My Love For You [Chapter 1]

Posted: November 24, 2013 in Comedy, Family, Friendship, Marriage Life, Romance
Tags: , , , , , , , , , ,

Chapter 1

Kim TaeYeon and Leeteuk – Suju and SNSD – Friendship, Romance, Mellow, Marriage Life

Copyright@hyuna0590

– Note –

Hello hello semua, FF chapterku yang pertama ini aku revisi sedikit. Tanpa mengubah inti cerita yang sudah aku tentukan sebelumnya. Hanya menambah dan mengurangkan beberapa bagian saja. Tapi mungkin lebih banyak ditambah dari pada di kurangi. Jadi, semoga teman-teman sekalian memaklumi perubahan cerita ini.

– Happy Reading –

“There are things we don’t want to happen, but have to accept and people we don’t want to lose, but have to let go”

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi kesembilan wanita cantik itu untuk menjadi wanita paling berpengaruh di Korea Selatan. Jirih payah mereka selama hampir dua puluh tahun berbuah manis. Sekarang kemanapun mereka pergi pasti ada saja yang mengenali mereka. Tentu saja hal itu menjadi suatu kebangaan terendiri. Tapi ada kalanya kepopuleran itu membuat gerak dan kehidupan pribadi mereka tidak lagi terkesan pribadi. Ada saja pihak yang selalu ingin mengetahui setiap gerak-gerik mereka. Dan itu tentu saja tidak nyaman. Mereka pasti sudah tahu semua itu adalah konsekuensi yang harus mereka hadapi ketika memasuki dunia entertainmen.

Malam itu merupakan malam perpisahan bagi mereka. Sebenarnya bukan perpisahan dalam arti mereka tak lagi bisa bertemu satu sama lain. Tapi lebih kepada perpisahan salah satu member yang telah berumah tangga. Lebih tepatnya, dua orang dari sembilan wanita cantik itu telah memiliki pendamping masing-masing. Dua dari mereka juga tidak lagi tinggal di apartemen yang dulu menjadi istana bagi mereka bersembilan. Yoona, member pertama dari kesembilan wanita itu menjadi member pertama yang melepas masa lajangnya. Dua tahun yang lalu ia dipinang oleh seorang aktor berbakat dan terkenal di negara ini, Lee Seung Gi. Mereka menikah setelah menjalani masa pacaran selama lebih kurang tiga tahun.epuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi kesembilan wanita cantik itu untuk menjadi wanita paling berpengaruh di Korea Selatan. Jirih payah mereka selama hampir dua puluh tahun berbuah manis. Sekarang kemanapun mereka pergi pasti ada saja yang mengenali mereka. Tentu saja hal itu menjadi suatu kebangaan terendiri. Tapi ada kalanya kepopuleran itu membuat gerak dan kehidupan pribadi mereka tidak lagi terkesan pribadi. Ada saja pihak yang selalu ingin mengetahui setiap gerak-gerik mereka. Dan itu tentu saja tidak nyaman. Mereka pasti sudah tahu semua itu adalah konsekuensi yang harus mereka hadapi ketika memasuki dunia entertainmen.

Kemudian ada TaeYeon, member kedua yang melepas masa lajangnya. Pesta perpisahan yang mereka adakan merupakan pesta perpisahan dan sekaligus menjadi pesta menyambut status baru dirinya sebagai seorang istri. Istri dari seorang leader boygroup yang tak kalah terkenalnya dari girlgroup mereka. Bahkan girlgroup mereka sering dibilang sebagai versi wanita dari boygroup milik suaminya TaeYeon, Leeteuk.

Akhir tahun kemaren menjadi momen yang paling indah bagi TaeYeon dan juga Leeteuk. Bagaimana tidak, pada waktu itu mereka berjalan bersama menyusuri kehidupan baru sebagai suami istri. Mengucap janji sehidup semati, selalu saling menjaga, dan menyayangi hingga ajal menjemput. Tidak hanya janji, tetapi juga sekaligus menjadi harapan mereka berdua. Bahkan juga menjadi harapan bagi semua yang mengarungi kehidupan berumah tangga.

Pesta sederhana itu mereka adakan di ruang utama apartemen. Alasannya simple karena ruangan itu memiliki banyak kenangan. Tak hanya ruangan itu, tetapi juga apartemen itu secara keseluruhan. Semuanya memiliki kenangan disetiap sudutnya. Maka dari itu mereka memilih untuk menyelenggarakan pesta yang hanya dihadiri orang mereka bersembilan itu di apartemen mereka sendiri. Tidak ada pihak lain yang ikut serta, tidak bahkan suami dari kedua member yang telah menikah atau bahkan kekasih dari member yang lainnya.

