. Ia tidak terima hanya TaeYeon saja yang mendapatkan pujian atas sup yang sebenarnya juga hasil karyanya. Kalau bukan karena irisan-irisan bawang, serta dagingnya belum tentu bentuk sup itu selezat sekarang.

“Neo???”.

Shindong membulatkan matanya. Ia tidak percaya kalau Yoona terlibat dalam pembuatan sup kimchi itu. Setaunya Yoona tidak bisa memasak dan kalaupun ia memasak, pasti hasilnya hangus atau rasanya asin, bahkan tidak ada rasa.

“Yoona bisa masak kok”, SooYoung membela Yoona.

“Tapi tidak ada rasanya”.

SooYoung berhasil membuat Yoona memanyunkan mulutnya. Ia tahu betul reaksi apa yang akan muncul dari sosok seorang Im Yoona.

Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak ejekan, cemoohan, serta godaan yang terlontar dari mulut semua orang yang hadir pada malam itu. Dan semua itu sukses membuat Yoona cemberut dan kesal tentunya. Tapi kali ini ia merasa sangat dipojokkan. Ini sudah yang keempat kalinya dalam satu hari ini ia menerima perlakukan seperti ini. Mulai dari pagi di apartemen member-membernya, selama persiapan di dapur, hingga sekarang ketika mereka tengah menyantap makan malam.

“Yoona-ah mianhae”.

Yoona tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya. Apakah tidak cukup suaminya saja yang membuat ia kesal hari ini? Apakah semua orang ini harus ikut membuatnya kesal?

“Eonnii”, Teriak Yoona

“Sudah sudah, nanti dia nangis. Kaliankan tahu dia itu cengeng. Dan lagi pula suaminya sedang di luar kota”.

Sunny menghentikan pertikaian yang mulai memanas antara Yoona dan juga yang lainnya.

©   ©   ©

“TaeYeon-ah itgo”.

Yuri memberikan sebuah hadiah special untuk Leeteuk dan juga dirinya. Sebuah kotak berukuran sedang yang dihiasi oleh pita cantik berwarna biru dan putih. Dan ternyata isi dari kotak tersebut adalah sepasang yang bertuliskan beberapa pesan. Bisa dibilang kalau tulisan itu dibuat khusus olehnya dan juga kekasihnya Jang Geun Seuk.

“Aaaa,..gomawo”.

TaeYeon mengelus tulisan yang timbul dari gelas putih tersebut. Ia tersentuh dengan kalimat-kalimat cinta yang ia tuliskan pada gelas itu. Sangat romantis dan hangat. TaeYeonpun meletakkan sepasang gelas itu di sebelah TV. Cantik, kedua gelas itu terpajang dengan sangat indah.

“Ini dari kami”.

Sekarang giliran kado dari member-member suaminya. Siwon memberikan kotak persegi panjang kepadanya mereka. Perlahan TaeYeon membuka kotak berwarna merah marun itu. Baru saja membuka kado tersebut ia langsung menutupnya kembali.

“Apa kadonya???”, Tanya HyoYeon penasaran

Sunny merampas kotak persegi panjang itu dari tangan TaeYeon. Dan ternyata betul seperti apa yang ada dalam pikiran mereka.

“Apa isinya???”, Sulli menyodorkan kepalanya

“Kau belum boleh melihatnya, kau masih kecil”.

Sunny langsung mengembalikan kotak tersebut kepada TaeYeon dan TaeYeonpun langsung menyembunyikan kotak itu di bawah kakinya.

“Ini dari kami”.

Jessica memberikan dua buah kotak kecil kepada TaeYeon dan Leeteuk. Sebuah hadiah dari member-membernya. Tidak mau salah seperti ketika membuka hadiah pemberian member suaminya, sekarang TaeYeon lebih berhati-hati, ia mengoyang-goyangkan kotak mini tersebut. Dan barulah membukanya. Sepasang kalung yang bertuliskan TL sebagai hadiah pernikahan mereka dari member Girls’ generation.

“Pakai sekarang eonni”.

SeoHyun mendekatkan wajahnya kepada kedua pasangan itu dan menyuruhnya memasang kalung itu sekarang juga. Leeteuk dengan cekatan membuka kotak kecil itu dan membantu istrinya memasang kalung pemberian membernya.

“Ini kado dari kami”.

Kado terakhir dari F(x). Krystal menyerahkan kotak besar dan tebal kepada Leeteuk. Hadiah yang paling besar yang mereka terima malam itu.

“Ini apa???”.

TaeYeon melihat hadiah pemberian F(x) sebelum membukanya. TaeYeon membuka satu persatu selotip yang menempel di kertas kado tersebut. Karena terlalu lama, akhirnya Leeteuk mengambil kado itu dari tangan istrinya dan membukanya asal.

TaeYeon terlihat kecewa dengan apa yang baru saja dilakukan suaminya itu. Ia membuka hadiah terakhir itu dengan sangat hati-hati, tapi suaminya malah merampas kado itu dan membukanya asal, hingga kertas kado yang bermotifkan bunga  itu robek tidak berbentuk.

“Maafkan oppa sayang”.

Leeteuk menatap raut kesal dari wajah sang istri. Ia menyerahkan kembali kado itu pada TaeYeon dan mempersilahkan istrinya itu untuk menyelesaikan prosesi pembukaan kado. Sebuah album yang berisikan foto-foto ia dan juga suaminya mulai dari masa-masa trainee, hingga pernikahan berlangsung.

“Waaaa….gomawo-yo”, Dengan sekejap TaeYeon melupakan rasa sedihnya

Pesta itupun berakhir setelah hampir dua jam terselengara. Tak terasa kebersamaan mereka malam itu harus segera diakhiri karena hari yang semakin malam. Sebagai tamu yang baik, satu persatu dari mereka membantu TaeYeon dan juga Leeteuk membersihkan peralatan bekas makan mereka.

“Yoona eonni jadi nginap di apartemenkan malam ini??”.

SeoHyun mendekati Yoona yang tengah sibuk menumpuk piring kotor, yang kemudian akan diangkap olehnya untuk di bawa ke dapur.

“Yoona nginap di apartemen???”, Heechul dengan wajah yang siap menggoda Yoona segera menghampiri mereka.

“Kau bertengkar dengan suamimu??”, Sambung Shindong

Aniya oppa, Seung Gi oppa sedang keluar kota, jadi daripada sendirian di apartemen, lebih baik aku menginap di tempat mereka”.