Malam semakin larut, tapi canda tawa mereka semain menjadi. Mereka begitu menikmati kebersamaan itu. kebersamaan yang sangat jarang mereka lakukan, kecuali ketika mereka tengah berada di luar negeri. Ketika diberi waktu istirahatpun mereka tidak bisa berkumpul bersama karena pasti mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu itu dengan keluarga-keluarga mereka. Makanya berkumpul sambil bercanda seperti saat ini sangatlah langka. Di saat ulang tahun memberpun terkadang mereka tidak dapat berkumpul secara lengkap karena kesibukan mereka yang berbeda. Meskipun mereka debut dalam bentuk group, tetapi mereka masih memiliki kegiatan individu yang cukup menguras tenaga.

Di tengah canda tawa yang tercipta malam itu, terselip sebuah rasa sedih akan kepindahan TaeYeon dari apatemen yang telah menjadi saksi atas kesibukan mereka selama lebih kurang delapan tahun belakangan.

“Mari kita bersulang untuk kebahagiaan TaeYeon”.

Tiffany mengangkat jelas yang sebelumnya telah ia isi wine seperempat gelas. Tidak lagi tinggal satu atap bersama member terdekatnya itu memuatnya terlihat sangat sedih malam itu. Mungkin ia ingin melarang kepindahan TaeYeon, tapi tidak mungkin. Ia sadar kalau saa ini sahabatnya itu telah memiliki suami dan tentu saja ia harustinggal bersama suaminya. Tidak bersama mereka bertujuh.

“Kombae”.

Mereka meneguk wine setelah mendengarkan beberapa perkataan dan doa yang disampaikan Tiffany untuk TaeYeon, leader mereka. Tiffany kembali duduk setelah meneguk habis wine yang terisi di dalam gelasnya. Ia menatap paras cantik sahabatnya itu. Ia pun juga menatap paras cantik Yoona yang duduk beberapa kursi di dekat TaeYeon. Ia tak pernah menyangka semua ini akan terjadi begitu cepat. Sepertinya baru kemaren mereka training bersama-sama sepulang sekolah. Tidur bersama di ruang latihan dan kemudian kembali berlatih kembali setelah bangun.

Gomawo yo“.

TaeYeon tersenyum dan mengenggam tangan membernya satu persatu. Ia merasa sangat berterima kasih atas segala yang telah dilakukan member-membernya padanya. Member yang sudah ia angap seperti keluarganya sendiri. Keluarga yang tahu semuanya tentang dirinya. Semua yang ia suka dan semua yang tidak ia suka.

“Kau harus sering-sering ke sini”.

HyoYeon, sang dancing queen memeluknya. Sekarang mereka kehilangan satu orang juru masak. Meskipun mereka memiliki pembantu di apartemen, tapi tetap saja kedua orang ini selalu membuatkan makan apa saja untuk mereka.

“Kalian tenang saja, aku pasti akan sering ke apartemen ini. Lagi pula aku belum pensiun”, TaeYeon memeluk HyoYeon dan juga Yuri yang duduk di sebelah kiri dan juga kanannya.

“Betul juga”.

Yuri melepaskan pelukan TaeYeon dan kemudian lanjut menyantap makanan yang telah di buat khusus oleh TaeYeon untuk member-membernya itu. Masakan special sebagai rasa terima kasih atas apa yang telah ia terima dari mereka selama ini.

“Fany-ah kwinchana-yo”.

Tiffany menitikan air mata. Kepindahan sahabat dekatnya itu sangat membuat ia bersedih. Ia berusaha untuk mengikhlaskan keputusannya, tapi tetap saja perasaan sedih itu tetap ia rasa. Ia tahu cepat atau lambat ia akan berpisah dengan membernya satu persatu.

“Aku ikut bahagia untukmu”.

Tiffany kembali tersenyum setelah melihat sahabat-sahabatnya itu bahagia. Ia tahu ia salah, tidak seharusnya ia menangisi sesuatu yang tidak jelas seperti ini. TaeYeon tidak pergi jauh, tapi ia hanya pindah apartemen saja dan itu hanya berjarak tiga apartemen dari apartemen mereka sekarang. Tapi begitulah yang namanya sahabat dekat. Meskipun jaraknya dekat, tapi yang namanya perpisahan tetap saja menyedihkan. Tidak dapat bertemu sesering dahulu membuat ia sedih. Tapi inilah kehidupan dan ia tak mungkin menghalangi kebahagiaan sahabatnya itu.