Yoona berdiri dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Heechul dan member Super Junior yang lainnya.

“Aduh kasihannya dongsaeng oppa ini ditinggal sendirian”, Heechul kembali melancarkan aksinya menggoda Yoona.

“Makanya buat little Seung Gi dong biar kamu tidak kesepian”.

Lagi-lagi Heechul mengeluarkan perkataan yang membuat ia kesal setengah mati. “Apa dia pikir semudah itu”, gerutunya dalam hati. Ia sendiri juga sangat mendambakan kehadiran buah hati dalam rumah tangga mereka, tapi Tuhan belum mengizinkannya terus mereka harus berbuat apa.

“Kenapa tidak kau susul saja dia??”, Tanya Siwon yang masih sibuk dengan tugasnya membersihkan meja.

“Aku inginnya begitu oppa, tapi tidak bisa. Scheduleku bulan ini padat merayap”, Jelasnya.

“Kau harus hati-hati, jangan sampai suamimu yang tampan itu diambil orang lain. Kamu lupa kalau dia selalu dikelilingi cewek-cewek cantik”.

Heechul kembali menganggu ketenangan Yoona dan kali ini ia menakutinya dengan ucapan perselingkuhan.

“Aku percaya oppa tidak akan macam-macam”, Yoona menepuk dadanya

“Bagus kalau kau percaya, tapi jangan terlalu percaya”.

Yoona mulai terlihat cemas dan khawatir mendengar perkataan Heechul. Ia yakin betul kalau suaminya bukanlah tipe orang yang mudah menyukai wanita lain. Ia yakin itu. Meskipun mereka jarang bertemu karena kesibukan, tapi ia yakin hati dan pikiran suaminya hanyalah padanya seorang.

“Oppa,…jangan bicara yang tidak-tidak”, TaeYeon muncul dari belakang Heechul

“Ya siapa tau aja kayak gitu”, Ujar Heechul

“Kau juga harus hati-hati”, Heechul menatap TaeYeon

TaeYeon langsung menatap Leeteuk sesaat setelah mendengar perkataan yang sama dengan yang diterima Yoona dari HeeChul. Sama halnya dengan Yoona, ia tidak percaya dengan perkataan pria itu. Sesekali suaminya mungkin melakukan kesalahan, tapi bukanlah kesalahan yang akan menyakitkan hatinya. Iya, TaeYeon yakin semuanya akan baik-baik saja hingga ajal yang memisahkan mereka.

Dengan wajah yang sedikit cemberut, Yoona duduk didekat Jessica. Ia tidak percaya kalau Heechul akan berkata seperti itu tentang suaminya. Sejenak Yoona sempat berpikir kalau suaminya itu mungkin saja selingkuh atau bermain dengan wanita lain. Tapi ia kemudian mengelengkan kepala. Ia yakin kalau suaminya tengah sibuk bekerja, jadi tidak bisa menghubunginya sesuai janji.

“Kau kenapa???”, Tanya Jessica

“Tidak ada eonni”, Ujar Yoona

“Yoona lagi berpikir bagaimana kalau suaminya benaran selingkuh”, Heechul lagi-lagi bersuara.

Sebuah bantal melayang ke arahnya dan dalam beberapa detik lagi akan mengenai wajahnya. Beruntung ia berhasil menangkapnya sebelum benda lembut itu mendarat di wajahnya.

“Oppa bicara apaan sih”, Ucap Tiffany

Heechul meletakkan kembali bantal itu di atas kursi dan kemudian pergi menjauhi Yoona dengan tampang tak bersalah.

“Heechul oppa jangan didengerin. Kau tahu sendiri kalau apa yang di katakan Heechul oppa itu belum tentu benar”, Bujuk Yuri

“Aku tahu Heechul oppa hanya nakut-nakutin, tapi kenapa aku khawatir dengan oppa”, Yoona menatap mata eonninya

“Wajar saja kalau kamu berpikiran seperti itu. Lagi pula sekarang kau sedang berada jauh dengannya. Perasaan seperti itu bisa saja muncul”.

Yuri merapikan rambut dongsaengnya itu. Ia tahu kalau dongsaengnya itu sedang merindukan suaminya. Sudah hampir lima hari mereka tidak bertemu. Meskipun mereka sudah menikah selama dua tahun, tapi mereka masih seperti pengantin baru. Kemana-mana berdua dan melakukan hal-hal yang romantis layaknya sepasang pengantin baru.

“Oppa seharian ini juga tidak menghubungiku, makanya aku jadi termakan ucapannya Heechul oppa”, Terang Yoona

“Mungkin suamimu sedang sibuk, jadi tidak sempat menghubungimu”, Yuri terus menasehati

©   ©   ©

Tepat pukul sepuluh malam semua tamu undangan merekapun pulang dan sekarang tinggallah mereka berdua, LeeTeuk dan TaeYeon,, ditengah tumpukan piring kotor dan lantai yang masih kotor. Beberapa dari tamunya memang membantu mereka untuk merapikan semua bekas makan, tapi ternyata bantuan itu hanya setengah. Tentu saja itu membuat sang tuan rumah kesal. Niat untuk menikmati malam pertama mereka di apartemen baru musnah sudah gara-gara pekerjaan rumah tangga yang menumpuk akibat ulah tamu-tamu jahil mereka.

“Oppa,..ayo bantuin aku. Nanti baru tidur-tiduran”.

TaeYeon menatap suaminya yang tengah asik menikmati embuknya sofa ruang utama apartemen mereka.

“Oppa, jangan buat aku kesal. Aku lagi capek”, TaeYeon memberikan peringatan.

Leeteukpun akhirnya berdiri dan menghampiri sang istri yang tengah mencuci piring-piring kotor. Dengan lembut ia lingkarkan lengannya ke pinggang istrinya. Tentu saja TaeYeon akan terkejut dengan pelukan tiba-tiba yang diberikan sang suami. Untung saja jelas yang tengah ia pegang merupakan gelas plastik yang tidak akan pecah apabila terjatuh.

“Oppa,..jangan sekarang. Semuanya masih berantakan”, Ujar TaeYeon

Tak menghiraukan ucapan sang istri, Leeteuk terus memeluk tubuh mungil istrinya itu. bahkan ia memperdalam pelukan mereka. Iapun tak lupa menyandarkan dagunya di atas bahu sang istri. TaeYeon yang menerima perlakuan itu dari suaminya hanya bisa pasrah, meskipun sudah beberapa kali ia tolak.

“Oppa tahu tidak apa yang dibilang Heechul oppa?”, Tanya TaeYeon

“Apa???”, Leeteuk balik bertanya.

“Heechul oppa bilang kalau aku harus berhati-hati padamu oppa”, Ujar TaeYeon

“Berhati-hati??? Memangnya oppa penjahat???”, Leeteuk masih menikmati pelukannya pada sang istri.

“Katanya aku harus berhati-hati jangan sampai oppa berpaling kedekapan wanita lain”.

TaeYeon membalikkan badannya, hingga pelukan Leeteuk terlepas dan mereka berdua akhirnya saling berhadapan. Ia menatap wajah sang suami yang masih terpaku setelah mendengar apa yang baru saja ia sampaikan.

“Kau percaya???”, Leeteuk kembali mendekap sang istri

“Untuk saat ini tidak, tapi belum tahu nanti-nanti”.

TaeYeon kembali membalikkan badannya dan melanjutkan kegiatannya mencuci piring. Ia tahu kalau saat ini suaminya pasti tengah termenung, mencerna kalimat terakhirnya.

“Maksudnya kau mencurigai oppa???”, Leeteuk melepas pelukannya

“Sepertinya begitu oppa”, TaeYeon tersenyum dibelakang Leeteuk

“Ok kalau begitu, mulai sekarang kita main curiga-curigaan bagaimana?”, Ajak Leeteuk

TaeYeon menghentikan kegiatannya lagi dan kembali membalikkan badannya menghadap Leeteuk. Sekarang gantian ia yang memeluk sang suami. Ia tahu dan yakin betul kalau cinta suaminya itu hanyalah untuknya.

“Oppa gomawo”, TaeYeon memberikan kecupan singkat tepat di bibir sang suami.

“Hmmm…”, Leeteuk mengoyang-goyangkan tubuh istrinya ketika bibir mungil istrinya itu perlahan-lahan menjauh dari bibirnya.

TaeYeonpun kembali melanjutkan kegiatannya untuk kesekian kaliannya. Ia harus menyelesaikan semua piring-piring ini sebelum malam semakin larut. Bisa-bisa ia akan terlambat esok hari apabila tidak segera diselesaikan.

Merasa tidak puas dengan apa yang baru saja diberikan sang istri, Leeteuk menarik tangan istrinya dan memeluknya erat. Ia tidak ingin jauh dari istri yang baru tiga bulan ini mengisi hidupnya. Cuuupppp, sebuah ciuman mesra ia berikan pada sang istri. Ia tahu betul kalau istrinya juga menginginkan ciuman itu. Buktinya saja kedua tangan mungil istrinya itu telah melingkar dengan sempurna di lehernya. Leeteuk terus melumat bibir mungil itu. Tidak mengizinkan TaeYeon mengambil alih pemanasan mereka.

Malam pertamapun mereka lalui begitu saja di apartemen baru yang siap menjadi saksi cinta mereka di kemudian harinya. Kehidupan nan indah dan penuh keceriaan. Tentunya kehidupan yang seperti itulah yang ingin mereka rajut di rumah cinta itu.

*  *  * ============= To Be Continue ============= *  *  *

Chapter 1

Kim TaeYeon and Leeteuk – Suju and SNSD – Friendship, Romance, Mellow, Marriage Life

Copyright@hyuna0590

– Note –

Hello hello semua, FF chapterku yang pertama ini aku revisi sedikit. Tanpa mengubah inti cerita yang sudah aku tentukan sebelumnya. Hanya menambah dan mengurangkan beberapa bagian saja. Tapi mungkin lebih banyak ditambah dari pada di kurangi. Jadi, semoga teman-teman sekalian memaklumi perubahan cerita ini.

– Happy Reading –

“There are things we don’t want to happen, but have to accept and people we don’t want to lose, but have to let go”

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi kesembilan wanita cantik itu untuk menjadi wanita paling berpengaruh di Korea Selatan. Jirih payah mereka selama hampir dua puluh tahun berbuah manis. Sekarang kemanapun mereka pergi pasti ada saja yang mengenali mereka. Tentu saja hal itu menjadi suatu kebangaan terendiri. Tapi ada kalanya kepopuleran itu membuat gerak dan kehidupan pribadi mereka tidak lagi terkesan pribadi. Ada saja pihak yang selalu ingin mengetahui setiap gerak-gerik mereka. Dan itu tentu saja tidak nyaman. Mereka pasti sudah tahu semua itu adalah konsekuensi yang harus mereka hadapi ketika memasuki dunia entertainmen.

Malam itu merupakan malam perpisahan bagi mereka. Sebenarnya bukan perpisahan dalam arti mereka tak lagi bisa bertemu satu sama lain. Tapi lebih kepada perpisahan salah satu member yang telah berumah tangga. Lebih tepatnya, dua orang dari sembilan wanita cantik itu telah memiliki pendamping masing-masing. Dua dari mereka juga tidak lagi tinggal di apartemen yang dulu menjadi istana bagi mereka bersembilan. Yoona, member pertama dari kesembilan wanita itu menjadi member pertama yang melepas masa lajangnya. Dua tahun yang lalu ia dipinang oleh seorang aktor berbakat dan terkenal di negara ini, Lee Seung Gi. Mereka menikah setelah menjalani masa pacaran selama lebih kurang tiga tahun.epuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi kesembilan wanita cantik itu untuk menjadi wanita paling berpengaruh di Korea Selatan. Jirih payah mereka selama hampir dua puluh tahun berbuah manis. Sekarang kemanapun mereka pergi pasti ada saja yang mengenali mereka. Tentu saja hal itu menjadi suatu kebangaan terendiri. Tapi ada kalanya kepopuleran itu membuat gerak dan kehidupan pribadi mereka tidak lagi terkesan pribadi. Ada saja pihak yang selalu ingin mengetahui setiap gerak-gerik mereka. Dan itu tentu saja tidak nyaman. Mereka pasti sudah tahu semua itu adalah konsekuensi yang harus mereka hadapi ketika memasuki dunia entertainmen.

Kemudian ada TaeYeon, member kedua yang melepas masa lajangnya. Pesta perpisahan yang mereka adakan merupakan pesta perpisahan dan sekaligus menjadi pesta menyambut status baru dirinya sebagai seorang istri. Istri dari seorang leader boygroup yang tak kalah terkenalnya dari girlgroup mereka. Bahkan girlgroup mereka sering dibilang sebagai versi wanita dari boygroup milik suaminya TaeYeon, Leeteuk.