“Gomawo”.

TaeYeon mengenggam tangan Tiffany. Ia dapat merasakan kalau sahabatnya yang satu ini sedih dengan berita kepindahannya ini.

“Ngomong-ngomong, kau dan Geun Seuk oppa bagaimana???”.

TaeYeon mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau semuanya larut dalam rasa sedih yang sebenarnya tidak beralasan ini. Bagaimana tidak, toh ia tidak pergi jauh dan setiap haripun mereka masih tetap bisa bertemu.

“Bagaimana apanya? Kami baik-baik saja. Kadang-kadang dia menyebalkan dan setiap kali bertemu pasti ia membuatku marah dan ujung-ujungnya kami bertengkar. Tapi ya nanti juga baikkan lagi”.

Yuri terlihat malu-malu menjelaskan kisah cintanya dengan sang kekasih, Jang Geun Seuk. Aktor yang terkenal dengan dandanan khas pria metroseksual alias modis dan fashionable.

“Itu sih baru awalnya saja. Nanti kalau sudah married, hmmm…bakalan lebih sering”.

Yoona menarik nafasnya dalam-dalam. Perkataan eonninya itu mengingatkannya pada kisah rumah tangganya dengan sang suami. Sama-sama bekerja di dunia hiburan. Sama-sama sibuk dan sama-sama lelah karena pekerjaan membuat pasangan ini sering berselisih paham.

“Tapi sepertinya kau jarang sekali terlihat bertengkar dengan suamimu?”, Yoona terkejut mendengar perkataan TaeYeon. Ia hampir saja tersendak ketika hendak meneguk segelas air putih.

“Siapa bilang kami jarang bertengkar. Hampir setiap hari kami bertengkar”.

Yoona terlihat kesal apabila mengingat kejadian-kejadian itu. Ia bersyukur mendapatkan suami yang sangat perhatian dan sayang padanya. Tapi kadang kalanya sang suami terlalu protektif dan itu membuatnya kesal. Ketika suaminya tidak bekerja,  ialah yang memegang kendali atas apa yang masuk ke dalam perut sang istri. Itu membuat Yoona kesal. Ia merasa hidupnya di atur oleh pria yang bernama Lee Seung Gi itu.

“Kau sabar saja. Aturannya kau bersyukur diberikan suami yang baik dan setia seperti dia”.

TaeYeon mengelus pundak Yoona yang masih kesal dengan sikap suaminya itu. Niat suaminya memang baik karena memperhatikan kesehatannya. Tapi baginya sikap itu terlalu berlebihan.

“Oppa pasti memiliki alasan mengapa ia bersikap seperti itu”.

Tiffany tertawa lucu melihat sikap sang dongsaeng yang masih dengan wajah cemberutnya.

“Pasti kau yang cari gara-gara”.

Tebak Yuri yang membuat Yoona langsung menatap eonninya itu. Bagaimana tidak, Yuri menyalahkannya atas semua sikap yang ia terima dari suaminya. Mungkin sebagian memang salahnya, tapi tidak semuanya.

“Sudah aku tebak”.

Yuri kembali menggoda dongsaengnya itu. Yoona dan Yuri memang terkenal sebagai pasangan yang apabila tengah akur, maka mereka akan menjadi devil yang siap memangsa siapapun yang ada di hadapannya. Tapi apabila tengah bertengkar, semuanya akan menjauh. Dunia seperti kiamat ketika mereka berdua mulai bertengkar.

“Eonni!! aku tidak pernah mencari gara-gara tahu”, Yoona memulai pertengkaran mereka malam itu. Ia kesal dengan tuduhan yang diberikan mantan teman sekamarnya itu.

“Kalau bukan karena kau terus karena siapa??? Suamimu??? Eonni tidak percaya”, Yuri mengelengkan kepalanya bak bos besar yang tidak terima dengan kerja bawahannya.

“Mungkin kadang-kadang iya karena aku, tapi oppa juga sering bikin gara-gara”.

Yoona mengakui tuduhan yang ditujukan padanya. Tapi ia menekankan kalau tidak semua bertengkaran yang terjadi diantara ia dan juga suaminya itu karena ulahnya. Suaminya juga turut adil dalam setiap pertengkaran mereka.