Akhir tahun kemaren menjadi momen yang paling indah bagi TaeYeon dan juga Leeteuk. Bagaimana tidak, pada waktu itu mereka berjalan bersama menyusuri kehidupan baru sebagai suami istri. Mengucap janji sehidup semati, selalu saling menjaga, dan menyayangi hingga ajal menjemput. Tidak hanya janji, tetapi juga sekaligus menjadi harapan mereka berdua. Bahkan juga menjadi harapan bagi semua yang mengarungi kehidupan berumah tangga.

Pesta sederhana itu mereka adakan di ruang utama apartemen. Alasannya simple karena ruangan itu memiliki banyak kenangan. Tak hanya ruangan itu, tetapi juga apartemen itu secara keseluruhan. Semuanya memiliki kenangan disetiap sudutnya. Maka dari itu mereka memilih untuk menyelenggarakan pesta yang hanya dihadiri orang mereka bersembilan itu di apartemen mereka sendiri. Tidak ada pihak lain yang ikut serta, tidak bahkan suami dari kedua member yang telah menikah atau bahkan kekasih dari member yang lainnya.

Malam semakin larut, tapi canda tawa mereka semain menjadi. Mereka begitu menikmati kebersamaan itu. kebersamaan yang sangat jarang mereka lakukan, kecuali ketika mereka tengah berada di luar negeri. Ketika diberi waktu istirahatpun mereka tidak bisa berkumpul bersama karena pasti mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu itu dengan keluarga-keluarga mereka. Makanya berkumpul sambil bercanda seperti saat ini sangatlah langka. Di saat ulang tahun memberpun terkadang mereka tidak dapat berkumpul secara lengkap karena kesibukan mereka yang berbeda. Meskipun mereka debut dalam bentuk group, tetapi mereka masih memiliki kegiatan individu yang cukup menguras tenaga.

Di tengah canda tawa yang tercipta malam itu, terselip sebuah rasa sedih akan kepindahan TaeYeon dari apatemen yang telah menjadi saksi atas kesibukan mereka selama lebih kurang delapan tahun belakangan.

“Mari kita bersulang untuk kebahagiaan TaeYeon”.

Tiffany mengangkat jelas yang sebelumnya telah ia isi wine seperempat gelas. Tidak lagi tinggal satu atap bersama member terdekatnya itu memuatnya terlihat sangat sedih malam itu. Mungkin ia ingin melarang kepindahan TaeYeon, tapi tidak mungkin. Ia sadar kalau saa ini sahabatnya itu telah memiliki suami dan tentu saja ia harustinggal bersama suaminya. Tidak bersama mereka bertujuh.

“Kombae”.

Mereka meneguk wine setelah mendengarkan beberapa perkataan dan doa yang disampaikan Tiffany untuk TaeYeon, leader mereka. Tiffany kembali duduk setelah meneguk habis wine yang terisi di dalam gelasnya. Ia menatap paras cantik sahabatnya itu. Ia pun juga menatap paras cantik Yoona yang duduk beberapa kursi di dekat TaeYeon. Ia tak pernah menyangka semua ini akan terjadi begitu cepat. Sepertinya baru kemaren mereka training bersama-sama sepulang sekolah. Tidur bersama di ruang latihan dan kemudian kembali berlatih kembali setelah bangun.

Gomawo yo“.

TaeYeon tersenyum dan mengenggam tangan membernya satu persatu. Ia merasa sangat berterima kasih atas segala yang telah dilakukan member-membernya padanya. Member yang sudah ia angap seperti keluarganya sendiri. Keluarga yang tahu semuanya tentang dirinya. Semua yang ia suka dan semua yang tidak ia suka.

“Kau harus sering-sering ke sini”.

HyoYeon, sang dancing queen memeluknya. Sekarang mereka kehilangan satu orang juru masak. Meskipun mereka memiliki pembantu di apartemen, tapi tetap saja kedua orang ini selalu membuatkan makan apa saja untuk mereka.

“Kalian tenang saja, aku pasti akan sering ke apartemen ini. Lagi pula aku belum pensiun”, TaeYeon memeluk HyoYeon dan juga Yuri yang duduk di sebelah kiri dan juga kanannya.

“Betul juga”.

Yuri melepaskan pelukan TaeYeon dan kemudian lanjut menyantap makanan yang telah di buat khusus oleh TaeYeon untuk member-membernya itu. Masakan special sebagai rasa terima kasih atas apa yang telah ia terima dari mereka selama ini.

“Fany-ah kwinchana-yo”.

Tiffany menitikan air mata. Kepindahan sahabat dekatnya itu sangat membuat ia bersedih. Ia berusaha untuk mengikhlaskan keputusannya, tapi tetap saja perasaan sedih itu tetap ia rasa. Ia tahu cepat atau lambat ia akan berpisah dengan membernya satu persatu.

“Aku ikut bahagia untukmu”.

Tiffany kembali tersenyum setelah melihat sahabat-sahabatnya itu bahagia. Ia tahu ia salah, tidak seharusnya ia menangisi sesuatu yang tidak jelas seperti ini. TaeYeon tidak pergi jauh, tapi ia hanya pindah apartemen saja dan itu hanya berjarak tiga apartemen dari apartemen mereka sekarang. Tapi begitulah yang namanya sahabat dekat. Meskipun jaraknya dekat, tapi yang namanya perpisahan tetap saja menyedihkan. Tidak dapat bertemu sesering dahulu membuat ia sedih. Tapi inilah kehidupan dan ia tak mungkin menghalangi kebahagiaan sahabatnya itu.

“Gomawo”.

TaeYeon mengenggam tangan Tiffany. Ia dapat merasakan kalau sahabatnya yang satu ini sedih dengan berita kepindahannya ini.

“Ngomong-ngomong, kau dan Geun Seuk oppa bagaimana???”.

TaeYeon mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau semuanya larut dalam rasa sedih yang sebenarnya tidak beralasan ini. Bagaimana tidak, toh ia tidak pergi jauh dan setiap haripun mereka masih tetap bisa bertemu.

“Bagaimana apanya? Kami baik-baik saja. Kadang-kadang dia menyebalkan dan setiap kali bertemu pasti ia membuatku marah dan ujung-ujungnya kami bertengkar. Tapi ya nanti juga baikkan lagi”.

Yuri terlihat malu-malu menjelaskan kisah cintanya dengan sang kekasih, Jang Geun Seuk. Aktor yang terkenal dengan dandanan khas pria metroseksual alias modis dan fashionable.

“Itu sih baru awalnya saja. Nanti kalau sudah married, hmmm…bakalan lebih sering”.

Yoona menarik nafasnya dalam-dalam. Perkataan eonninya itu mengingatkannya pada kisah rumah tangganya dengan sang suami. Sama-sama bekerja di dunia hiburan. Sama-sama sibuk dan sama-sama lelah karena pekerjaan membuat pasangan ini sering berselisih paham.

“Tapi sepertinya kau jarang sekali terlihat bertengkar dengan suamimu?”, Yoona terkejut mendengar perkataan TaeYeon. Ia hampir saja tersendak ketika hendak meneguk segelas air putih.

“Siapa bilang kami jarang bertengkar. Hampir setiap hari kami bertengkar”.

Yoona terlihat kesal apabila mengingat kejadian-kejadian itu. Ia bersyukur mendapatkan suami yang sangat perhatian dan sayang padanya. Tapi kadang kalanya sang suami terlalu protektif dan itu membuatnya kesal. Ketika suaminya tidak bekerja,  ialah yang memegang kendali atas apa yang masuk ke dalam perut sang istri. Itu membuat Yoona kesal. Ia merasa hidupnya di atur oleh pria yang bernama Lee Seung Gi itu.

“Kau sabar saja. Aturannya kau bersyukur diberikan suami yang baik dan setia seperti dia”.

TaeYeon mengelus pundak Yoona yang masih kesal dengan sikap suaminya itu. Niat suaminya memang baik karena memperhatikan kesehatannya. Tapi baginya sikap itu terlalu berlebihan.

“Oppa pasti memiliki alasan mengapa ia bersikap seperti itu”.

Tiffany tertawa lucu melihat sikap sang dongsaeng yang masih dengan wajah cemberutnya.

“Pasti kau yang cari gara-gara”.

Tebak Yuri yang membuat Yoona langsung menatap eonninya itu. Bagaimana tidak, Yuri menyalahkannya atas semua sikap yang ia terima dari suaminya. Mungkin sebagian memang salahnya, tapi tidak semuanya.

“Sudah aku tebak”.

Yuri kembali menggoda dongsaengnya itu. Yoona dan Yuri memang terkenal sebagai pasangan yang apabila tengah akur, maka mereka akan menjadi devil yang siap memangsa siapapun yang ada di hadapannya. Tapi apabila tengah bertengkar, semuanya akan menjauh. Dunia seperti kiamat ketika mereka berdua mulai bertengkar.

“Eonni!! aku tidak pernah mencari gara-gara tahu”, Yoona memulai pertengkaran mereka malam itu. Ia kesal dengan tuduhan yang diberikan mantan teman sekamarnya itu.

“Kalau bukan karena kau terus karena siapa??? Suamimu??? Eonni tidak percaya”, Yuri mengelengkan kepalanya bak bos besar yang tidak terima dengan kerja bawahannya.

“Mungkin kadang-kadang iya karena aku, tapi oppa juga sering bikin gara-gara”.

Yoona mengakui tuduhan yang ditujukan padanya. Tapi ia menekankan kalau tidak semua bertengkaran yang terjadi diantara ia dan juga suaminya itu karena ulahnya. Suaminya juga turut adil dalam setiap pertengkaran mereka.

Yuri terus menatap Yoona. Ia mencoba mengartikan mimik wajah sang dongsaeng. Ia tahu Yoona tidak berbohong, tapi ia ingin bermain dengannya malam ini. Ia senang melihat wajah Yoona yang kesal. Baginya itu sangat mengemaskan dan lucu.

“Buktinya saja kau sering bikin eonni kesal”.

Lagi-lagi Yuri meluncurkan aksinya. Dan tentu saja Yoona tidak terima dengan perkataan eonninya barusan.

“Eonni juga sering membuat aku kesal”.

Yoona membalas perkataan Yuri. Ia tak terima dijatuhkan seperti itu. Ia sudah mengakuinya dan berharap sang eonni akan berhenti memojokkannya, tapi ternyata tebakannya salah. Yuri malah semakin menjadi-jadi.

“Kalian itu bisa tidak sekali-sekali akur???”.

SooYoung mulai kesal dengan perdebatan kedua wanita itu. Telinganya terasa panas setiap kali mendengar kedua manusia itu saling memojokkan satu sama lain.

“Ini acaranya TaeYeon, bukan acara kalian”.

Jessica juga ikut kesal dengan sikap dua orang itu. Ia yang biasanya diam saja dan terkadang menikmati pertengkaran Yoona dan Yuri, sekarang malah tidak. Ia ingin agar mereka berdua berhenti bertengkar sekarang juga.

Kedua orang itu menundukan kepalanya. Mereka sadar telah membuat sahabat-sahabatnya kesal malam itu. SooYoung benar, malam itu adalah acara TaeYeon. Acara perpisahan buat sang leader dan bukan acara pertengkaran mereka.

©   ©   ©

Setelah puas berpesta malam harinya, sekarang tibalah waktu bagi TaeYeon untuk mengemasi barang-barangnya dan bersiap-siap untuk tinggal bersama sang suami yang baru saja pulang melakukan konsernya di Jepang.

Di bantu oleh sahabat-sahabatnya ia merapikan sebagian barang-barangnya. Ia hanya membawa barang-barang yang ia rasa sangat penting dan tidak mungkin ditinggal di dorm. Ia yakin suatu saat pasti ia akan menghabiskan banyak waktu di apartemen ini, maka dari itu ia memutuskan hanya membawa sebagian barang saja ke rumah barunya. Hal yang sama juga sempat diutarakan oleh sang suami, Leeteuk. Ia juga berkata agar TaeYeon membawa barang seperlunya saja, tidak terlalu banyak karena nanti mereka akan membeli kekurangannya, tanpa harus membawa barang-barang apartemen ini.

Eonni, Geun Seuk oppa datang”.

Yoona berlari menuju intercall ketika mendengar bell apartemen mereka berbunyi. Jang Geun Sek, kekasih Yuri datang menjemputnya. Setelah merapikan dandanannya Yuri kemudian langsung berlari menuju Yoona yang masih setia berdiri di depan intercall hingga Yuri datang menghampirinya.