Yuri terus menatap Yoona. Ia mencoba mengartikan mimik wajah sang dongsaeng. Ia tahu Yoona tidak berbohong, tapi ia ingin bermain dengannya malam ini. Ia senang melihat wajah Yoona yang kesal. Baginya itu sangat mengemaskan dan lucu.

“Buktinya saja kau sering bikin eonni kesal”.

Lagi-lagi Yuri meluncurkan aksinya. Dan tentu saja Yoona tidak terima dengan perkataan eonninya barusan.

“Eonni juga sering membuat aku kesal”.

Yoona membalas perkataan Yuri. Ia tak terima dijatuhkan seperti itu. Ia sudah mengakuinya dan berharap sang eonni akan berhenti memojokkannya, tapi ternyata tebakannya salah. Yuri malah semakin menjadi-jadi.

“Kalian itu bisa tidak sekali-sekali akur???”.

SooYoung mulai kesal dengan perdebatan kedua wanita itu. Telinganya terasa panas setiap kali mendengar kedua manusia itu saling memojokkan satu sama lain.

“Ini acaranya TaeYeon, bukan acara kalian”.

Jessica juga ikut kesal dengan sikap dua orang itu. Ia yang biasanya diam saja dan terkadang menikmati pertengkaran Yoona dan Yuri, sekarang malah tidak. Ia ingin agar mereka berdua berhenti bertengkar sekarang juga.

Kedua orang itu menundukan kepalanya. Mereka sadar telah membuat sahabat-sahabatnya kesal malam itu. SooYoung benar, malam itu adalah acara TaeYeon. Acara perpisahan buat sang leader dan bukan acara pertengkaran mereka.

©   ©   ©

Setelah puas berpesta malam harinya, sekarang tibalah waktu bagi TaeYeon untuk mengemasi barang-barangnya dan bersiap-siap untuk tinggal bersama sang suami yang baru saja pulang melakukan konsernya di Jepang.

Di bantu oleh sahabat-sahabatnya ia merapikan sebagian barang-barangnya. Ia hanya membawa barang-barang yang ia rasa sangat penting dan tidak mungkin ditinggal di dorm. Ia yakin suatu saat pasti ia akan menghabiskan banyak waktu di apartemen ini, maka dari itu ia memutuskan hanya membawa sebagian barang saja ke rumah barunya. Hal yang sama juga sempat diutarakan oleh sang suami, Leeteuk. Ia juga berkata agar TaeYeon membawa barang seperlunya saja, tidak terlalu banyak karena nanti mereka akan membeli kekurangannya, tanpa harus membawa barang-barang apartemen ini.

Eonni, Geun Seuk oppa datang”.

Yoona berlari menuju intercall ketika mendengar bell apartemen mereka berbunyi. Jang Geun Sek, kekasih Yuri datang menjemputnya. Setelah merapikan dandanannya Yuri kemudian langsung berlari menuju Yoona yang masih setia berdiri di depan intercall hingga Yuri datang menghampirinya.

“Na Kalke“.

Yuri mengucapkan selamat tinggal pada member-membernya dan tak lupa memberikan sebuah salam perpisahan kepada sang dongsaeng, Yoona. Ia mendapatkan cubitan tepat di pipi dari sang eonni.

“Hati-hati eonni“, Yoona kembali cemberut menerima perlakukan itu dari eonninya. Meskipun tidak merah, tapi cubitan Yuri terasa sakit baginya.

Setelah melepas kepergian Yuri, Yoona kembali ke ruang utama dan kembali merapikan beberapa barang milik TaeYeon. Masing-masing member memang sudah diberi tugas khusus oleh TaeYeon. Yoona dipinta untuk merapikan beberapa tas miliknya, SooYoung membantu TaeYeon memasukkan beberapa barang ke dalam tas, sedangkan yang lain tengah sibuk menyiapkan cemilan sebagai menu pertama TaeYeon dan Leeteuk di apartement baru mereka.

“Yoona-ya, kesini bentar!!!”.

Teriak TaeYeon dari dalam kamar. Ia memanggil Yoona untuk dimintai tolong karena menurutnya hanya Yoonalah yang bisa membantunya kali ini.

Wae eonni????”.

Secepat kilat Yoona menghampiri TaeYeon dan juga SooYoung.

“Tolong angkatkan tas ini, aku tidak kuat”.

Keluh TaeYeon pada dongsaengnya itu. Inilah alasan kenapa TaeYeon meminta bantuan Yoona karena yang piawai dengan barang-barang berat adalah Yoona. Tidak ada member lain yang lebih piawai darinya.