“Na Kalke“.

Yuri mengucapkan selamat tinggal pada member-membernya dan tak lupa memberikan sebuah salam perpisahan kepada sang dongsaeng, Yoona. Ia mendapatkan cubitan tepat di pipi dari sang eonni.

“Hati-hati eonni“, Yoona kembali cemberut menerima perlakukan itu dari eonninya. Meskipun tidak merah, tapi cubitan Yuri terasa sakit baginya.

Setelah melepas kepergian Yuri, Yoona kembali ke ruang utama dan kembali merapikan beberapa barang milik TaeYeon. Masing-masing member memang sudah diberi tugas khusus oleh TaeYeon. Yoona dipinta untuk merapikan beberapa tas miliknya, SooYoung membantu TaeYeon memasukkan beberapa barang ke dalam tas, sedangkan yang lain tengah sibuk menyiapkan cemilan sebagai menu pertama TaeYeon dan Leeteuk di apartement baru mereka.

“Yoona-ya, kesini bentar!!!”.

Teriak TaeYeon dari dalam kamar. Ia memanggil Yoona untuk dimintai tolong karena menurutnya hanya Yoonalah yang bisa membantunya kali ini.

Wae eonni????”.

Secepat kilat Yoona menghampiri TaeYeon dan juga SooYoung.

“Tolong angkatkan tas ini, aku tidak kuat”.

Keluh TaeYeon pada dongsaengnya itu. Inilah alasan kenapa TaeYeon meminta bantuan Yoona karena yang piawai dengan barang-barang berat adalah Yoona. Tidak ada member lain yang lebih piawai darinya.

“SooYoung eonnikan ada. Kenapa harus aku”, Yoona memalingkan wajahnya menatap SooYoung yang hanya berdiri menatapinya.

“Aku tidak kuat Yoona”.

Terang SooYoung. Ia memang bukanlah orang yang kuat seperti Yoona. Ia memang kuat, tapi kuat dalam hal makan. Tidak dalam hal mengangkat-angkat barang seperti Yoona.

“Arraseo”, Yoona mulai mengangkat kardus milik TaeYeon satu persatu menuju ruang utama.

“Mau di tarok dimana eonni????”, Yoona berhenti sejenak dan membalikkan tubuhnya menatap TaeYeon.

“Di sana aja”, TaeYeon menunjuk ke arah sofa ruang tamu dan dengan hati-hati Yoona meletakkan kardus-kardus itu di dekat kursi.

“Ini isinya apa eonni???”, Yoona meletakkan kardus terakhir di atas kardus sebelumnya.

“Cuma baju dan barang-barang biasa, kenapa berat???”.

TaeYeon bangga sengan dongsaengnya itu. Bagaimana tidak, dengan tubuh yang kurus seperti itu ia bisa mengangkat barang-barang yang bisa dibilang tidak ringan.

“Tidak, Cuma ini yang mau eonni bawa??”.

Yoona memperhatikan barang bawaan TaeYeon yang sudah tersusun rapi di ruang utama apartemen mereka.

“Di dalam masih ada satu koper besar lagi”.

Taeyeon tersenyum malu mengakui bahwa barang bawaannya masih ada. Ia terlihat seperti ibu-ibu yang selalu membawa berbagai macam barang kemanapun mereka pergi. Mungkin julukan itu juga akan menjadi julukannya mulai dari sekarang. Ibu-ibu.

“Mau aku tolong bawakan??”, Yoona berjalan kembali ke kamar TaeYeon berniat membawakan koper yang masih tersisa di dalam kamar eonninya itu..

“Tidak usah, aku bisa membawanya sendiri. Lagian koper itu bisa di dorong. Gomawo Yoona-ya”.

TaeYeon meninggalkan Yoona di ruang utama dan bergegas kembali ke kamarnya untuk kembali mengambil sisa koper di dalam kamarnya.

“Kenapa satu persatu eonni meninggalkanku”.

SeoHyun menghampiri SooYoung, TaeYeon, dan Yoona yang tengah asyik bercengkrama sebelum Leeteuk datang menjemput TaeYeon. Ia mulai lagi dengan ekspresi sedihnya. Sebagai si bungsu, kehilangan satu persatu kakak menjadi peristiwa yang paling tidak ia sukai. Apalagi TaeYeon dan Yoona merupakan kedua kakak yang sangat dekat dengannya, sama halnya dengan Tiffany kehilangan TaeYeon.

“Eonni hanya pindah apartemen, bukannya pindah negara”.

TaeYeon mengelus lembut lengan si bungsu. Tak hanya si bungsu, tapi terkadang member-membernya bersikap terlalu berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipermasalahankan. TaeYeon tersenyum menatapi wajah polos SeoHyun.

“Tapi eonni janji harus sering ke sini”, SeoHyun memeluk sang eonni untuk kesekian kalinya.

“Iya pasti. Kau jangan menangis”.

TaeYeon kembali tersenyum dan sesekali mengusap air mata sang maknae yang sedikit mulai membasahi matanya. TaeYeon kembali memeluknya dan kemudian disusul oleh membe-member yang lain SooYoung dan juga HyoYeon.

“Perasaan waktu aku pindah dulu, kalian tidak sesedih ini”.

Yoona bergabung dengan yang lainnya. Ia merasa cemburu atas perbedaan yang ia rasakan ketika ia pindah dan ketika TaeYeon pindah. Tidak adil, itulah yang ia rasakan.

“Sini sini eonni peluk”.

HyoYeon melepaskan pelukannya dari TaeYeon, SooYoung, dan juga SeoHyun dan beranjak mendekati Yoona yang tengah cemberut.

“Sekarang sudah terlambat eonni. Aku sudah lama pindah”, Yoona melepaskan pelukan HyoYeon dan lagi-lagi memanyunkan bibirnya. Ia tak terima dengan sikap sang eonni.

“Ny. Lee marah nih ceritanya”.

SooYoung mendekati dan mengikuti jejak HyoYeon untuk menggoda Yoona. Begitulah selalu yang terjadi ketika mereka tengah kumpul.

©   ©   ©

Setengah jam berlalu dari kegiatan saling menggoda itu dan sekarang waktu untuk TaeYeon meninggalkan apartemen semakin dekat. Dengan perasaan deg-degan ia menanti kedatangan sang suami yang sudah hampir tiga hari tidak ia temui. Pasti ia sangat rindu dengan pria yang baru tiga bulan ini menjadi suaminya.

Pintu apartemen mereka terbuka, Tiffany yang baru saja kembali dari supermarket masuk dengan membawa beberapa kantung plastik. Hari ini Tiffany mendapat tugas untuk membeli bahan-bahan makanan. Meskipun sebenarnya sangat rawan bagi mereka untuk bepergian sendirian di tempat yang ramai, tapi berhubung supermarket yang ia tuju berada di lantai satu gedung apartemen, maka dari itu ia tak merasa khawatir dengan kemungkinan fans mendatangi.

“TaeYeon-ah, lihat siapa yang aku temui di depan pintu”.

Tiffany yang baru saja datang langsung memanggil TaeYeon. Ia ternyata datang tidak sendirian. Ada sesosok pria yang mengikutinya dari belakang.

TaeYeon memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk. Senyum bahagia terpancar dari raut wajahnya. Bagaimana tidak, tiga hari tidak bertemu dengan pangerannya itu membuatnya sangat merindukan sosok itu. Mungkin terlalu berlebihan, tapi yang namanya pengantin baru berpisah beberapa jam saja dari sang suami pasti sangat tersiksa akan kerinduan. Dan itu pulalah yang tengah di alami oleh seorang Kim TaeYeon, leader dari Girls’ Generation.

Oppa wasseo“.

Ia langsung berlarian menghampiri prianya itu. melepas segala kerinduan terhadap sang suami. Sang suamipun dengan senang hati menerima gelayut manja sang istri. Inilah yang membuatnya selalu merindukan sosok Kim TaeYeon. Sikap TaeYeon yang manja padanya, ia sangat menyukai sikap itu. Sikap yang ia harap hanya ia seoranglah yang akan menerimanya.

“Kau merinduka oppa sayang?”.

Leeteuk memundurkan badan bagian atasnya sedikit agar ia bisa melihat sosok yang istri yang masih dengan nyamannya bersandar di dada sang suami.

“Aku sangat merindukanmu oppa. Kenapa lama sekali?”.

TaeYeon menatap wajah sang suami yang sedari tadi menatapnya dengan senyuman. Cuuuppp, sebuah kecupan mendarat tepat di bibir tipis sang istri. Sudah beberapa hari ini ia merindukan bibir tipis itu. Ia merindukan segala bentuk dari seorang Kim TaeYeon yang sekarang telah berganti menjadi Park TaeYeon. Tapi tidak TaeYeon tetap menyandang marga ayahnya. Anaknya kelaklah yang akan menyandang marga sang suami, tapi bukan ia. Ia lebih suka di sapa sebagai Ny. Park daripada Park TaeYeon. Ia tidak suka itu. Lagi pula menganti marga setelah menikah tidak terlalu lazim di negara ini. Status mereka saja yang berganti, tapi tidak dengan marga.

“Kamu bawa barang banyak sekali sayang”.

Leeteuk memalingkan wajahnya dari TaeYeon. Ia melihat tiga buah kardus berukuran sedang dan dua buah koper besar telah terpajang indah di depan matanya. Ia kembali menatap sang istri.

“Oppakan sudah bilang tidak perlu membawa banyak barang”, Leeteuk melepaskan pelukannya dari sang istri. Iapun menghampiri tumpukan barang yang hendak di bawa sang istri.

“Semua barang-barang ini penting oppa”, Rengeknya ketika sang suami menyuruhnya untuk mengurangi barang-barang yang ia bawa.

“Tapi ini terlalu banyak sayang”.

Leeteuk berusaha membujuk sang istri. Menurutnya barang-barang yang di bawa sang istri bukanlah barang-barang yang terlalu penting baginya.

“Yasudah. Ayo kita pulang”.

Akhirnya Leeteuk pasrah. Mungkin saja semua barang-barang itu memiliki memori tersendiri bagi istrinya yang mau tidak mau harus ia bawa.

“Aku pergi dulu”, TaeYeon memeluk membernya satu persatu sebelum akhirnya meninggalkan mereka dengan segala ekspresi diwajah.

“Iya, hati-hati”, Hanya itulah kalimat yang keluar dari mulut para membernya. Lambaian tangan mengiringi kepergian sang leader.

Eonni hati-hati, kalau ada apa-apa kami selalu siap membantu”.

SeoHyun kembali menitikan air mata. Entah kenapa ia merasa sangat berat untuk melepaskan kepergian sang eonni dari apartemen mereka.

“Iya, kau jangan menangis. Eonni hanya pindah apartemen, Cuma itu. jadi buat apa kau bersedih seperti ini”.

TaeYeon menyapu tetesan air mata yang membasahi pipi temben sang maknae. Ia sadar kalau ini bukanlah hal yang mudah baginya. Baginya SeoHyun tetaplah menjadi adik kecil yang akan selalu bergantung pada mereka. Meskipun usianya hanya dua tahun di bawah rata-rata dari mereka.

“Tahun kemaren Yoona eonni yang pindah, sekarang giliran TaeYeon eonni. Besok siapa lagi???”, SeoHyun langsung pergi meninggalkan kakak-kakaknya. Ia tak sanggup lagi menatap wajah semua eonninya.

“Oppa tunggu sebentar”.

TaeYeon meminta izin pada suaminya dan mengejar SeoHyun hingga ke kamarnya. Ia tidak tega melihat sang maknae bersedih seperti itu. Inilah kehidupan dan ia harus menerima semua kenyataan ini. SeoHyun harus mulai bisa melepaskan orang yang ia sayangi dalam memilih jalan hidupnya. Ia memeluk SeoHyun erat-erat sembari memberikan beberapa nasehat.

“SeoHyun-i, eonni tidak kemana-mana, eonni hanya pindah rumah itu aja. Kepindahan eonni ini tidak berarti kita akan berpisah selamanya. Kamu harus mengerti”.

Ia tidak tahu harus berbicara apa lagi kepada SeoHyun. Sepertinya sudah banyak nasehat yang ia berikan, tapi tetap saja maknae itu tidak menerima. Oh, mungkin belum menerima bukannya tidak.

“Iya,..apa yang dikatakan TaeYeon eonni  itu bener, aku dan TaeYeon eonni pindah dari rumah ini bukan berarti kita tidak akan bertemu lagi. Buktinya saja eonni sudah hampir dua tahun pindah, tapi masih sering ke sini. Kau tidak perlu khawatir“.