“SooYoung eonnikan ada. Kenapa harus aku”, Yoona memalingkan wajahnya menatap SooYoung yang hanya berdiri menatapinya.

“Aku tidak kuat Yoona”.

Terang SooYoung. Ia memang bukanlah orang yang kuat seperti Yoona. Ia memang kuat, tapi kuat dalam hal makan. Tidak dalam hal mengangkat-angkat barang seperti Yoona.

“Arraseo”, Yoona mulai mengangkat kardus milik TaeYeon satu persatu menuju ruang utama.

“Mau di tarok dimana eonni????”, Yoona berhenti sejenak dan membalikkan tubuhnya menatap TaeYeon.

“Di sana aja”, TaeYeon menunjuk ke arah sofa ruang tamu dan dengan hati-hati Yoona meletakkan kardus-kardus itu di dekat kursi.

“Ini isinya apa eonni???”, Yoona meletakkan kardus terakhir di atas kardus sebelumnya.

“Cuma baju dan barang-barang biasa, kenapa berat???”.

TaeYeon bangga sengan dongsaengnya itu. Bagaimana tidak, dengan tubuh yang kurus seperti itu ia bisa mengangkat barang-barang yang bisa dibilang tidak ringan.

“Tidak, Cuma ini yang mau eonni bawa??”.

Yoona memperhatikan barang bawaan TaeYeon yang sudah tersusun rapi di ruang utama apartemen mereka.

“Di dalam masih ada satu koper besar lagi”.

Taeyeon tersenyum malu mengakui bahwa barang bawaannya masih ada. Ia terlihat seperti ibu-ibu yang selalu membawa berbagai macam barang kemanapun mereka pergi. Mungkin julukan itu juga akan menjadi julukannya mulai dari sekarang. Ibu-ibu.

“Mau aku tolong bawakan??”, Yoona berjalan kembali ke kamar TaeYeon berniat membawakan koper yang masih tersisa di dalam kamar eonninya itu..

“Tidak usah, aku bisa membawanya sendiri. Lagian koper itu bisa di dorong. Gomawo Yoona-ya”.

TaeYeon meninggalkan Yoona di ruang utama dan bergegas kembali ke kamarnya untuk kembali mengambil sisa koper di dalam kamarnya.

“Kenapa satu persatu eonni meninggalkanku”.

SeoHyun menghampiri SooYoung, TaeYeon, dan Yoona yang tengah asyik bercengkrama sebelum Leeteuk datang menjemput TaeYeon. Ia mulai lagi dengan ekspresi sedihnya. Sebagai si bungsu, kehilangan satu persatu kakak menjadi peristiwa yang paling tidak ia sukai. Apalagi TaeYeon dan Yoona merupakan kedua kakak yang sangat dekat dengannya, sama halnya dengan Tiffany kehilangan TaeYeon.

“Eonni hanya pindah apartemen, bukannya pindah negara”.

TaeYeon mengelus lembut lengan si bungsu. Tak hanya si bungsu, tapi terkadang member-membernya bersikap terlalu berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipermasalahankan. TaeYeon tersenyum menatapi wajah polos SeoHyun.

“Tapi eonni janji harus sering ke sini”, SeoHyun memeluk sang eonni untuk kesekian kalinya.

“Iya pasti. Kau jangan menangis”.

TaeYeon kembali tersenyum dan sesekali mengusap air mata sang maknae yang sedikit mulai membasahi matanya. TaeYeon kembali memeluknya dan kemudian disusul oleh membe-member yang lain SooYoung dan juga HyoYeon.

“Perasaan waktu aku pindah dulu, kalian tidak sesedih ini”.

Yoona bergabung dengan yang lainnya. Ia merasa cemburu atas perbedaan yang ia rasakan ketika ia pindah dan ketika TaeYeon pindah. Tidak adil, itulah yang ia rasakan.

“Sini sini eonni peluk”.

HyoYeon melepaskan pelukannya dari TaeYeon, SooYoung, dan juga SeoHyun dan beranjak mendekati Yoona yang tengah cemberut.

“Sekarang sudah terlambat eonni. Aku sudah lama pindah”, Yoona melepaskan pelukan HyoYeon dan lagi-lagi memanyunkan bibirnya. Ia tak terima dengan sikap sang eonni.

“Ny. Lee marah nih ceritanya”.

SooYoung mendekati dan mengikuti jejak HyoYeon untuk menggoda Yoona. Begitulah selalu yang terjadi ketika mereka tengah kumpul.