Yoona juga ikut menasehati sang maknae. Sebelumnya SeoHyun juga bersikap seperti ini ketika ia pindah dan sekarang semuanya terulang kembali. Sama persis seperti dua tahun yang lalu.

“Kau saja yang tidak bisa jauh dari kami”, Sunny tiba-tiba saja muncul dan langsung menggoda Yoona.

“Eonni”.

Yoona mengeluarkan teriakan super dahsyatnya dan membuat semuanya menutup telinga. Sunnypun tertawa dan menghentikan celotehannya itu dan memilih untuk memeluk SeoHyun.

©   ©   ©

Sekarang mereka semua sudah kembali dengan aktifitas mereka masing-masing. SeoHyun sudah tidak bersedih lagi. Beruntung saja ia memiliki kesibukan yang dapat menutupi kesedihan yang beberapa jam yang lalu melanda dirinya. Ditemani SooYoung dan juga Sunny, mereka melakukan semua pemotretan untuk cover sebuah majalah. Tiffany memilih untuk mengunjungi rumah temannya waktu masih di Amerika. Temannya baru beberapa hari yang lalu pindah ke Seoul. Sedangkan Yoona sekarang telah kembali pulang ke rumahnya.

Menghabiskan waktu sendirian tanpa ada melakukan apapun merupakan hal yang paling membosankan. Menunggu jam berdetak hingga malam tiba. Itulah yang tengah di lakukan seorang Im Yoona. Ia merasa sangat bosan sekarang. Suaminya yang tengah melakukan syuting ke luar kota membuatnya harus menghabiskan beberapa hari ini dengan kesendirian.

Bell apartemennya berbunyi. Iapun segera berlari menuju intercall. TaeYeon, eonninya yang tengah sibuk dengan apartemen barunya datang berkunjung ke apartemennya.

“Eonni???”, Dengan wajah yang masih kesal akibat ulah sang suami, ia membuka pintu.

“Kau kenapa menyambut eonni seperti itu?”, TaeYeon melihat ekspresi tidak senang yang ditunjukkan Yoona padanya. Ia jadi merasa tidak enak dengan dongsaengnya itu.

“Aku kesal dengan oppa eonni”, Ia cemberut sembari menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Ia kesal dengan suaminya yang tidak menepati janjinya.

“Emangnya ada apa??”, TaeYeon mengikuti Yoona dan duduk disebelahnya. Ia membelai lembut rambut hitam panjang milik dongsaengnya itu.

“Tadi katanya oppa mau telpon, tapi sampai sekarang ia belum nelpon”.

Keluh Yoona pada sang eonni. Saking kesalnya ia sampai melempar beberapa bantal kecil ke lantai. TaeYeon hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku dongsaengnya itu. Pantas saja mereka sering bertengkar. Sikap Yoona yang seperti anak-anak inilah penyebabnya.

“Mungkin suamimu sedang sibuk”, TaeYeon berusaha menenangkan dongsaengnya itu.

“Kalau memang sedang sibuk kenapa bikin janji mau nelpon”.

Yoona beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju dapur. Ia lupa, eonninya pasti harus setelah bekerja keras merapikan perabotan di apartemen barunya. Iapun meletakkan segelas air di hadapan sang eonni. Melihat ekspresi wajah Yoona yang masih saja cemberut, membuat TaeYeon ikut-ikutan cemberut menatap Yoona.

“Eonni kenapa ikutan cemberut sepertiku??”, Ia menatap eonninya yang ternyata juga melakukan hal yang sama dengannya.

“Habisnya lucu”.

TaeYeon memegang kedua bibir mungil milik dongsaengnya itu dan sedikit mencubitnya. Ia gemes melihat tingkah laku Yoona saat itu.

“Eonniii, nanti kalau bibiku cidera bagaimana caraku mencium suamiku”.

Pekik Yoona melepaskan cupitan Taeyeon. TaeYeon tertawa mendengarkan respon spontan dari mulut dongsaengnya itu. Di tengah rasa kesalnya terhadap sang suami, ia masih sempat-sempatnya berpikir mengenai ciuman.

“Ada apa eonni, tiba-tiba kesini??”, Yoona mengelus kedua bibirnya yang sama sekali tidak menunjukkan bekas dicubit ataupun disentuh.

“Memangnya tidak boleh eonni berkunjung ke apartemenmu?”.

TaeYeon menatap sinis wajah Yoona. Ia tahu maksud Yoona bukanlah mengusirnya, tapi ia sangat senang sekali bermain dengannya.

“Tentu saja boleh, tapikan sebentar lagi eonni ada pesta, jadi tidak mungkin kesini untuk main”, Yoona sedikit curiga dengan maksud kedatangan eonninya itu. ada perasaan yang aneh yang ia rasakan saat itu.

“Eonni kesini buat menjemputmu”,Yoona terkejut. Ia tidak mengerti dengan maksud sang eonni.

“Iya, eonni minta bantuanmu karena kau yang paling dekat dan sedang tidak ada kerjaan”.

TaeYeon memberitahukan maksud kedatangannya yang sebenarnya pada Yoona. Maksud untuk meminta bantuan Yoona menyiapkan segala keperluan untuk pesta malam nanti.

“Aku sedang sibuk eonni”, Yoona mengelak. Ia beranjak dari duduknya dan belagak sok sibuk dengan melakukan apapun yang ia temukan saat itu juga.

“Ya ya Yoona-ah”.

TaeYeon yang sudah paham dengan gerak gerik Yoona langsung saja mengenggam tangannya dan mengajaknya untuk segera pergi.

“Arraseo eonni”.

Taktik Yoona kali ini tidak mempan. Buktinya saja TaeYeon tidak percaya dengan sikapnya yang tiba-tiba saja berlagak sok sibuk.

TaeYeon akhirnya berhasil membawa Yoona ke apartemennya. Walaupun ia tahu bahwa Yoona tidak terlalu bisa memasak, tapi setidaknya ia bisa diandalkan untuk membantunya membereskan semua yang diperlukan. Lagi pula Yoona juga sangat piawai dalam memotong makanan. Ia akan membuatnya terlihat sangat indah

To Be Continue

Bagaimana chapter satunya???? banyak perubahankan dari yang sebelumnya ehhe,..

Semoga kalian semua suka dengan perubahan ceritaku ini. 

Jangan lupa saran and kritiknya ya

Khamsahamnida

http---signatures.mylivesignature.com-54492-198-DFA94A137106D830CAD4297F5A59CA05