©   ©   ©

Setengah jam berlalu dari kegiatan saling menggoda itu dan sekarang waktu untuk TaeYeon meninggalkan apartemen semakin dekat. Dengan perasaan deg-degan ia menanti kedatangan sang suami yang sudah hampir tiga hari tidak ia temui. Pasti ia sangat rindu dengan pria yang baru tiga bulan ini menjadi suaminya.

Pintu apartemen mereka terbuka, Tiffany yang baru saja kembali dari supermarket masuk dengan membawa beberapa kantung plastik. Hari ini Tiffany mendapat tugas untuk membeli bahan-bahan makanan. Meskipun sebenarnya sangat rawan bagi mereka untuk bepergian sendirian di tempat yang ramai, tapi berhubung supermarket yang ia tuju berada di lantai satu gedung apartemen, maka dari itu ia tak merasa khawatir dengan kemungkinan fans mendatangi.

“TaeYeon-ah, lihat siapa yang aku temui di depan pintu”.

Tiffany yang baru saja datang langsung memanggil TaeYeon. Ia ternyata datang tidak sendirian. Ada sesosok pria yang mengikutinya dari belakang.

TaeYeon memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk. Senyum bahagia terpancar dari raut wajahnya. Bagaimana tidak, tiga hari tidak bertemu dengan pangerannya itu membuatnya sangat merindukan sosok itu. Mungkin terlalu berlebihan, tapi yang namanya pengantin baru berpisah beberapa jam saja dari sang suami pasti sangat tersiksa akan kerinduan. Dan itu pulalah yang tengah di alami oleh seorang Kim TaeYeon, leader dari Girls’ Generation.

Oppa wasseo“.

Ia langsung berlarian menghampiri prianya itu. melepas segala kerinduan terhadap sang suami. Sang suamipun dengan senang hati menerima gelayut manja sang istri. Inilah yang membuatnya selalu merindukan sosok Kim TaeYeon. Sikap TaeYeon yang manja padanya, ia sangat menyukai sikap itu. Sikap yang ia harap hanya ia seoranglah yang akan menerimanya.

“Kau merinduka oppa sayang?”.

Leeteuk memundurkan badan bagian atasnya sedikit agar ia bisa melihat sosok yang istri yang masih dengan nyamannya bersandar di dada sang suami.

“Aku sangat merindukanmu oppa. Kenapa lama sekali?”.

TaeYeon menatap wajah sang suami yang sedari tadi menatapnya dengan senyuman. Cuuuppp, sebuah kecupan mendarat tepat di bibir tipis sang istri. Sudah beberapa hari ini ia merindukan bibir tipis itu. Ia merindukan segala bentuk dari seorang Kim TaeYeon yang sekarang telah berganti menjadi Park TaeYeon. Tapi tidak TaeYeon tetap menyandang marga ayahnya. Anaknya kelaklah yang akan menyandang marga sang suami, tapi bukan ia. Ia lebih suka di sapa sebagai Ny. Park daripada Park TaeYeon. Ia tidak suka itu. Lagi pula menganti marga setelah menikah tidak terlalu lazim di negara ini. Status mereka saja yang berganti, tapi tidak dengan marga.

“Kamu bawa barang banyak sekali sayang”.

Leeteuk memalingkan wajahnya dari TaeYeon. Ia melihat tiga buah kardus berukuran sedang dan dua buah koper besar telah terpajang indah di depan matanya. Ia kembali menatap sang istri.

“Oppakan sudah bilang tidak perlu membawa banyak barang”, Leeteuk melepaskan pelukannya dari sang istri. Iapun menghampiri tumpukan barang yang hendak di bawa sang istri.

“Semua barang-barang ini penting oppa”, Rengeknya ketika sang suami menyuruhnya untuk mengurangi barang-barang yang ia bawa.

“Tapi ini terlalu banyak sayang”.

Leeteuk berusaha membujuk sang istri. Menurutnya barang-barang yang di bawa sang istri bukanlah barang-barang yang terlalu penting baginya.

“Yasudah. Ayo kita pulang”.

Akhirnya Leeteuk pasrah. Mungkin saja semua barang-barang itu memiliki memori tersendiri bagi istrinya yang mau tidak mau harus ia bawa.

“Aku pergi dulu”, TaeYeon memeluk membernya satu persatu sebelum akhirnya meninggalkan mereka dengan segala ekspresi diwajah.

“Iya, hati-hati”, Hanya itulah kalimat yang keluar dari mulut para membernya. Lambaian tangan mengiringi kepergian sang leader.

Eonni hati-hati, kalau ada apa-apa kami selalu siap membantu”.

SeoHyun kembali menitikan air mata. Entah kenapa ia merasa sangat berat untuk melepaskan kepergian sang eonni dari apartemen mereka.

“Iya, kau jangan menangis. Eonni hanya pindah apartemen, Cuma itu. jadi buat apa kau bersedih seperti ini”.

TaeYeon menyapu tetesan air mata yang membasahi pipi temben sang maknae. Ia sadar kalau ini bukanlah hal yang mudah baginya. Baginya SeoHyun tetaplah menjadi adik kecil yang akan selalu bergantung pada mereka. Meskipun usianya hanya dua tahun di bawah rata-rata dari mereka.

“Tahun kemaren Yoona eonni yang pindah, sekarang giliran TaeYeon eonni. Besok siapa lagi???”, SeoHyun langsung pergi meninggalkan kakak-kakaknya. Ia tak sanggup lagi menatap wajah semua eonninya.

“Oppa tunggu sebentar”.

TaeYeon meminta izin pada suaminya dan mengejar SeoHyun hingga ke kamarnya. Ia tidak tega melihat sang maknae bersedih seperti itu. Inilah kehidupan dan ia harus menerima semua kenyataan ini. SeoHyun harus mulai bisa melepaskan orang yang ia sayangi dalam memilih jalan hidupnya. Ia memeluk SeoHyun erat-erat sembari memberikan beberapa nasehat.

“SeoHyun-i, eonni tidak kemana-mana, eonni hanya pindah rumah itu aja. Kepindahan eonni ini tidak berarti kita akan berpisah selamanya. Kamu harus mengerti”.

Ia tidak tahu harus berbicara apa lagi kepada SeoHyun. Sepertinya sudah banyak nasehat yang ia berikan, tapi tetap saja maknae itu tidak menerima. Oh, mungkin belum menerima bukannya tidak.

“Iya,..apa yang dikatakan TaeYeon eonni  itu bener, aku dan TaeYeon eonni pindah dari rumah ini bukan berarti kita tidak akan bertemu lagi. Buktinya saja eonni sudah hampir dua tahun pindah, tapi masih sering ke sini. Kau tidak perlu khawatir“.

Yoona juga ikut menasehati sang maknae. Sebelumnya SeoHyun juga bersikap seperti ini ketika ia pindah dan sekarang semuanya terulang kembali. Sama persis seperti dua tahun yang lalu.

“Kau saja yang tidak bisa jauh dari kami”, Sunny tiba-tiba saja muncul dan langsung menggoda Yoona.

“Eonni”.

Yoona mengeluarkan teriakan super dahsyatnya dan membuat semuanya menutup telinga. Sunnypun tertawa dan menghentikan celotehannya itu dan memilih untuk memeluk SeoHyun.

©   ©   ©

Sekarang mereka semua sudah kembali dengan aktifitas mereka masing-masing. SeoHyun sudah tidak bersedih lagi. Beruntung saja ia memiliki kesibukan yang dapat menutupi kesedihan yang beberapa jam yang lalu melanda dirinya. Ditemani SooYoung dan juga Sunny, mereka melakukan semua pemotretan untuk cover sebuah majalah. Tiffany memilih untuk mengunjungi rumah temannya waktu masih di Amerika. Temannya baru beberapa hari yang lalu pindah ke Seoul. Sedangkan Yoona sekarang telah kembali pulang ke rumahnya.

Menghabiskan waktu sendirian tanpa ada melakukan apapun merupakan hal yang paling membosankan. Menunggu jam berdetak hingga malam tiba. Itulah yang tengah di lakukan seorang Im Yoona. Ia merasa sangat bosan sekarang. Suaminya yang tengah melakukan syuting ke luar kota membuatnya harus menghabiskan beberapa hari ini dengan kesendirian.

Bell apartemennya berbunyi. Iapun segera berlari menuju intercall. TaeYeon, eonninya yang tengah sibuk dengan apartemen barunya datang berkunjung ke apartemennya.

“Eonni???”, Dengan wajah yang masih kesal akibat ulah sang suami, ia membuka pintu.

“Kau kenapa menyambut eonni seperti itu?”, TaeYeon melihat ekspresi tidak senang yang ditunjukkan Yoona padanya. Ia jadi merasa tidak enak dengan dongsaengnya itu.

“Aku kesal dengan oppa eonni”, Ia cemberut sembari menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Ia kesal dengan suaminya yang tidak menepati janjinya.

“Emangnya ada apa??”, TaeYeon mengikuti Yoona dan duduk disebelahnya. Ia membelai lembut rambut hitam panjang milik dongsaengnya itu.

“Tadi katanya oppa mau telpon, tapi sampai sekarang ia belum nelpon”.

Keluh Yoona pada sang eonni. Saking kesalnya ia sampai melempar beberapa bantal kecil ke lantai. TaeYeon hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku dongsaengnya itu. Pantas saja mereka sering bertengkar. Sikap Yoona yang seperti anak-anak inilah penyebabnya.

“Mungkin suamimu sedang sibuk”, TaeYeon berusaha menenangkan dongsaengnya itu.

“Kalau memang sedang sibuk kenapa bikin janji mau nelpon”.

Yoona beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju dapur. Ia lupa, eonninya pasti harus setelah bekerja keras merapikan perabotan di apartemen barunya. Iapun meletakkan segelas air di hadapan sang eonni. Melihat ekspresi wajah Yoona yang masih saja cemberut, membuat TaeYeon ikut-ikutan cemberut menatap Yoona.

“Eonni kenapa ikutan cemberut sepertiku??”, Ia menatap eonninya yang ternyata juga melakukan hal yang sama dengannya.

“Habisnya lucu”.

TaeYeon memegang kedua bibir mungil milik dongsaengnya itu dan sedikit mencubitnya. Ia gemes melihat tingkah laku Yoona saat itu.

“Eonniii, nanti kalau bibiku cidera bagaimana caraku mencium suamiku”.

Pekik Yoona melepaskan cupitan Taeyeon. TaeYeon tertawa mendengarkan respon spontan dari mulut dongsaengnya itu. Di tengah rasa kesalnya terhadap sang suami, ia masih sempat-sempatnya berpikir mengenai ciuman.

“Ada apa eonni, tiba-tiba kesini??”, Yoona mengelus kedua bibirnya yang sama sekali tidak menunjukkan bekas dicubit ataupun disentuh.

“Memangnya tidak boleh eonni berkunjung ke apartemenmu?”.

TaeYeon menatap sinis wajah Yoona. Ia tahu maksud Yoona bukanlah mengusirnya, tapi ia sangat senang sekali bermain dengannya.

“Tentu saja boleh, tapikan sebentar lagi eonni ada pesta, jadi tidak mungkin kesini untuk main”, Yoona sedikit curiga dengan maksud kedatangan eonninya itu. ada perasaan yang aneh yang ia rasakan saat itu.

“Eonni kesini buat menjemputmu”,Yoona terkejut. Ia tidak mengerti dengan maksud sang eonni.

“Iya, eonni minta bantuanmu karena kau yang paling dekat dan sedang tidak ada kerjaan”.

TaeYeon memberitahukan maksud kedatangannya yang sebenarnya pada Yoona. Maksud untuk meminta bantuan Yoona menyiapkan segala keperluan untuk pesta malam nanti.

“Aku sedang sibuk eonni”, Yoona mengelak. Ia beranjak dari duduknya dan belagak sok sibuk dengan melakukan apapun yang ia temukan saat itu juga.

“Ya ya Yoona-ah”.

TaeYeon yang sudah paham dengan gerak gerik Yoona langsung saja mengenggam tangannya dan mengajaknya untuk segera pergi.

“Arraseo eonni”.

Taktik Yoona kali ini tidak mempan. Buktinya saja TaeYeon tidak percaya dengan sikapnya yang tiba-tiba saja berlagak sok sibuk.

TaeYeon akhirnya berhasil membawa Yoona ke apartemennya. Walaupun ia tahu bahwa Yoona tidak terlalu bisa memasak, tapi setidaknya ia bisa diandalkan untuk membantunya membereskan semua yang diperlukan. Lagi pula Yoona juga sangat piawai dalam memotong makanan. Ia akan membuatnya terlihat sangat indah

To Be Continue

Bagaimana chapter satunya???? banyak perubahankan dari yang sebelumnya ehhe,..

Semoga kalian semua suka dengan perubahan ceritaku ini. 

Jangan lupa saran and kritiknya ya

Khamsahamnida

http---signatures.mylivesignature.com-54492-198-DFA94A137106D830CAD4297F5A59CA05

 

Comments
  1. theysee22 says:

    keren author, jadi senyum2 sendiri gara2 tingkahnya yoona, tp ada sedihnya juga.. pokoknya keren, bahasanya juga ringan jd mudah dimengerti^^ keep writing author, fighting!! ditunggu chapter selanjutnya^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s